Senin, 07 November 2011

Seri Pengalaman 6


Ada banyak makna yang tersirat saat seorang anak menoleh pada ibunya sebelum melakukan sesuatu. Dari semua kemungkinan, yang terbesar adalah bahwa sang anak meminta persetujuan dan atau jaminan perlindungan atas apa yang ia kerjakan.

Semua anak menganggap ibunya adalah pahlawan. Ia menaruh harapan besar berupa kasih sayang dan perlindungan. Tapi, di salah satu hari yang saya lalui, saya mendapati Mamak tidak menjalankan fungsinya itu.

Dulu warung kecil milik keluarga kami terpisah dari rumah utama. Lebih menjorok agar terlihat dari jalan. Ada bangku panjang yang menempel di dinding warung, sehingga pembeli yang menunggu belanjaan dapat duduk di sana. Fasilitas ini menjadikan orang betah berlama-lama di warung, mengobrol, selonjor, dan bergosip khas ibu-ibu.

Seorang ibu ceriwis menjadi langganan Mamak. Tubuhnya padat, tidak tinggi, enerjik, dan kurang kerjaan. Saya—mungkin juga seluruh keluarga kami—tidak mengetahui namanya. Ia dipanggil Mak Pita, karena anak tunggalnya yang cantik dan bekerja di bank, bernama Pita.
Mak Pita rajin ke warung kami, datang lebih dulu, lalu berlama-lama hingga tak seorang pun tersisa. Lalu ia mengobrol dengan Mamak tentang apa saja. Termasuk tentang saya, yang hari itu telah ditakdirkan Allah menjadi korbannya.

Mak Pita mengomentari rambut saya yang pendek. Dalam hati saya mengumpat, bukankah dia juga berambut pendek. Malah lebih tidak pantas karena ia sudah ibu-ibu. Celotehnya panjang, nyelekit, tak penting. Ia bilang saya mirip laki-laki. Gerak-gerik saya tidak luwes seperti anak perempuan, pakaian saya juga tidak menampilkan seorang anak perempuan. Dalam hati saya menjawab, aku kan tomboi! Lalu, apa masalahmu?
 
Saya yang saat itu sedang sarapan lontong di warung, memilih mengalah. Daripada hilang selera makan, lebih baik menyelamatkan telinga ke tempat lain. Saya berniat membawa piring lontong ke dalam rumah. Tapi belum sampai di pintu warung, Mamak melarang. Saya diminta tidak beranjak dari bangku panjang di warung. Alasannya, di rumah tidak ada yang menemani. Saya yang saat itu masih SD kelas rendah memang sering ditemani saat makan.

Mak Pita makin menjadi-jadi melukai saya denga lisannya. Dalam kicaunya yang menyebalkan, ia bandingkan saya dengan anaknya yang berhasil bekerja di bank (makin gila, kan? Seorang anak SD dibandingkan dengan gadis dewasa). Anaknya cantik, berambut panjang. Saya menjawab dalam hati, orang cantik itu jarang yang pintar. Pasti anakmu dulu tidak juara kelas seperti aku. Pita sejak kecil pandai menjaga penampilan, tidak seperti saya. Karena dia centil! Jawab saya dalam hati.

Saya selalu membela diri, karena setiap melihat pada Mamak, tidak nampak upaya pembelaan seorang ibu dari beliau. Dan pembelaan selalu hanya dalam hati, karena saya hanya anak SD yang tak cukup nyali.

Merasa tak ada pembelaan, Mak Pita makin leluasa. Tak hanya lidahnya, tangan pun turut campur menghabisi saya. Di depan mata ibu kandung saya, Mak Pita dengan geram menarik rambut saya.

Saya anak SD yang belum cukup nyali, tapi  saya sudah punya harga diri. Maka piring lontong saya lempar ke tanah. Masih untung bukan ke wajahnya. Saya berjalan cepat ke rumah, membawa murka yang sangat.

Ketika saya pergi, terlihat wajah Mak Pita yang kaget. Ia tak menyangka saya bisa bereaksi demikian, lalu ia pulang dengan bahasa tubuh yang mengesankan tak enak hati.
Di dalam rumah, murka saya berpindah. Mamak bukannya memeluk saya, tapi malah memarahi, “Itu namonyo dak sopan!”

Saya marah pada Mamak, tapi tak punya kata-kata untuk dimuntahkan. Dan, kemarahan itu pada akhirnya hanya terlampiaskan dengan airmata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....