Minggu, 20 Agustus 2017

cerpen zaman muda #drpdnyampahinpc

SURAT UNTUK TUHAN
Syarifah Lestari

Kepadamu Tuhan, kumohon ampunan atas kebodohanku. Ajarkan padaku yang tidak aku ketahui. Bukankah Kau melihat, bahwa rabi-Mu pun tak mampu memantapkan imanku.
Kulipat rapi suratku untuk Tuhan, lalu berdoa, semoga ia cepat terbalas entah dengan cara apa. Mungkin aku Yahudi tercengeng, yang setiap hari mengadu dan menitipkan surat pada tembok ini.
Kulirik tentara-tentara bersenjata lengkap yang sehari-hari bertarung dengan bocah palestina. Mereka selalu tertawa sinis melihat kelesuan di mataku. Hidup mereka barangkali lebih warna-warni karena menikmati pekerjaan yang menjijikkan itu. Aku sadar, mereka, Sharon, bahkan David sang nabi pun manusia biasa. Mereka sering khilaf hingga mampu menyiksa, membunuh, atau berzina tanpa rasa berdosa. Kadang kucoba menganalisa, apakah para nabi yang seharusnya suci itu berlama-lama dengan sekaratnya seperti Ariel Sharon? Mungkin tidak, karena Tuhan tentunya menyayangi mereka lebih dari manusia lain. Tapi jika mereka lebih terjaga, kenapa tak mampu menghindari dosa? Kenapa David, Solomon, dan Loth berperilaku buruk? Kemudian bangsa ini, kenapa Yahudi yang dijunjung Tuhan tak lebih baik moralnya daripada bangsa lain?
Memikirkan skenario Tuhan yang unik itu, aku merasa terhempas dalam lubang gelap yang menyesakkan. Aku tersesat. Seorang Rabi pernah coba menolongku. Rabi Yohave, orang alim yang membenci Zionis. Beliau rajin mengampanyekan perang melawan bid’ah Israel Raya, karena menurutnya, Tuhan tidak pernah menyerukan pembinasaan bagi kaum lain.
Jika bukan karena skenario Tuhan yang unik—dan kadang kusebut berantakan—seharusnya aku lahir sebagai anak Rabi Yohave. Beliau lemah lembut, bahkan terhadap para Muslim. Aku punya perasaan yang sama sensitifnya dengan beliau. Aku tak suka keributan, aku membenci remaja Yahudi yang pengecut tapi sok berani. Mereka mengeroyok remaja Muslim di saat korban sedang sendiri atau sakit. Begitu juga perempuan-perempuan berpakaian apa adanya yang suka berkata kasar dan menarik hijab para Muslimah. Beginikah moral bangsa pilihan Tuhan?
Aku dan Rabi Yohave memiliki pendapat yang sama, bahwa kami yakin, penggalian masjid al-Aqsha adalah untuk menghancurkan rumah suci umat Islam itu, bukan semata-mata mencari kuil Solomon, apalagi melakukan penelitian seperti yang mereka gemborkan.
Tapi aku lahir sebagai anak seorang penjagal. Pelaku bid’ah yang merampok rumah dan membunuh seluruh penghuninya. Hingga kini aku tak tahu, apakah pemilik rumah yang kini tempatnya diambil alih oleh keluargaku itu Muslim atau Kristen. Mereka sama tak berarti di mata ayahku. Ras orang-orang di luar Yahudi sekalipun tak akan pernah setara dengan kami. Mereka ditakdirkan untuk tunduk pada bangsa ini, suka atau terpaksa.
***
Tuhan, demi cintaku pada-Mu. Jangan Kaubiarkan aku sesat. Sungguh, aku tak ingin mengkhianati-Mu. Ajarkan padaku yang tidak kuketahui.
Lagi, kutitip suratku pada Tembok Ratapan yang telah sesak dijubeli ratusan surat. Mungkin semuanya seragam, hingga Tuhan enggan membalas.
Sampai saat ini, kegamangan masih menghantui pikiranku. Kurasa bukan karena ayahku ditembak pasukan Hamas—anehnya, aku tak membenci organisasi itu secuil pun—atau ketika pamanku berkeras bahwa aku harus menikah dengan seorang putri Yahudi agar darah muliaku tidak tercemar. Aku merasakan ini jauh sebelum semua itu.
Entah kenapa, aku tak merasa lebih mulia dari manusia lainnya. Aku tak pula berhasrat untuk memukul atau sekadar melempar ludah jika berpapasan dengan bangsa atau penganut agama lain. Aku yakin mereka punya hak yang sama denganku. Aku tahu, perlawanan rakyat Palestina atas pendudukan Israel adalah hak mereka. Bahkan Khalid Misy’al dan kawan-kawannya tak hanya menganggap itu sebagai hak, tapi juga kewajiban mereka terhadap agama dan negara.
Mengingat tentang hak, pikiranku berlabuh pada gerakan-gerakan berselimut HAM yang rajin dikumandangkan AS dan Israel. Barangkali dunia sudah buta, tak sadar telah ditipu. Di sini, kusaksikan betapa Yahudi atas nama kedamaian untuk Israel membantai warga Palestina setiap hari dengan dukungan senjata dari AS. Lalu tanpa tahu malu, mereka membuat yel-yel meneriakkan cinta damai dan antiterorisme. Adakah bangsa yang lebih terlaknat dari mereka? Mungkin aku termasuk di dalamnya. Karena aku seorang Yahudi.
***
Tuhan, kuharap ini surat terakhirku untuk-Mu. Atas nama-Mu, kemuliaan para rabi, dan keyakinanku atas keberadaan-Mu, jawablah segala pinta dan keluhku. Aku selalu yakin bahwa Kau akan membaca suratku, aku mohon, jangan kecewakan aku lagi. Ajarkan padaku yang tidak kuketahui.
Kuselipkan surat kesekian ratus yang kubuat sejak aku bisa menulis. Tak ada anugrah yang lebih besar bagiku, selain balasan dari Tuhan yang kuyakini keberadaannya.
Lagi, kutoleh para tentara berseragam lengkap. Mereka tengah menjaga pintu masuk sinagog yang berada di ruang bawah tanah masjid al-Aqsha. Sungguh, aku benci dengan rumah ibadah yang hanya boleh dimasuki Yahudi itu, sehingga sebersit kilat pun aku tak pernah berniat memasukinya. Wahai Muslim Arab, di tempat inilah harta yang kalian foya-foyakan berakhir. Uang yang entah sengaja atau tidak, kalian dermakan bagi penghancuran tempat suci kalian sendiri.
Aku dan Rabi Yohave bersama ratusan orang lainnya pernah berdemonstrasi menolak penjajahan AS atas Irak, kami juga memboikot perusahaan-perusahaan yang mendukung Israel, kami mengucapkan belasungkawa atas tragedi Qana. Tapi pukulan dan caci maki yang kami terima atas semua aksi itu, ternyata tak lebih sakit rasanya dibanding ketidakpedulian yang ditunjukkan banyak Muslim Asia.
Rabi Yohave kerap mengingatkanku, tak perlu kami memikirkan ketidakpedulian—tapi bagiku kebodohan—Muslim dunia. Kami melakukan atas dasar kemanusiaan, sekaligus membersihkan nama Yahudi dari noda-noda Zionisme.
Di antara lalu lalang orang dan kendaraan, puluhan rangkai kata kurajut dan kupanjatkan pada-Nya. Aku ingin Ia mengajariku, memberitahuku, dan meyakinkanku, bahwa aku adalah seorang Yahudi beriman. Lalu Ia tunjukkan padaku, apa yang harus kulakukan untuk membersihkan nama-Nya dari fitnah yang disebar para Zionis.
***
Aku duduk seharian di depan makam-makam berjajar. Andai mayat di dalam sana bisa kuajak bicara, akan kutanyakan padanya, apa yang mereka rasakan setelah kematian merenggut mereka dari dunia. Jika lebih dari separuh mereka menikmati kebahagiaan, maka aku akan ikut memutar tangan anak-anak Palestina agar tak lagi mampu melempari tentara Israel—demi Tuhan, rasanya aku takkan pernah mampu melakukan itu!
Kudengar, surga disediakan Tuhan bagi para Yahudi. Tapi nalarku membantahnya. Apa mungkin para penghuni surga menciptakan neraka di masa hidupnya. Makam yang berjajar itu hanya membisu. Entah tak peduli, atau tak tahu.
Dalam belenggu bosan dan malas—yang menyebabkanku enggan sekolah sejak lima tahun lalu—aku masih setia merayu Tuhan untuk membalas suratku. Tapi hari ini, bosan dan malas itu bersamaan mencapai puncaknya. Aku benci bertuhankan sesuatu yang tak jelas. Dan tempat ini makin menjauhkanku dari gairah hidup normal.
Dalam renungan yang absurd, kulihat sebuah truk memasuki areal pemakaman. Aku pun menebak-nebak, apa truk itu membawa bangkai perempuan Palestina yang telah terkuak hijabnya? Rasanya tak mungkin, mana sudi Yahudi yang suci menempatkan daging Muslim hina di pemakaman mereka. Apa truk itu hendak mengangkut beberapa kubur yang ada di sini untuk dipindahkan ke al-Aqsha? Atau mereka hanya ingin mendokumentasikan gambar makam hingga sepenuh gerobak truk, untuk kemudian diekspos ke media sebagai korban kekejian teroris bernama Hamas? Aku memilih tak peduli.
Sejurus kemudian, dua orang penggali makam terburu-buru melintasiku, membuatku urung tak peduli. Jasad siapa yang akan mereka timbun hari ini? Lalu aku mendekati truk.
Oh Rabi, betapa aku benci melihat pemandangan ini. Ketika tuas pengungkit truk itu bekerja, gerobak di punggungnya menumpahkan ribuan surat yang kukenal. Aku merasa gila, bodoh, atau apa saja namanya. Surat yang kutulis hingga berlinang airmata, dengan sepenuh hati dan konsentrasi luar biasa, kini dikubur begitu saja.
“Apa Kau bersemayam di bawah sana, Tuhan? Kenapa tak Kauminta aku mengantarkannya langsung? Jika Kau Tuhan segala agama, berarti Kau kehilangan keadilan. Tapi jika Kau hanya Tuhan bangsa Yahudi, maka sungguh, aku membenci-Mu!”
Supir truk dan para penggali makam terpingkal-pingkal mendengar celotehku. Dan kukatakan pada Tuhan, bahwa Ia sudah terlalu banyak menciptakan orang tanpa otak, apalagi hati.

Untuk Palestina, semoga Allah membuka hati saudaramu yang memilih tak peduli

Minggu, 23 Juli 2017

Chester Bennington

Jumat kemarin adalah hari yg bingung untuk sedih. Ada berita tentang al Aqsha dan Linkin Park. Keduanya sama menyedihkan, tapi untuk menampakkan kesedihan itu, kudu pilih2 juga. Sebagai generasi milenial, aku kenal banget Linkin Park. Chester Bennington, Mike Shinoda, dkk. Sebagaimana aku kenal Fred Durst, West Borland, dkk dari Limp Bizkit. Aku puber di awal 2000an man! Anak normal yg jejingkrakan dengar lagu Paparoach, sendu dengar Westlife, dan mengagumi ketabahan Dian Sastro muda menghadapi pecinta puisi bernama Rangga.

Itu hanya bagian masa muda yg tak boleh disalahkan. Apa salahnya aku ikut sedih dengan kematian Chester? Apalagi dia matinya karena bunuh diri, gak terlalu lama setelah Chris, vokalis Audioslave yg dulu lagunya aku nyanyi2in juga... oh, dunia. anehnya orang2 ini. Hikmahnya adalah, banyak hal2 di sekitar kita yg masih bisa disyukuri. Dilihat dari luar, rasanya tidak ada yg kurang dari kehidupan Chester. Kaya, populer, punya keluarga. Apa lagi? Iman yg nggak ada. Ternyata kaya aja nggak cukup. Ganteng dan populer juga bukan jaminan bahagia.

Kalo nulis ginian di FB Tigaes, bisa mampus aku diserang. Tar dikira gak sensi dengan al Aqsha. Apa harus aku sebut betapa menyedihkannya saat awal2 masa hijrah aku debat sengit dg ustadz gara2 dia cerita Palestina tapi bangga2 pake nokia? Apa aku harus sebut lagi ikhwan motivator yg enak aja nenggak coca cola sambil bilang boikot gak ngefek? Bakal banyak musuhku kalo aku aktif di FB, dijamin. Karena banyak ikhwah sabuk putih yg ngaji baru kemarin tapi jumawa macam nabi.

Jumat, 07 Juli 2017

Gay

Pas puasa kemarin, ngisi waktu senggang main game di tab. Gamenya kayak novel gitu, menarik sih. Cuma faktor agama dan budaya yg bikin binun.

Latar game-nya australi atau amerika, lupa. Yg jelas dari karakter game rata2 bule. Ceritanya kita disuruh pilih karakter, trus pilih jalan cerita kita sendiri. Karena kemarin tema pilihannya cuma misteri sama romance, jadi aku pilih roman. Englishku ngepas, kalo pilih misteri bisa batal puasanya. Capek mikir!

Entah karena nge-link ke gmail atau memang karakter bawaan dari gamenya, aku jadi cewek di situ. Kalo di game Criminal Case aku pilih cowok, karena karakter cewek gakda yg cantik. Masak di dunia nyata sama maya sama2 gak cakep, kapan lagi bisa semena2.

Nama tokoh kukasih bontet, di buku berikutnya buntel. Ada gitu, cewek bule namanya bontet/buntel? Tapi narator game bilang, amazing! Tamat buku 3 gak nyambung lagi. Eneg.

Di buku pertama bontet dijodoh2in sama penulis utama (yg bikin game) dg cowok terganteng di antara stok karakter. Karena aku gak suka yg standar, setiap ada pilihan aku pilih yg bikin hubungan mereka buruk. Cukup berhasil. Jadinya bontet pacaran sama cowok kulit hitam. Padahal kalo di dunia nyata paling ngejar yg ganteng tadi, asal tampang asliku juga kayak bontet di game. Tapi aku gak ngayalin sejauh itu kok, kehidupanku di dunia nyata sudah sangat amat baik.

Kamis, 06 Juli 2017

Dari Hati

Ada orang yang bilang, jilbab itu tidak wajib. Gak enak nyebut namanya langsung, inisial aja ya. Inisialnya Quraish Shihab. Wkwkwk...

Gara2 lebaran dia jadi khatib, kabarnya istiqlal gak serame tahun2 sebelumnya. Terserah aja, di Nurussalam aja aku bertahun2 gak dapet solat mulu. Apalagi di Madinah. Apaan sih lu tar?

Nah, jadi, pas baca apa namanya yg muncul di fb itu. Punya Tigaes. Ada yg kirim video uwak quraish ini di semacam talk show gitu. Oia, sebelumnya kan beredar kabar ulama metro tipu itu pernah bilang bahwa Nabi Muhammad saw tidak dijamin masuk surga. Sebenarnya—kita diwajibkan adil ya—aku pernah dengar hadits yg intinya juga lebih kurang begitu. Gak tau juga sih persisnya ucapan si uwak, cuma yang aku pernah pelajari, Nabi saw bilang bahwa tidak ada manusia yang masuk surga karena amalannya, tapi karena kasih sayang Allah. Termasuk beliau sendiri. Apa maksud quraish itu ya? Allahua’lam.

Balik lagi ke video uwak quraish tadi. Di situ ketika ditanya tentang jilbab, dia jawab bahwa salah satu anaknya mau pake jilbab tapi dia bilang harus dari hati. Total keliru ini! Jilbab itu dari toko, bukan dari hati. Trus katanya orang harus baik dulu hatinya baru berjilbab, itu poin pertama.