Minggu, 19 Februari 2012

CatAtaN JadoEL


AMNESIA

Pada tayangan Metro 10 di Metro TV, disebutkan bahwa karya sastra yang paling melekat dalam benak pembaca Indonesia adalah AKU, milik Chairil Anwar. Diikuti oleh Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta pada urutan kedua dan tiga. Selebihnya, empat sampai sepuluh didominasi oleh karya sastra lama. Ada Layar Terkembang, Kasih Tak Sampai, Salah Asuhan, dll.

Entah ini indikasi dahsyatnya kekuatan karya pujangga baheula, atau karena dunia literasi Indonesia yang memang sangat terbatas. Apa pun itu, paling tidak masyarakat masih ingat pada karya-karya lama, meski para penulisnya telah tiada.

Berbagai penelitian memang membuktikan, orang yang suka (baca: rajin) membaca memiliki daya ingat lebih kuat dibanding yang tidak. Wajar kiranya, para penikmat sastra masih dibayangi pengalaman mereka membaca karya lama meski karya kekinian telah membanjiri pasar.

Menilik kondisi Indonesia dengan minat bacanya sangat mengkhawatirkan, dapat ditarik kesimpulan, bahwa daya ingat kita pun sangat lemah. Ini sungguh terbukti, dengan kondisi umum masyarakat yang sangat pelupa. Tidak ada pengalaman yang diamini traumatik oleh mayoritas penduduk, pun itu telah terjadi selama 32 tahun. Lebih dari seperempat abad.

Kelemahan berjamaah ini kemudian melahirkan peluang yang kemudian diambil oleh para ahli bersiasat, sehingga banyak yang mengangkat ‘kejayaan’ lama Indonesia sebagai bahan kampanyenya. Para pemilih lupa, pada ribuan kasus tersembunyi. Pada kisah penculikan, pembantaian, korupsi, monopoli usaha, intimidasi, dll, dsb.

Mungkin politik tak punya kedekatan dengan sastra. Politik lebih banyak memiliki prinsip-prinsip yang sama dengan ekonomi konvensional, yang berutang sengaja melupakan utangnya. Yang diutangi, segan, atau mungkin takut menagih piutangnya. Kasian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....