Selasa, 13 Desember 2011

artikel lama (ngangetin sebelum basi)


ANCAMAN DUNIA BERNAMA ZIONISME
                                                    

Pada hari keempat, sedikitnya 380 orang tewas akibat pembantaian yang dilakukan Israel terhadap Palestina, seribu lebih mengalami luka-luka. Anda jangan membayangkan para korban luka itu mengalami cidera seperti terantuk batu, karena yang dilempar oleh tentara Israel dari udara bukan sekadar batu, tapi roket.
Untuk sebagian orang, berita yang akhir-akhir ini santer ditayangkan televisi (serangan Israel ke jalur Gaza) adalah berita kemanusiaan yang mengejutkan. Apalagi di zaman ketika HAM begitu dijunjung tinggi. Tapi bagi sebagian yang lain, ini bukan berita baru, meski tetap mengkhawatirkan.
Pembantaian yang dilakukan Zionis telah terjadi sejak 1948. Sebutlah Pembantaian Nashiruddin pada 13 Mei 1948 di desa dekat Thabriyah. Tentara Zionis mendatangi kampung tersebut dengan kostum Arab. Saat para penduduk menyambut mereka, sambutan itu dibalas dengan pembunuhan terhadap seisi kampung.
Tanggal 21 di bulan dan tahun yang sama, terjadi Pembantaian Bait Darais, yang mana panser-panser Zionis melindas rumah beserta penghuninya. Lalu, Pembantaian Deir Yasin pada 9 Oktober 1948. Kelompok teroris Israel, Alghun, Stieren, dan Haganah, menyerang 600 penduduk di kota dekat al-Quds.
Pada 1953, terjadi pembantaian Qabiyyah yang hanya dalam 32 jam mengorbankan 2000 orang! Pada 1982, Ariel Sharon (perdana menteri Israel saat itu—padahal sampai hari ini negara Israel tidak pernah ada) menggunakan milisi Phalangist untuk menghabisi pengungsi Palestina yang ada di Lebanon (Shabra dan Shatila). Pembantaian Qana 1986, ‘Uyun Qaara 1989, dan ratusan tindak sadis yang mengorbankan jutaan jiwa.

Yahudi Durhaka
Berawal dari penguasa tiran, Firaun, yang memperbudak kaum Yahudi di Mesir. Bani Israil (anak keturunan Ya’kub) ini lalu dibawa oleh Musa as hijrah menuju Palestina, karena Allah menjanjikan tanah itu pada mereka. Apa lacur, bangsa yang tak mengenal patuh itu menolak memasuki kota karena takut. Parahnya, mereka bahkan memerintahkan nabi mereka berperang bersama Tuhannya, sedang mereka hanya menunggu di luar.  (QS. al-Maidah 21-24). Karena kedurhakaannya—tidak hanya pada Musa as, tapi juga pada nabi-nabi sesudahnya—, maka Yahudi tercerai berai tanpa tanah, bahkan hingga hari ini.
Pada 1 Mei 1776, berdiri gerakan Zionisme Internasional di New York. Zion berarti karang. Maksudnya, bukit Zion yang terletak di barat daya al-Quds (Yerusalem).  Istilah Zionisme pertama kali dicetuskan oleh Nathan Bernbaum. Sedangkan konsep yang rapi mengenai proyek Gerakan Zionisme (kembali ke bukit Zion = memenuhi Palestina dengan bangsa Yahudi) dijelaskan oleh Theodore Herzl (1860-1904) dalam bukunya, Der Judenstaat. Dari buah pikirnya itu, akhirnya Herzl dinobatkan sebagai Bapak Zionisme Internasional.
Yahudi masih mengingat-ingat janji Allah tentang tanah Palestina untuk mereka, sementara mereka melupakan sebab terhinanya mereka hingga telantar demikian lama.

Yahudi dan Zionis
Meski Zionisme dicetus dan dilaksanakan oleh orang-orang Yahudi, namun tidak seluruh bangsa Yahudi adalah pengikut Zionisme. Sebagian rabbi (ulama Yahudi) bahkan mengatakan bahwa Zionisme dan Israel adalah sekte bid’ah (sesat). Sebagai tindakan real dari pendapat mereka, pada 28 Januari 2008, Rabbi Moshe Dov Beck, Rabbi Yisroel Dovid Weiss (AS), Rabbi Meir Hirsh (Palestina), dan Rabbi Ahron Cohen (Inggris) mengirimkan surat kepada sekjen Hizbullah, menyatakan keprihatinan mereka pada tindakan Israel terhadap Palestina dan Lebanon, serta menyatakan sikap tak sepihak pada tindakan orang-orang sebangsa mereka itu.
Menurut penulis sendiri, tanpa melihat latar bangsa ataupun agama, seseorang bisa saja dengan mudah tergabung dalam isme tertentu. Khusus untuk Zionisme, tak harus beragama Yahudi untuk bergabung dalam gerakan ini. Anda yang mendukungnya (seperti Amerika dan bahkan negara-negara Arab sekalipun!) bisa termasuk di dalamnya meski tak berniat demikian. Bagaimana bisa? Tentu dengan memberikan bantuan materil berupa penggunaan produk Zionis (Coca-Cola, Danone, Nestle, Nike, KFC, Nokia, dll. Lihat www.infopalestina.com) atau dengan tidak peduli pada korban Zionisme di Palestina sana.
Dari paparan di atas, jelaslah bahwa bencana kemanusiaan yang terjadi di Palestina bukanlah semata masalah agama dan ras. Korban Zionis lebih banyak Muslim, selain karena mayoritas penduduk Palestina adalah Muslim, juga karena orang-orang Islamlah yang gencar melakukan perlawanan atas dasar perintah agama. Meski demikian, tak hanya Muslim dan masjid yang dihancurkan Zionis, tapi juga orang-orang Kristen beserta gereja-gereja mereka.
Sebaliknya, tak hanya Yahudi yang mendukung Zionisme, Muslim dan penganut Kristen dunia pun tak kurang andilnya terhadap penjajahan Israel di Palestina. Contoh nyata, banyaknya negara—termasuk Indonesia—yang mencantumkan negara Israel pada globe/atlas resminya, padahal negara Israel tidak pernah ada. Para relawan dari Eropa sejak lama mendatangi Palestina tanpa izin dari Israel, karena mereka meyakini, Palestina bukan milik Israel. Atlas/globe Iran bahkan tidak mencantumkan Israel di sana, tapi Palestina!
Selain itu, coba Anda periksa makanan dan bahan-bahan rumah tangga di sekitar Anda, tentunya banyak sekali produk sponsor Zionis bertaburan di sana. Sekecil apa pun sumbangan yang Anda berikan, dalam kurun waktu yang lama, semua itu sangat berarti bagi kebangkitan Israel dan kehancuran dunia. Karena Israel bukan hanya mengincar daerah antara sungat Eufrat dan Tigris, tapi seluruh dunia!

Apa yang Bisa Dilakukan?
Ulama Qatar, Syaikh Yusuf Qaradhawy pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap produk-produk dari perusahaan yang terbukti menyumbang dana untuk Zionis. Fatwa ini disambut antusias oleh warga Eropa yang memang lebih melek informasi. Akibatnya, perusahaan-perusahaan yang sebagian besar adalah milik Amerika (negara yang menjadi kiblat anak-anak muda gila pesta itu, yang mengagung-agungkan HAM tapi di saat yang sama melakukan pelanggaran HAM di mana-mana, yang pada setiap detiknya terjadi tindak kejahatan di tanahnya. Ya, Amerika yang itu!) mengalami krisis.
Hal demikian juga terjadi pada perusahaan-perusahaan Denmark saat pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw oleh Jilliant Posten terjadi. Warga dunia melakukan tindakan nyata dengan memboikot produk perusahaan terkait. Hasilnya luar biasa.
Meski MUI menyatakan jihad ke Palestina adalah hak pribadi, sepertinya tak mudah bagi pemerintah RI membiarkan para relawan melaksanakan niat mereka. Mengingat hingga hari ini, Indonesia masih kacung setia AS. Buktinya, Densus 88 yang dibiayai Amerika masih semangat memenuhi pesanan majikannya dengan menangkapi aktivis Muslim di Tanah Air. Sebagai alternatif, warga Indonesia bisa ikut melakukan boikot jika tak mampu berjuang ke wilayah konflik.
Selain boikot, yang tak kalah penting adalah upaya menyebarluaskan informasi tentang konflik yang telah 60 tahun itu terjadi (penjajahan oleh Israel tercatat dimulai pada 1948, meski sebenarnya telah dilakukan perlahan sejak lama). Gerakan warga dunia di bagian Timur memang lebih lamban dibanding Barat. Hal tersebut bukan karena kurangnya sensitivitas, tapi ketidaktahuan banyak orang terhadap apa yang terjadi di belahan dunia yang lain. Ini juga akibat dari besarnya peranan Zionis terhadap media, hingga ia mampu menggiring opini dunia, dan menutupi segala celanya.
Meski demikian, Zionis bukan apa-apa jika seluruh dunia sudah paham apa yang terjadi. Dan, Zionis yang rasis tak akan bertahan lama, karena analisis sejarah memastikan, Yahudi akan segera punah. Segera.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....