Senin, 14 November 2011

(rencana) Seri Pengalaman 7


Pulang kerja, di rumah eyangnya, saya dapati wajah ‘Aifah—anak perempuan saya—tidak secerah biasanya. Bocah 13 bulan itu tidak lemas, tapi cemberut. Begitu melihat saya, ia menangis.
“’Aifah kenapa?” tanya saya.
Ia menjawab dengan tangisan yang mirip sebuah pengaduan.
Ada tiga orang dewasa di sana. Selagi saya mengemasi barang-barang ‘Aifah, saya mendengar mereka membincangkan sesuatu yang jelas sekali bahwa hal itu berkaitan dengan suami saya. Satu dari mereka menyindir saya di depan yang lain.
Ah, yang begini sih ada seabrek di dunia ini, pikir saya. Tinggal pergi saja. Tiba di rumah, ketika berdiskusi dengan suami, tiba-tiba saya teringat salah satu kisah masa kecil saya yang mirip dengan apa yang dialami ‘Aifah.
Saya bersyukur, waktu saya kecil, di rumah kami tidak ada TV. Yang menyedihkan hanyalah bahwa Bapak kemudian harus numpang nonton di rumah tetangga. Demikian pula dengan anak-anak beliau, tapi sebenarnya rata-rata kami tidak datang ke rumah tetangga dengan niat bulat-bulat untuk menonton TV, melainkan hendak berkumpul dengan teman sebaya.
Maka TV tetangga dinyalakan tidak hanya untuk ditonton, malah lebih untuk mengumpulkan massa. Sebab, beberapa orang yang di rumahnya memiliki TV pun ikut berdatangan.
Jika orang-orang telah berkumpul, masing-masing kemudian tanpa dikomandoi akan membentuk kelompok sendiri sesuai dengan usia, minat, atau topik perbincangan.
Menuju sore yang hangat, di depan rumah tetangga yang telah memanggil orang-orang dengan TV-nya, saya tengah bermain kelereng dengan kawan-kawan seusia. Di dekat kami, berkumpul ibu-ibu yang sedang membincangkan bahan belanjaan.
Semuanya berjalan wajar dan biasa, hingga kemudian, di antara hiruk pikuk perbincangan, salah seorang berkata lantang, “Dak usahlah belanjo di tempat Lek Min, di situ hargonyo mahal-mahal.”
Srr! Darah saya terpompa lebih deras. Ibu saya bernama Kartumi, tak tahu kenapa kemudian oleh para tetangga dipanggil Lek Min (sekarang Mbah Min, karena sudah sangat tua).
Pelan-pelan saya menoleh ke sumber suara. Sebenarnya tanpa menoleh pun saya mengenal pemilik suara itu. Dia seorang ibu tua, yang saban pekan saya menagih utang pada anaknya, lalu pulang membawa makian dari menantunya.
Sejak kecil saya kebal terhadap celaan orang. Saya diimunisasi oleh para tetangga yang manis ketika berutang di warung Mamak, lalu memaki saya yang datang menagih, bahkan menyampaikan pesan ajakan duel pada Bapak, lewat saya.
Oleh orangtua dan para kakak, saya dididik untuk diam. Biarkan saja orang berbuat jahat, pesan Mamak. Tapi bagi saya, itu hanya menyisakan kesal yang tak terlampiaskan. Mamak bilang, orang yang berbuat buruk akan berbalik keburukan itu padanya. Orang yang berutang tanpa niat membayar, seumur-umur tak akan senang hidupnya. Benar kata beliau, orang-orang yang dulu suka menunjuk-nunjuk muka saya, menghina keluarga kami tepat di telinga saya, ternyata hingga hari ini tak kenal sejahtera. Dan disebabkan kesal saya yang tak terlampiaskan, saya kadang-kadang bersyukur melihat mereka. Tak pantas memang.
Mereka tidak berbelas kasih pada anak kecil. Jangankan saya yang ketika itu telah lancar baca-tulis, ‘Aifah yang baru 13 bulan hidup pun mengerti dan merasa sakit, ketika orangtuanya digunjing, apalagi dimaki di depan matanya, pada injakan tanah yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....