Jumat, 20 April 2012

Pangeran dengan Dua Bekas Sujud

K
ulihat lagi siluet wajah itu. Rambutnya, rahangnya, dagunya..., dia tampan! Tertunduk malu-malu ia mendekatiku. Dua bekas sujud di dahinya membuatku merasa nyaman.
Aku terbangun, dan kembali gelap kudapat. Bayangan pangeran itu lenyap ditelan serba hitam.
***
“Kau yakin dengan pilihanmu, Sekar?”
“Yakin, Mas,” jawabku memenuhi pertanyaan Mas Sukri.
Sejenak hening. Kudengar helaan napas yang berat. Sepertinya Mas Sukri gundah.
“Kenapa, Mas?” tanyaku.
Mas Sukri tak menjawab. Kurasakan tangannya membelai kepalaku.
“Mas tidak menyukainya?” aku bertanya lagi.
“Bukan, bukan itu.”
Kembali tangan Mas Sukri berada di kepalaku. “Kau cantik, tapi apa pun yang membahagiakanmu akan membuatku merasakan hal yang sama.”
Nalarku tak mampu mencerna ucapan Mas Sukri, kubiarkan ia berlalu setelah perbincangan singkat itu. Sahid, pemuda yang kulihat hampir di setiap malam adalah pilihan paling tepat menurutku. Ia saleh dan tampan.
***
Sahid duduk menyejajariku, dari tadi tatapannya tak berpindah dari tanah yang ia pijak. Aku dan Sahid salah tingkah, kami seperti remaja! Remaja kadaluarsa.
Aku terbangun lagi, dan Sahid hilang lagi. Pangeranku terbenam dalam gelap yang kudapat setelah terjaga.
“Sahid...,” bisikku.
“Ini aku, masmu.”
Kudengar suara berat Mas Sukri, ia pasti hendak membangunkanku untuk salat Subuh, kebiasaan yang ia lakukan sejak orangtua kami meninggal. Pintu kamarku yang tak berdaun memudahkan Mas Sukri masuk. 
“Sudah pagi, Mas?”
“Ini sepertiga malam terakhir. Salatlah, Sekar. Minta yang terbaik pada Tuhan!”
Aku bergerak perlahan, coba beranjak dari tempat tidur. Sungguh, aku menyongsong gembira Sang Penggenggam Jiwa. Ada saat-saat haru ketika kuminta pada-Nya untuk memperlihatkan keadaan orang-orang yang diajukan Mas Sukri padaku. Dan kudapati saat-saat indah ketika pintaku dikabulkan-Nya pada hampir setiap malam. Siluet wajah Sahid, hanya ia yang diperlihatkan Tuhan untukku.
Dalam sujud, kupercayakan mata batinku untuk melihat lebih jauh, merasakan lebih dalam, dan meraba-raba hati Sahid melalui kuasa-Nya. Aku merasa tertuntun, terjaga, dan mantap untuk memilih Sahid daripada Anton, Ilham, atau Ferhat yang Mas Sukri jagokan.
Empat laki-laki itu, kata Mas Sukri bersedia menikahiku, meski tahu keadaan dan kekurangan gadis lewat usia ini. Secara fisik Mas Sukri tak pernah menceritakan keadaan mereka padaku. Ia hanya bilang, Anton, Ilham, Ferhat, dan Sahid adalah orang-orang baik. Itu saja.
“Mas, aku sudah siap. Tolong kabarkan keputusanku ini pada Sahid.”
Entah bagaimana reaksi Mas Sukri, tapi kurasakan embusan keras napasnya tepat di depan mukaku. 
***
Keluarga besarku ramai terkumpul. Uwak, Bibi, dan seluruh kerabat almarhum kedua orangtuaku telah memenuhi undangan Mas Sukri.
Ini seperti sebuah reuni, mereka berbincang tentang apa saja. Tentang warisan Bapak untukku, garis wajah Ibu yang tersalin persis di wajahku, tentang sepupu, keponakan..., juga mengenai keengganan Mas Sukri beristri sebelum aku, adiknya, menikah. Tapi mereka sama sekali tak menyinggung soal pernikahanku, apalagi tentang Sahid.
Kudengar suara adik bungsu Ibu bercerita penuh semangat, ia tengah membeberkan rahasia keberhasilan suaminya memecahkan sebuah misteri pembunuhan seorang artis. Pamanku anggota Polisi Intelejen. Belum sempat bibiku menutup ceritanya, Uwak menyambung dengan cerita haru tentang kegagalannya memanen padi akibat banjir yang menenggelamkan segala tanaman di sawah.
Aku hanya menjadi pendengar setia, terkantuk-kantuk menikmati derai tawa bercampur haru dalam nada-nada tak beraturan yang meluncur dari beberapa lisan. Hingga kemudian, kusaksikan Sahid datang tanpa suara. Ia membawa sebuah novel dengan huruf braile, sebagai mahar pinangannya. Tapi, bukankah waktunya masih satu bulan lagi?
Sahid duduk tepat di depanku, wajahnya terlihat jelas, membuat dadaku bergemuruh. Ada apa dengan wajah itu? Matanya putih polos, hidungnya cacat, bibirnya tak sempurna, bahkan banyak lubang di kedua pipinya.
“Rabb...,” aku mendesah gundah.
“Sst!” kudengar desis seseorang. Membuatku berpikir untuk tetap diam.
“Dia bangun?” bisik Bibi entah pada siapa.
Tidak ada suara.
“Kenapa kautawarkan Sahid padanya?” suara Uwak dengan tekanan nada yang kuat.
“Aku sama sekali belum menceritakan keadaan mereka, apalagi menawarkan. Aku hanya bilang ada empat laki-laki yang bersedia menikahinya. Anton, Sahid, Ferhat, dan Ilham,” Mas Sukri terdengar berbisik.
“Lalu bagaimana bisa Sekar memilih Sahid?” kali ini suara sepupuku.
“Entahlah, Sekar bilang ia berkali-kali melihat Sahid dalam mimpinya.”
“Mimpi, hari gini percaya mimpi?”
“Tingkat spiritualnya berada di atas kita. Ia berdiri untuk salat saat kau terlelap, ia berpuasa ketika kau berebut makanan. Bagaimana aku meragukan firasatnya?
“Sudahlah. Apa pun sebabnya Sekar menentukan pilihan itu, semua di luar kehendak kita. Sekarang, bagaimana cara kita membatalkan pernikahan mereka?” ungkapan Uwak yang kukira bijaksana menohok hatiku.
“Tidak perlu dibatalkan, kita tanyakan dulu pada Sekar!” Mas Sukri menolak.
“Bagaimana ini Sukri, bukannya berkali-kali kau menanyakan kesungguhannya?”
Hening.
“Baik. Tega tak tega, segera kaujelaskan keadaan Sahid pada Sekar. Tentang matanya yang juga buta seperti Sekar, bibirnya yang sumbing sehingga bicaranya sulit dimengerti, hidungnya yang patah, bekas cacar di kedua pipinya....”

LANJUTANNYA... DI SINI atau DI SINI

WAJIB HADIR!!


SYARIFAH LESTARI NERBITIN BUKU! HWAAA, KEREN. AKU NGEPENS BANGET SAMA DIA. HADIR YOK, AJAK KAWAN SEBANYAK2NYA!. 
OIA, SELEB JUGA KADANG2 GDA YANG KENAL. KALO BELUM NGEH SIAPA ITU SYARIFAH LESTARI, CEKIDOT DEH DI SINI