Minggu, 23 Juli 2017

Chester Bennington

Jumat kemarin adalah hari yg bingung untuk sedih. Ada berita tentang al Aqsha dan Linkin Park. Keduanya sama menyedihkan, tapi untuk menampakkan kesedihan itu, kudu pilih2 juga. Sebagai generasi milenial, aku kenal banget Linkin Park. Chester Bennington, Mike Shinoda, dkk. Sebagaimana aku kenal Fred Durst, West Borland, dkk dari Limp Bizkit. Aku puber di awal 2000an man! Anak normal yg jejingkrakan dengar lagu Paparoach, sendu dengar Westlife, dan mengagumi ketabahan Dian Sastro muda menghadapi pecinta puisi bernama Rangga.

Itu hanya bagian masa muda yg tak boleh disalahkan. Apa salahnya aku ikut sedih dengan kematian Chester? Apalagi dia matinya karena bunuh diri, gak terlalu lama setelah Chris, vokalis Audioslave yg dulu lagunya aku nyanyi2in juga... oh, dunia. anehnya orang2 ini. Hikmahnya adalah, banyak hal2 di sekitar kita yg masih bisa disyukuri. Dilihat dari luar, rasanya tidak ada yg kurang dari kehidupan Chester. Kaya, populer, punya keluarga. Apa lagi? Iman yg nggak ada. Ternyata kaya aja nggak cukup. Ganteng dan populer juga bukan jaminan bahagia.

Kalo nulis ginian di FB Tigaes, bisa mampus aku diserang. Tar dikira gak sensi dengan al Aqsha. Apa harus aku sebut betapa menyedihkannya saat awal2 masa hijrah aku debat sengit dg ustadz gara2 dia cerita Palestina tapi bangga2 pake nokia? Apa aku harus sebut lagi ikhwan motivator yg enak aja nenggak coca cola sambil bilang boikot gak ngefek? Bakal banyak musuhku kalo aku aktif di FB, dijamin. Karena banyak ikhwah sabuk putih yg ngaji baru kemarin tapi jumawa macam nabi.


Berarti aku belum tobat2 amat ya. Tuh masih suka musik. Haha, jangan mancing orang utk memvonis, tar. Tulisan ini akan kubaca lagi nanti di masa tua, insyaallah kalo masih ada umur. Pada masa itu mudah2an aku makin bijak. Hidup ini berproses, biasanya yg terburu2 akan matang sesaat lalu berujung busuk. Kapan terakhir aku menikmati musik? Entah, rasanya sudah lama. Tapi masih hitungan bulan lah. Itu menikmati, kalau dengar mah hampir tiap hari. Ya namanya bermasyarakat. Masak kita mesti lempar rumah tetangga yg nyalain musik. Atau buang TV mamak yg kadang2 nyetel acara dangdut. Dan bukannya gak mungkin bentar lagi aku juga dengerin, atau malah menikmati musik. Fitrah. Ini ijtihad, utk aku sendiri. Bukan fatwa. Emang aku siapa, berani memfatwa.

Dengerin lagu lama, katakanlah, Linkin Park. Crawling yg dulu begitu merajai telinga. Utk umur2 sekarang aku akan balik ke era 2000 awal. Masa muda, memutar kaset seharga 20rb. Tidak disesali seperti org2 yg hijrah tar? Gak lah, kalo gak badung dulu gakda istilah hijrah. Cuma Nabi yg baik dari lahir.

Aku juga akan ingat Pak Anu yg sering memotivasi siswa2nya. Liatlah dia yg sabar, Pak Anu bukan muslim, tapi penyabar dan penyayang. Si bapak bagus, tapi aku gak nyambung. Kemudian terkenang anak2 Raissa, yg ghadul bashar, yg tenang, dan teguh hati. itu baru dakwah. Anak2 Raissa zaman itu gak satu pun pacaran. Santai dibully, akhirnya mereka disegani. Hampir semuanya berprestasi, jujur, dan luar biasa. Kemudian aku akan menghitung tahun2 yg telah dilewati. Lebih dari 15 tahun, dunia sudah banyak berubah. Dan sebentar lagi akan ditinggalkan.

Jangan biarkan anakmu mengulang kesalahan2mu dulu. Jangan tinggalkan mereka dalam keadaan lemah. Bersiap2lah dg kehidupan di tempat yg belum pernah kau datangi. Tanpa kejelasan nasib dan jalan kembali. Siapkan bekal, tar. Begitulah aku menikmati musik.

Sebelum ketiduran, seperti ada suara yg bicara, ajak orang berbuat baik, jangan vonis mereka. Ilmu tentang hati dipelajari utk mengukur diri sendiri, bukan memvonis hati orang. Sampaikan yg mesti disampaikan. Fokus pada proses, Allah tidak butuh sekuku pun tenagamu untuk hasil yg megah. Dia berkuasa atas segala sesuatu

1 komentar:

sila ngoceh di sini....