Sabtu, 15 Oktober 2011

Seri Pengalaman 5


Naik ke kelas 4 SD, saya mendapat kawan baru. Namanya Riska. Ia cantik, enerjik, wangi, dan kaya. Orang cantik biasanya kurang atau malah tidak pintar, tapi Riska mampu berada di 5 besar setiap penerimaan raport. Uang jajannya berserak di dalam laci meja, siapa saja boleh mengambil. Jika bepergian, paling sedikit Riska membawa uang 50.000 rupiah. Bagi saya, sekarang saja uang sebesar itu terlalu banyak untuk anak SD, apalagi di tahun 1994/1995 saat itu.

Dengan segala kelebihannya, sebentar saja Riska menjadi idola kelas. Bahkan lebih dari itu, idola sekolah.  Kelas lain nyata iri melihat keberuntungan 4B, kelas saya. Siapa pun akan bangga menjadi teman dekatnya. Dan saya termasuk yang paling beruntung. 

Saya tidak keren, bukan anak orang kaya, tidak terlalu pintar, dan—bukannya tidak bersyukur—saya juga tidak merasa cantik. Tapi Riska sepertinya suka bersahabat dengan saya. Terserah apa motivasinya, karena saya—sama seperti kebanyakan orang—suka ditraktir, maka uluran persahabatan dari Riska saya sambut dengan suka cita.

Setiap satu bulan, paling tidak dua kali Riska mengajak jalan-jalan. Kadang bersama teman-teman lain, tapi lebih sering kami berdua saja. Selama jalan-jalan, Riska suka membeli mainan, buku pelajaran, tempat air minum, dan barang-barang lain yang hampir semuanya dihadiahkan untuk saya. Mengagumkan, bukan!

Suatu kali, kejadian nahas menimpa kami. Dua anak kecil yang sok tahu ini menaiki angkot yang tidak biasanya kami tumpangi. Berawal dari penasaran, bagaimana rasanya naik angkot yang tempat duduknya pakai sandaran? Sebelumnya kami selalu menumpang angkot kuning yang penumpangnya duduk saling berhadapan, tidak bisa bersandar karena di atas bangku panjangnya ada jendela kaca. Jika kacanya ditutup, tak nyaman kepala disandarkan. Jika dibuka, maka kepala penumpang akan nongol keluar mobil.

Kami rela berjalan kaki lebih jauh untuk menyetop angkot biru besar itu. Tak lama setelah sampai jalan raya, sebuah angkot yang ditunggu menawarkan tumpangan, lalu kami ikut saja ke mana supir membawa. Prinsipnya waktu itu adalah, di kota kecil ini, semua angkot akan berakhir di Terminal Rawasari, lewat mana pun. Jadi tenang saja.

Anehnya, angkot yang kami tumpangi tak kunjung sampai ke terminal. Kami berputar-putar entah di daerah bernama apa. Antara cemas dan menikmati perjalanan. Melihat tempat-tempat baru dari dalam mobil dengan tempat duduk dan sandaran empuk, pasti menyenangkan. Saya dan Riska sekali-kali saling pandang, yang artinya, kita di mana? Tapi kami sama-sama tak bersuara. Mungkin menyepakati satu hal, jika bersuara, apalagi bertanya pada supir atau kondektur, mereka akan tahu bahwa kami tidak mengenal daerah itu. Kewaspadaan yang patut diacungi jempol, meski waku itu penculikan anak-anak belum marak seperti sekarang.

Mamak dan para kakak yang tidak terlalu relijius sering mencontohkan saya untuk berdoa dan membaca surah-surah dalam al-Quran untuk menenangkan hati. Maka hal itu saya lakukan selama di angkot ketika cemas mulai melanda. Saya ngaji dalam hati. Sambil terus membalas pandangan Riska yang penuh tanya. Mata saya menjawab, tenang saja.

Perjalanan hari itu menggagalkan segala rencana. Kami baru sampai di terminal setelah berjam-jam berkeliling tak tahu arah. Tiba di terminal, hari sudah gelap. Kami langsung mencari angkot kuning yang biasa ditumpangi, tak apa duduk tanpa sandaran. 

Di rumah, Mamak menyambut biasa-biasa saja. Tanpa omelan bahkan yang paling pendek pun. Sampai dewasa saya tidak pernah menganggap hal itu sebagai sebuah pengabaian, tapi lebih kepada kepercayaan beliau pada saya. Yang penting bagi beliau, anaknya pulang selamat.

Sekitar jam 8 malam, sebuah mobil parkir di depan rumah saya. Riska datang bersama keluarganya. Kami disidang.

Tepatnya dikonfrontasi. Mama Riska bertanya pada saya, ke mana tadi kami pergi. Seperti saya ceritakan sebelumnya, saya tidak tahu, daerah mana yang kami lewati. Tapi mengingat-ingat celoteh kondektur, sepertinya ia menyebut kata ‘bangunan’, ‘buluran’, dan lainnya. Maka nama daerah yang terekam itulah yang saya sampaikan. 

“Ke Buluran atau ke Mayang?” satu dari keluarga Riska menyambut pengakuan saya.
Ternyata, pada orangtuanya—sebelum sampai ke rumah saya—Riska mengaku pergi ke Mayang. Saya tahu betul di mana letak daerah bernama Mayang, dan tempat itu sama sekali tidak dilewati angkot yang kami tumpangi. Saya ingin melihat wajah Riska, kenapa dia berbohong. Tapi Riska menunduk. Saya jadi serbasalah, dan sempat berpikir untuk mengubah pengakuan. 

Kemudian Mamak menguatkan hati saya dengan pernyataan luar biasa. “Anak saya ini dak pernah bohong. Kalo dio bilang ke Buluran, pasti memang ke situ perginyo.”
Pertanyaan diulang, “Ke mana tadi Tari dengan Riska pergi?”

Riska diam, masih menunduk.

Saya tidak ingin mengecewakan Mamak, beliau telah menaruh kepercayaan besar yang harus saya jaga bahkan hingga sekarang. Maka saya ceritakan semuanya, bahwa kami sebenarnya tersesat, kami berkeliling tak tahu arah, kami mencoba angkot baru, dan seterusnya. Saya menoleh lagi pada Riska, ingin sampaikan pesan lewat mata, maaf kawan. Tapi ia tetap menunduk.

Setelah kejadian itu, seingat saya kami tak pernah jalan berdua lagi. Di sekolah, kami tak pernah membahasnya, saya juga tak sekalipun menyebut-nyebut kejadian itu untuk menjaga perasaannya. Tapi saya yakin, Riska tidak bermaksud bohong, ia hanya asal sebut. Mungkin cuma kata Mayang yang ia tahu, mengingat ia berasal dari daerah yang jauh dari kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....