Rabu, 14 Maret 2012

naskah lomba, entah apa kabarnya


Koran dan Tears of Gaza
Syarifah Lestari

Perdebatan yang sangat alot di pagi hari. Seperti hari-hari sebelumnya, lobiku gagal. 

Seorang kawan kuminta bantuannya untuk mengunduh film Tears of Gaza dari warnet. Maklum, di rumah, kami menggunakan modem portabel, bisa nangis jika dipakai mengunduh video. Nah, karena kesulitan mendapatkan film itu, kawanku jadi mendadak agak perhitungan. Ia wanti-wanti agar video tidak beredar ke mana-mana.

File video di-burn ke keping CD. Untuk ditonton, file tidak perlu disalin ke disk laptop atau komputer lain, biar akses langsung dari CD tersebut. Jika ingin meng-copy, harus ganti biaya unduh. Hff! Apa bedanya dengan membajak.

Sedianya film itu akan diputar pada acara nonton bareng di sebuah rohis salah satu SMA di kotaku, Jambi. Aku pun berpikir keras, menyusun kalimat yang pantas untuk menolak adik-adik rohis yang bisa dipastikan ingin menyalin file video itu ke laptop atau flash disk mereka, untuk ditonton kembali di rumah atau di tempat lain bersama keluarga atau kenalannya di luar rohis. Bukankah itu peluang pahala yang luar biasa, pikirku.

Maka kuusulkan pada kawanku yang mengaku ‘seharian’ mengunduh video itu, bagaimana jika untuk menyalin video Tears of Gaza dari hasil unduhannya, mereka harus infak ke Mer-C  (Medical Emergency Rescue Committee) atau Kispa (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina). Ia setuju usul infaknya, tapi tetap tak mengizinkan menyalin file. Persetujuan model apa itu?!

Lalu kuingatkan kembali ia pada janji Allah akan pahala yang berlipat ganda, lalu tentang ‘ikhlas’nya orang-orang batil yang menyebarluaskan video porno, dan membandingkan perjuangan mengunduhnya yang satu hari dengan tim pembuat film yang mungkin berbulan-bulan menyelesaikan film tersebut di bawah ancaman roket zionis. Aku berharap pada Allah yang berkuasa membolak-balikkan hati.

Tapi hidayah adalah hak-Nya. Kandas.

Ya sudah, kukembalikan saja padanya keping CD yang terlalu disayang itu. Bismillah, kuluruskan niat membagi ilmu karena Allah. Pasti ada jalan keluar, tekadku tanpa membatalkan acara nobar bersama adik-adik rohis.

Badmood mau tidak mau terbawa dalam perjalanan. Tapi di sebuah simpang empat, seorang albino penjual koran menerbitkan ideku. Bukankah sedekah dapat melepaskan kesulitan, maka kutepikan sepeda motor. Terjadi jual-beli singkat, kemudian kudapati wajah gembira penjual koran yang kegirangan karena aku tak mengambil uang kembalian. Ya Allah, aku tidak bernazar, tapi amal yang tak seberapa ini kuawalkan untuk janji kemudahan dariMu, kataku dalam hati.

Nonton bareng film Tears of Gaza dijadwalkan pada Jumat, 17 Februari 2012 jam 11:30. Jumat pagi hari itu, dari kantor aku berjalan kaki mencari warnet. Tanpa makan waktu lama, kutemukan satu di depan sebuah SMP Negeri.

Warnet Ayu. Sepi karena masih pagi, jam 9, anak-anak sekolah sedang dalam jam belajar. Aku duduk di depan salah satu monitor, lalu membuka halaman 4shared. Setelah mengetik ‘tears of gaza’ pada kolom search, browser mozilla mengantarku pada alamat yang diminta. Unduhan berjalan, tapi sebagaimana anak-anak sekolah yang tidak memenuhi warnet karena sedang belajar, aku pun tengah terikat jam kantor.

Ini kali pertama aku memasuki warnet itu, dan tak kenal sama sekali pada operatornya. Tapi berprasangka baik sajalah. Kutitipkan flash disk pada operator, dan berpesan padanya untuk menyimpan hasil unduhanku setelah selesai nanti. Satu  jam ke depan file tersebut akan kujemput, pesanku pada operator, karena kulihat perkiraan waktu unduh sekitar 59 menit lagi dari aku meninggalkan komputer.

Kembali ke kantor, semua berjalan seperti biasa. Tugas mengetik surat, desain spanduk, dll kuselesaikan. Alhamdulillah HP-ku ketinggalan, jadi lebih konsentrasi bekerja, efisiensi waktu pun lebih terjaga.

Jam 10 lewat, aku kembali ke warnet untuk mengambil file unduhan. Sama sekali tidak ada masalah. Operator menyelesaikan tugasnya dengan baik, hasil unduh sempurna, dan aku hanya mengeluarkan biaya 4000 rupiah!

Setiap hari Jumat, pukul 10:30 jam kantor selesai. Aku keluar pada jam 11 lewat dengan pertimbangan, adik-adik rohis tentu masih menyiapkan tempat dan peralatan nobar.  Benar saja, tiba di sana mereka masih asik mengutak-atik laptop dan merapikan duduk penonton.

Maka tak lama setelah aku datang, film pun diputar.

Serba keterlaluan di Palestina memang tidak tergambarkan dengan kata-kata. Kengeriannya tidak bisa diwakilkan dengan kalimat pada paragraf mana pun. Hanya isak tangis dan teriakan penonton yang bisa kutuliskan. Bukan karena kesadisan film, tapi kesadisan fakta yang didokumentasikan oleh orang-orang hebat, semoga Allah memberi hidayah pada mereka.

Usai film diputar, seorang adik bertanya, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Gaza dan Palestina? Inilah pertanyaan yang memang sangat kuharap keluar dari mulut mereka.

Satu, beritahu fakta ini pada banyak orang, kataku. Penjajahan oleh Israel telah berlangsung sejak 1948, tapi entah tidak banyak yang tahu, atau tidak banyak yang peduli. Maka salinlah file itu, ia memang dibuat untuk promosi (tertera di tayangan video), bagikan pada orang-orang.

Kedua, donasi. Jika tidak mampu transfer sejumlah uang, gerakan sms saja. MERC PEDULI ke 7505, sedikit memang, tapi bayangkan jika ada sejuta orang yang melakukan hal yang sama. Bukankah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta. Ketiga, boikot produk-produk pendukung Israel. Keempat, doakan saudara kita agar dikuatkan dan diistiqomahkan.

Setelah closing, haru menyeruak di dadaku. Tapi hanya Allah dan aku yang tahu. Berbagi memang tidak harus selalu berupa materi, tapi ilmu sejatinya jauh lebih berharga dari harta benda. Di saat orang lain dengan segala kelapangan hati mau berbagi ilmu yang mendekatkan pada neraka, kenapa harus bakhil membagi jalan ke surga. Semoga adik-adik peserta nobar tak lupa pada pesanku yang terilham begitu saja. Bukan kebetulan, tapi ada yang menitipkannya di dadaku, yang semoga aku sendiri mampu melaksanakan tuturku.