Kamis, 08 Desember 2011

Saya Punya MIMPI SEJUTA DOLAR!




Seorang kawan melongok ke kantor, “Kepala sekolah masuk dak?” tanyanya.

Saya menggeleng sambil tersenyum kecut. Penantian kami akan gaji yang tak kunjung datang, pupus lagi. Kepala sekolah belum masuk sejak kemarin, padahal gaji sudah ditunda lima hari. Saya sih sudah tahu, kepsek sudah meng-SMS, beliau baru bisa masuk tanggal 8, berarti gajian mundur seminggu.

Bersama SMS itu, kepsek minta saya merekap absen karyawan dan guru, kemudian menghitung tunjangan dan potongan ybs, untuk mempercepat dan memudahkan pemberian gaji ketika beliau masuk nanti.

Saya lakukan. Menghitung gaji seluruh karyawan, dari yang paling lama bekerja sampai yang baru kemarin bergabung. Setengah jalan proses hitung-menghitung, setan berbisik, “Kasian ya kamu, nguli dua tahun tapi gajinya di bawah yang baru sekian bulan masuk.” Saya istighfar, setannya pergi sebentar.

Dalam helaan napas berikutnya, setan yang tadi terusir, datang kembali. Ia membawa serombongan pembisik sakti. Pelan-pelan saya terpancing, lalu mengambil pulpen dan buku catatan yang biasa saya bawa ke mana-mana.

INI MIMPIKU!! (betul-betul ada di buku hijau hardcover saya, ditulis beberapa jam sebelum saya mengetik naskah ini.)

Penerbitan & Percetakan. Dua kata ini sudah saya tulis di whiteboard kamar, berjajar dengan rencana umrah, yang sampai saat ini tabungannya masih berupa niat.

Penerbitan & Percetakan, yang di dalamnya terdapat kegiatan sosial, baca buku gratis, pelatihan menulis pekanan… tiba-tiba semua tertulis sebagai draft proposal usaha. Saya lihat wajah keki para setan, mereka membubarkan diri.

Selanjutnya, saya mengontak seorang bapak yang sejak lama memprovokasi saya untuk punya usaha sendiri. Beliau pernah menjadi investor FLP Jambi ketika saya mengetuainya. Maka saya tawarkan hasil renungan yang berawal dari luka batin itu. Beliau minta dikirimkan proposal ke emailnya. Satu pertanyaan sebagai penutup diskusi kami, “Kapan Tari mau mulai?” Pertanyaan menantang yang sebenarnya bikin jiper.

“Segera, setelah Abang setujui!” jawab saya memantapkan hati.

Sebuah rumah baca yang juga membuka pelatihan menulis rutin adalah mimpi saya sejak lama. Gunanya, sebagai stimulus bagi siapa saja untuk banyak membaca, kemudian terinspirasi dan termotivasi untuk menulis, lalu sebagai fasilitator (juga bisnismen), saya terbitkan karya mereka. Saya sendiri juga ingin sekali nyemplung total di dunia perbukuan, tanpa harus berbagi waktu dengan pekerjaan rutin kantoran. Tapi nasib memang kadang terlalu perkasa untuk ditaklukkan.

Mimpi saya itu sebenarnya sederhana, tapi karena modalnya tak terjangkau, maka ia jadi sesuatu yang luarbiasa. Modal dana yang sebagian besar insyaallah ditanggung orang lain tidak sebesar pengorbanan saya yang harus meninggalkan pekerjaan tetap sebagai tenaga tata usaha. Ini akan jadi baku hantam yang seru antara saya dan nasib.

Untuk menghibur hati, sekaligus menguatkannya yang (jujur) masih goyang-goyang, iseng saja saya kali penghasilan dari menerbitkan buku yang kabarnya bisa dibandrol dengan harga empat kali modal cetak. Juga penghasilan mengadakan dan mengisi acara workshop, atau talkshow ngobrol-ngobrol soal kepenulisan. Tak usah singgung-singgung risiko, ini sedang dalam tahap mengangkat kaki untuk langkah awal.

Hitung punya hitung, untuk 1000 eksemplar buku, untungnya bisa di atas 20 juta. Tiga kali sedekah dengan nilai itu, bisa melangkahi Merry Riana yang “cuma” 1 juta dolar. Dengan asumsi satu kali sedekah dibalas sepuluh kali lipat, ilustrasinya: 20 juta x 10 x 10 x 10 = 20.000.000.000.

Mimpi yang keterlaluan memang!




2 komentar:

  1. kejar mimpimu itu mba, semangat! gk ada yg gk mungkin...

    skrg gimana kelanjutan cerita mimpimu itu mba??

    salam kenal dariku, di WestBorneo ^_^

    BalasHapus
  2. masih terseok2, haha, namanya juga mimpi.
    pasti bisa membumi! fireee..!! *kebanyakan nonton sinchan*

    BalasHapus

sila ngoceh di sini....