Kamis, 29 November 2012

Xpress writing

Konon, di sebuah kamar kos yang lengang, seorang laki-laki tengah berdoa, “Ya Allah, berikan padaku istri seperti Aisyah binti Abu Bakar.”

Kala itu, matahari pelan-pelan memudar di barat, Maghrib segera bertandang. Si laki-laki baru saja menuntaskan Asharnya. Sangat terlambat memang, tapi begitulah, game bola tak boleh ditinggal, bisa mati dia jika tidak berbuat sia-sia.

Ketika si laki-laki mengucap amin dan mengusap wajahnya, datanglah malaikat ke hadapannya. Laki-laki muda itu girang bukan kepalang. “Kau datang memberi kabar gembira bukan?” tanyanya gembira.

“Aku bawa ini,” jawab malaikat itu langsung.

Dari balik jubahnya, si malaikat mengeluarkan sebuah benda berkilau; cermin.

“Ini!” serunya sembari menghadapkan cermin tersebut pada si laki-laki. “Apa kau lihat Muhammad bin Abdullah di sana??”

Selasa, 20 November 2012

bahan novel

PELECEHAN SEKSUAL

Pasti serem dengar istilah ini, ‘pelecehan seksual’. Percaya gak percaya, dan aku juga baru ngeh kalau itu sebuah pelecehan setelah tua gini; pelecehan itu terjadi tepat di depan mataku di smp!

Sebuah smp swasta, rumah kasih sayang namanya. Aku anak baru di kelas 2. Kelas kami paling bawah, persis kandang tikus (tiap pagi aku nemu bangkai tikus segede kucing, trus kuangkat ekornya sambil nguber2 kawan yg langsung teriak2 lintang pukang—dak lucu, tapi jahat!—baru sadar jg).

Tersebutlah namanya hariapa, eki, dan piti. 3 anak ini gak cantik, tapi semok! Di luar mereka, byk anak perempuan yg cantik, tp ya kerempeng, atau gendut2 gaje mana pinggang mana perut. Entah mungkin emang bawaan hormon, atau bawaan takdir, trio semok tadi pd ganjen. Keknya gak kebayang deh, di kota jambi yg kata widas—co. Fgd jambi—terpencil, ada anak smp, di tahun 98an yg sudah tau, bahkan masuk bar malem2. Aje gile!

Ni anak 3 sering banget masuk sekolah dg plester di leher. Sumpah, dulu aku gak ngerti itu utk nutupin apa, kirain gaya2an. Untung gak kepikiran niru, hyaaa!

Senin, 19 November 2012

cerpen rijek


GULING HANTU
 
Kika punya adik! Ia dan abangnya, Fandy, senang bukan kepalang. Setiap bangun tidur dan pulang sekolah, mereka berdua pasti langsung bermain dengan adiknya yang masih bayi. Ibu dan Ayah memberinya nama Chisa, tapi bayi perempuan yang putih dan gemuk itu mereka panggil Si Bungsu.
Tante Nia, adik ayah Kika, baru saja pulang dari melihat Chisa, ketika Fandy datang. Ia baru pulang dari sekolah, sedangkan Kika langsung pergi les tambahan. Maklum, Kika sudah kelas 6, sebentar lagi menghadapi Ujian Nasional. Sedangkan Fandy duduk di kelas 2 SMP.
“Wah, Si Bungsu dapet guling baru, ya?” goda Fandy, melihat sepasang guling putih polos di sebelah adiknya.
“Itu dari Tante Nia, Bang.” Ibu bersuara, seolah-olah itu jawaban Chisa.
“Kok warnanya putih polos begini, Bu?” tanya Fandy heran, karena ia biasa melihat guling kecil yang berwarna-warni dengan berbagai motif lucu.
“Kata Tante, itu untuk mengukur kadar kotornya guling. Ada banyak sarung di kotak di sebelahmu itu.” Ibu mendekat pada kotak yang dimaksud, lalu mengeluarkan satu sarung bantal. “Nah, lucu kan!” tunjuk Ibu pada Fandy.
“Kain ini bahannya tipis, kalau terkena debu atau kotoran lain akan tembus ke dalam dan mengenai kain yang itu.” Ibu menunjuk guling di tangan Fandy. “Kalau sudah terlihat noda, berarti sarung luar harus diganti.”
Fandy manggut-manggut. Tapi ia bukan sedang takjub dengan penjelasan Ibu. Sebuah ide melintas di benaknya.