Selasa, 28 Februari 2012

waktu aku muda (tulisan marah2)


JAMAAH PENGKHIANAT

AUF… (ana uhibbuki fillah, pen) di ujung sms. Mungkin gombal, tapi aku menyukainya, dan berdoa semoga kata penutup itu bukan sekadar di lisan saja. I love you dalam bahasa Arab itu sering kudapat dari pesan-pesan yang dikirimkan para akhwat, teman-teman luar rumah yang mengaku saudara. Meski tak begitu sering mengumbar kata cinta, tapi kuakui, aku pun sangat mencintai mereka.

Barangkali cinta yang terjalin di antara kami belum sepenuhnya dilandasi keikhlasan karena Allah. Terbukti, waktu mampu memilin dan kemudian mematahkannya. Tumpukan-tumpukan khilaf ternyata tak cukup hanya diusap dengan kata ‘afwan’.

Siang yang terik. Usai transfer ilmu pada para siswa di sebuah lembaga pendidikan, aku meluncur ke sekretariat salah satu organisasi. Menurut rencana, akan diadakan rapat agenda terdekat yang sebelumnya sempat ditunda hingga dua pekan karena jadwal pengurus tak kunjung klop. Tak beda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku datang lebih dulu dan mendapati sekretariat masih kosong. Padahal aku datang lewat setengah jam dari waktu yang ditentukan. Karena lapar dan mengantuk, tak ada daya rasanya untuk sekadar berdecak kecewa. Lalu setelah mengunyah cemilan yang kubawa, lelap pun menenggelamkan hingga beberapa menit lamanya.

Adzan Jumat dari masjid-masjid bersahutan terbawa angin hingga ke sekretariat. Aku terbangun. Kulirik jam di tangan, pukul 12.30. Masih sepi. Allah, ini sudah kesekian puluh-kalinya terjadi. Siapa pun tak mungkin menyukainya. Tapi bisa apa, mereka yang mengaku saudara itu ternyata tak merasa bersalah membuatku menunggu selama ini. Dua panggilan telepon yang kemudian masuk ke hand phone-ku bukannya mengobati kekesalan, justru sebaliknya. Keduanya malah bertanya, Sudah ada yang datang? Seolah aku yang mereka minta memimpin organisasi ini adalah umpan. Jika yang datang ramai, mereka ikut hadir. Jika tidak, dia tak perlu datang dan aku dipersilakan pulang.

Puluhan kali terjadi, aku menunggu hingga lebih dari satu jam! Rabb, aku mohon ampun jika kali ini tak mampu mendustai, bahwa aku benci mereka. Semoga untuk hari itu saja.

Lalu aku pulang. Sebentar lagi jam istirahat yang kukorup lebih awal akan habis. Bersama lapar, kutinggalkan sekretariat yang menjadi saksi: aku kehilangan keikhlasan.
***
Keikhlasan dapat hilang karena pujian yang berlebihan, ketiadaan penghargaan, dan respon yang buruk dari sekitar. Ini memang hanya analisa pribadi, tapi pengalaman dan pengamatan paling tidak bisa menjadi modal sebuah kesimpulan. Mudah-mudahan tidak keliru dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kadang tanpa sengaja, terhitung butiran peluh yang terkuras untuk sebuah amanah. Atas nama dakwah, segala keperluan pribadi terpinggirkan. Ketika mengerjakannya, sama sekali tak terpikirkan masalah upah. Hanya berdoa, semoga Allah ridha. Tapi apa lacur, tonggak-tonggak yang seharusnya bisa menjadi tempat bersandar, berbagi ide dan cerita, justru merebahkan diri dan pergi tak peduli. Bosan, kecewa, benci serta muak memenuhi dada dan kepala. Tak cukup satu dua hari untuk menyembuhkannya. Rasanya ingin lari. Pergi saja tinggalkan amanah itu! Toh tak ada yang peduli. Lagipula, tanpanya aku tak rugi, dan dengannya tak pula aku untung. Lalu aku futur….

Karena pengkhianatan mereka, aku pun berkhianat. Padahal ada banyak keputusan yang kami ambil bersama. Yang artinya, kami siap melaksanakan dan mempertanggungjawabkannya. Tidak hanya di sini, di hadapan anggota dan pengurus pusat, tapi juga di hadapan Allah kelak. Terserah bagaimana dengan mereka. Aku hanya berpikir, hujjah mana yang mampu kujadikan tameng atas kepemimpinanku akan diri dan amanah?

Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata dusta, bila berjanji ingkar, bila dipercaya khianat (HR. Bukhari & Muslim).

Muslim mana tak familiar dengan hadits di atas? Mengingat ucapan beliau (saw) itu, aku beristighfar berkali-kali agar tak memvonis siapa pun sebagai munafik. Bukankah orang-orang munafik adalah penghuni dasar neraka yang kekal di dalamnya. Na’dzubillah tsumma na’udzubillah.

Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji (HR. Ahmad).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS. Al-Anfal [8]: 27).

Ya, aku mengetahuinya ya Allah. Itulah sebab, kenapa aku kerap menangis karena takut berkhianat atas amanah yang Kau-pikulkan. Sementara Kau telah memberi segala fasilitas berupa kesehatan, kesempurnaan fisik, dan ketidakkurangan materi. Dan Kau pun memastikan kemampuanku berada di atas ujian yang Kauberikan. Tapi aku manusia yang berkumpul dalam jamaah manusia. Hamba-hamba yang lalai meski telah Kau-karuniakan kesehatan akal.

Tulisan ini adalah salah satu karya yang kubuat dalam keadaan marah. Aku menyukai tiap nada ketikannya yang deras meski tak beraturan. Ini bukan masalah karakter, marah pun berguna untuk mempertahankan izzah. Aku tak hendak memaki siapa pun, tak pula mencela diri yang kurang mampu memperbaiki keadaan sekitar. Semua sudah tercatat. Aku telah berupaya semampuku, sebagaimana dengan kesanggupan maksimal itulah manusia bertakwa. Soal hasil, biar Dia yang tentukan.

Semua kuserahkan pada-Nya. Aku mundur. Aku memilih berdiam, entah untuk sementara atau selamanya. Jika orang-orang sepertiku digolongkan sebagai dai yang gugur di jalan dakwah, maka pihak yang menjadi penyebab tentunya tak lepas dari bagian itu, karena mereka punya andil menggugurkan para dai dari jalannya.

Semua harus instrospeksi.

Memang tak selamanya semua berjalan lancar. Mungkin ini aral tempaan, proses pendewasaan bagi seseorang yang mengaku cinta Tuhannya, dan bersedia berkorban apa saja untuk-Nya. Maka, apalah arti sekadar berkorban perasaan.

1 komentar:

sila ngoceh di sini....