Sabtu, 28 Januari 2012

Sekolah Menulis 'Aifah


Benarlah bahwa ilmu tidak akan berkurang jika dibagikan pada orang lain, justru akan bertambah. Jam 9 tadi ngisi kelas nulis anak di sdit nurul ilmi. Seperti pertemuan2 sebelumnya, tiap pulang aku dapet oleh2 ide. Anak2 tau gak ya, ide mereka tu sering kucuri, hyaaa.
Tapi biarpun ada seribu orang nulis dengan ide yg sama, niscaya akan menghasilkan seribu cerita yg berbeda. Tapi gak juga sih, kalo sembilan ratus sembilan puluh gak selese nulisnya, berarti cuma ada 10 cerita dong, halah!
Untuk yg mo nulis, mo cari duit, sila mampir ke blog Sekolah Menulis ‘Aifah

Sabtu, 14 Januari 2012

tulisan masa muda, ditemukan dalam keadaan "berdebu"


Ada berbagai teori dikemukakan beberapa tokoh seputar da’wah. Dari tulisan-tulisan Hasan al-Banna yang telah almarhum, sampai teman-teman seperjuangan yang kalimat-kalimat mereka mungkin hanya copy-paste dari buku seseorang, atau memang asli pemikiran mereka tapi tak satu orang pun berpikir untuk membukukannya. Isi teori mereka lebih kurang sama. Kalau tidak AB, ya BA, atau ABA, BAA, ABB, dst.

Menyusun sebuah teori, meski bukan hal mudah, juga tak teramat sulit dibanding aplikasinya. Sekian banyak teman mengeluhkan teman-teman yang lain karena sering lalai terhadap amanah, sementara orang yang mereka maksud—meski ybs tidak menyebut namanya, tapi saya tahu siapa saja—adalah para aktivis dengan sederet pengalaman mengisi berbagai agenda. Oya, mereka hanya mengisi hal-hal berbau teori. Ceramah panjang yang membosankan, tentunya.

Saya pernah membaca sebuah hadits, dan seperti biasa, ada kesalahan fatal yang sampai sekarang sulit saya perbaiki: lupa mengingat siapa perawi dan tak mencaritahu sanadnya. Entahlah, apakah hadits tersebut tergolong dhaif, hasan, atau shahih. Bunyinya lebih kurang: “Perpendeklah tausiah!”

Jika hadits di atas derajatnya berada pada tingkatan yang pantas (bukan dhaif, munkar, dsj), mungkin Rasulullah saw khawatir umatnya terjebak pada tindakan tak bertanggungjawab, salah satunya suka mengobral teori, sementara ia sendiri tak melakukannya bahkan sebesar biji sawi. Na’udzubillah.

Dalam pembukaan berbagai acara, beberapa teman di organisasi lebih suka membacakan awal surah ash-Shaf atau pengujung surah asy-Syu’ara. Ayat-ayat yang dimaksud dari dua surah itu adalah penegasan tentang kebencian Allah pada orang-orang yang tidak melakukan apa yang ia sampaikan. Sayang, sepertinya banyak teman yang enggan membaca terjemah Quran sementara mereka mengaku tak paham bahasa Arab.

Berkaca pada diri sendiri, ada banyak hal yang terlewat untuk dikerjakan. Sementara ada banyak omong besar yang menguap ke langit tanpa disaksikan makhluk Allah yang lain aplikasi dari segala keroyalan nasihat itu. Apakah kita suka, mendengar lantunan teori ideal dari seorang yang cacat sifat amanahnya?


Kepada para ikhwan, yang fasih bertausiah,
 tapi tertatih-tatih mengemban amanah sebiji sawi