Jumat, 14 Oktober 2011

Seri Pengalaman 4


Kesal betul rasanya, setiap saya datang ke rumah kawan yang satu ini, pasti kakak atau ibunya bilang, “Desi sedang shalat.”

Shalat apa sih? Kok shalat terus, ini kan siang, bukan maghrib, batin saya.

Desi Marlina, nama kawan saya itu. Nama sebenarnya, dan entah di mana dia kini. Posisi rumahnya dulu, sekarang tak terpetakan lagi, karena daerah itu telah dipenuhi ruko. Juga karena saya memang lemah dalam hal perdenahan. Entah ke bangunan mana belasan tahun silam saya sering bertandang.

Desi yang kecil, hitam manis, dan berambut keriting adalah anak perempuan yang pintar. Dari kelas 1 sampai kelas 6 SD, Desi selalu ranking 1. Kecuali sekali, saat kelas 4 catur wulan 1, saya merebut gelar juaranya. Betul-betul cuma sekali itu.
Selain pintar, akhlaknya pun memukau. Jika anak lain biasa refleks mengumpat saat diganggu, Desi biasanya hanya cemberut. Maka jika suatu waktu ia murka, kami malah tertawa. Ternyata peri kecil itu bukan malaikat.

Di segala pelajaran—selain olahraga, yang biasanya justru dimenangi anak-anak ranking belakang—, Desi selalu unggul. Bukan sekadar Matematika, di pelajaran Agama, hapalan surah Desi paling banyak.

Untuk mata pelajaran Kesenian, Desi punya koleksi lagu daerah yang banyak. Saya sempat berpikir, satu-satunya mata pelajaran yang saya tak mampu mengungguli Desi adalah di Kesenian ini. Bagaimana tidak, saya yang tidak pernah TK mana kenal lagu anak-anak, apalagi lagu daerah. Lagu andalan saya jika menyanyi di depan kelas adalah Naik-naik ke Puncak Gunung, dari tahun ke tahun. Saya juga tak kenal origami. Jika diminta melipat kertas, sumpah, saya hanya bisa membuat pesawat terbang yang setiap sebelum diterbangkan, ekornya wajib saya tiup entah dengan alasan apa.

Kalau boleh sombong, mungkin saya berada satu tingkat di atas Desi pada pelajaran Mengarang. Sejak kecil kakak pertama saya biasa membelikan kumpulan majalah anak-anak bekas yang dibundel. Sebelum masuk SD, saya sudah bisa membaca dan menulis. Keduanya menjadi hobi saya hingga sekarang.

Lalu saya menganalisa dengan pemikiran sederhana seorang anak SD, kenapa Desi pintar dan baik? Dia yatim, saya tidak. Kakaknya banyak, saya pun demikian. Kenapa dia sabar sekali, sedangkan saya cenderung membalas jika disakiti?

Terlepas dari karakter dasar yang kami bawa sejak lahir, setelah cukup dewasa saya mulai sedikit memahami. Shalatlah yang membuat Desi lebih mampu menahan diri. Jika setelah marah anak lain akan berlari ke kantin untuk mengganti energi dengan jajan, Desi justru menangis seperti menyesal.

Saya bukannya tidak kenal shalat, tapi karena ritual Ngaji Quran hanya dilakukan maghrib setelah shalat, maka saya menyimpulkan dengan sederhana, bahwa shalat hanya dilakukan sekali sehari, yaitu beberapa saat setelah tape recorder masjid dinyalakan; waktu maghrib. Buku hijau keluaran Depag yang saya baca saat kelas 1 SMP yang akhirnya mengajarkan, bahwa shalat dilakukan paling sedikit lima kali dalam sehari, dan harus dilakukan seorang Muslim yang sudah baligh. Ketika membaca buku tersebut, saya belum baligh, tapi Allah mengajak saya untuk melakukannya lebih awal.

1 komentar:

  1. kak, keren banget kisahnya. mengharukan tapi inspiratif.salam ya untuk temennnya.hehe

    BalasHapus

sila ngoceh di sini....