Sabtu, 29 Oktober 2011

mana yang pantes dijadiin judul?


1.      Mbah Monyet Si Bujang Langgar
2.      Perempuan Bernama Sri
3.      Cerita Kampung
4.      Bayangan
5.      Lukisan
6.      Pangeran dengan Dua Bekas Sujud
7.      Partai Sampah
8.      Ustadz
9.      Merantau
10.  Jihad
11.  Nah!
12.  Kosong
13.  Paket
14.  100 Hari Kematian Yamin
15.  Sukron Anak Marmin

Sabtu, 15 Oktober 2011

Seri Pengalaman 5


Naik ke kelas 4 SD, saya mendapat kawan baru. Namanya Riska. Ia cantik, enerjik, wangi, dan kaya. Orang cantik biasanya kurang atau malah tidak pintar, tapi Riska mampu berada di 5 besar setiap penerimaan raport. Uang jajannya berserak di dalam laci meja, siapa saja boleh mengambil. Jika bepergian, paling sedikit Riska membawa uang 50.000 rupiah. Bagi saya, sekarang saja uang sebesar itu terlalu banyak untuk anak SD, apalagi di tahun 1994/1995 saat itu.

Dengan segala kelebihannya, sebentar saja Riska menjadi idola kelas. Bahkan lebih dari itu, idola sekolah.  Kelas lain nyata iri melihat keberuntungan 4B, kelas saya. Siapa pun akan bangga menjadi teman dekatnya. Dan saya termasuk yang paling beruntung. 

Saya tidak keren, bukan anak orang kaya, tidak terlalu pintar, dan—bukannya tidak bersyukur—saya juga tidak merasa cantik. Tapi Riska sepertinya suka bersahabat dengan saya. Terserah apa motivasinya, karena saya—sama seperti kebanyakan orang—suka ditraktir, maka uluran persahabatan dari Riska saya sambut dengan suka cita.

Setiap satu bulan, paling tidak dua kali Riska mengajak jalan-jalan. Kadang bersama teman-teman lain, tapi lebih sering kami berdua saja. Selama jalan-jalan, Riska suka membeli mainan, buku pelajaran, tempat air minum, dan barang-barang lain yang hampir semuanya dihadiahkan untuk saya. Mengagumkan, bukan!

Suatu kali, kejadian nahas menimpa kami. Dua anak kecil yang sok tahu ini menaiki angkot yang tidak biasanya kami tumpangi. Berawal dari penasaran, bagaimana rasanya naik angkot yang tempat duduknya pakai sandaran? Sebelumnya kami selalu menumpang angkot kuning yang penumpangnya duduk saling berhadapan, tidak bisa bersandar karena di atas bangku panjangnya ada jendela kaca. Jika kacanya ditutup, tak nyaman kepala disandarkan. Jika dibuka, maka kepala penumpang akan nongol keluar mobil.

Kami rela berjalan kaki lebih jauh untuk menyetop angkot biru besar itu. Tak lama setelah sampai jalan raya, sebuah angkot yang ditunggu menawarkan tumpangan, lalu kami ikut saja ke mana supir membawa. Prinsipnya waktu itu adalah, di kota kecil ini, semua angkot akan berakhir di Terminal Rawasari, lewat mana pun. Jadi tenang saja.

Anehnya, angkot yang kami tumpangi tak kunjung sampai ke terminal. Kami berputar-putar entah di daerah bernama apa. Antara cemas dan menikmati perjalanan. Melihat tempat-tempat baru dari dalam mobil dengan tempat duduk dan sandaran empuk, pasti menyenangkan. Saya dan Riska sekali-kali saling pandang, yang artinya, kita di mana? Tapi kami sama-sama tak bersuara. Mungkin menyepakati satu hal, jika bersuara, apalagi bertanya pada supir atau kondektur, mereka akan tahu bahwa kami tidak mengenal daerah itu. Kewaspadaan yang patut diacungi jempol, meski waku itu penculikan anak-anak belum marak seperti sekarang.

Mamak dan para kakak yang tidak terlalu relijius sering mencontohkan saya untuk berdoa dan membaca surah-surah dalam al-Quran untuk menenangkan hati. Maka hal itu saya lakukan selama di angkot ketika cemas mulai melanda. Saya ngaji dalam hati. Sambil terus membalas pandangan Riska yang penuh tanya. Mata saya menjawab, tenang saja.

Perjalanan hari itu menggagalkan segala rencana. Kami baru sampai di terminal setelah berjam-jam berkeliling tak tahu arah. Tiba di terminal, hari sudah gelap. Kami langsung mencari angkot kuning yang biasa ditumpangi, tak apa duduk tanpa sandaran. 

Di rumah, Mamak menyambut biasa-biasa saja. Tanpa omelan bahkan yang paling pendek pun. Sampai dewasa saya tidak pernah menganggap hal itu sebagai sebuah pengabaian, tapi lebih kepada kepercayaan beliau pada saya. Yang penting bagi beliau, anaknya pulang selamat.

Sekitar jam 8 malam, sebuah mobil parkir di depan rumah saya. Riska datang bersama keluarganya. Kami disidang.

Tepatnya dikonfrontasi. Mama Riska bertanya pada saya, ke mana tadi kami pergi. Seperti saya ceritakan sebelumnya, saya tidak tahu, daerah mana yang kami lewati. Tapi mengingat-ingat celoteh kondektur, sepertinya ia menyebut kata ‘bangunan’, ‘buluran’, dan lainnya. Maka nama daerah yang terekam itulah yang saya sampaikan. 

“Ke Buluran atau ke Mayang?” satu dari keluarga Riska menyambut pengakuan saya.
Ternyata, pada orangtuanya—sebelum sampai ke rumah saya—Riska mengaku pergi ke Mayang. Saya tahu betul di mana letak daerah bernama Mayang, dan tempat itu sama sekali tidak dilewati angkot yang kami tumpangi. Saya ingin melihat wajah Riska, kenapa dia berbohong. Tapi Riska menunduk. Saya jadi serbasalah, dan sempat berpikir untuk mengubah pengakuan. 

Kemudian Mamak menguatkan hati saya dengan pernyataan luar biasa. “Anak saya ini dak pernah bohong. Kalo dio bilang ke Buluran, pasti memang ke situ perginyo.”
Pertanyaan diulang, “Ke mana tadi Tari dengan Riska pergi?”

Riska diam, masih menunduk.

Saya tidak ingin mengecewakan Mamak, beliau telah menaruh kepercayaan besar yang harus saya jaga bahkan hingga sekarang. Maka saya ceritakan semuanya, bahwa kami sebenarnya tersesat, kami berkeliling tak tahu arah, kami mencoba angkot baru, dan seterusnya. Saya menoleh lagi pada Riska, ingin sampaikan pesan lewat mata, maaf kawan. Tapi ia tetap menunduk.

Setelah kejadian itu, seingat saya kami tak pernah jalan berdua lagi. Di sekolah, kami tak pernah membahasnya, saya juga tak sekalipun menyebut-nyebut kejadian itu untuk menjaga perasaannya. Tapi saya yakin, Riska tidak bermaksud bohong, ia hanya asal sebut. Mungkin cuma kata Mayang yang ia tahu, mengingat ia berasal dari daerah yang jauh dari kota.

Jumat, 14 Oktober 2011

Seri Pengalaman 4


Kesal betul rasanya, setiap saya datang ke rumah kawan yang satu ini, pasti kakak atau ibunya bilang, “Desi sedang shalat.”

Shalat apa sih? Kok shalat terus, ini kan siang, bukan maghrib, batin saya.

Desi Marlina, nama kawan saya itu. Nama sebenarnya, dan entah di mana dia kini. Posisi rumahnya dulu, sekarang tak terpetakan lagi, karena daerah itu telah dipenuhi ruko. Juga karena saya memang lemah dalam hal perdenahan. Entah ke bangunan mana belasan tahun silam saya sering bertandang.

Desi yang kecil, hitam manis, dan berambut keriting adalah anak perempuan yang pintar. Dari kelas 1 sampai kelas 6 SD, Desi selalu ranking 1. Kecuali sekali, saat kelas 4 catur wulan 1, saya merebut gelar juaranya. Betul-betul cuma sekali itu.
Selain pintar, akhlaknya pun memukau. Jika anak lain biasa refleks mengumpat saat diganggu, Desi biasanya hanya cemberut. Maka jika suatu waktu ia murka, kami malah tertawa. Ternyata peri kecil itu bukan malaikat.

Di segala pelajaran—selain olahraga, yang biasanya justru dimenangi anak-anak ranking belakang—, Desi selalu unggul. Bukan sekadar Matematika, di pelajaran Agama, hapalan surah Desi paling banyak.

Untuk mata pelajaran Kesenian, Desi punya koleksi lagu daerah yang banyak. Saya sempat berpikir, satu-satunya mata pelajaran yang saya tak mampu mengungguli Desi adalah di Kesenian ini. Bagaimana tidak, saya yang tidak pernah TK mana kenal lagu anak-anak, apalagi lagu daerah. Lagu andalan saya jika menyanyi di depan kelas adalah Naik-naik ke Puncak Gunung, dari tahun ke tahun. Saya juga tak kenal origami. Jika diminta melipat kertas, sumpah, saya hanya bisa membuat pesawat terbang yang setiap sebelum diterbangkan, ekornya wajib saya tiup entah dengan alasan apa.

Kalau boleh sombong, mungkin saya berada satu tingkat di atas Desi pada pelajaran Mengarang. Sejak kecil kakak pertama saya biasa membelikan kumpulan majalah anak-anak bekas yang dibundel. Sebelum masuk SD, saya sudah bisa membaca dan menulis. Keduanya menjadi hobi saya hingga sekarang.

Lalu saya menganalisa dengan pemikiran sederhana seorang anak SD, kenapa Desi pintar dan baik? Dia yatim, saya tidak. Kakaknya banyak, saya pun demikian. Kenapa dia sabar sekali, sedangkan saya cenderung membalas jika disakiti?

Terlepas dari karakter dasar yang kami bawa sejak lahir, setelah cukup dewasa saya mulai sedikit memahami. Shalatlah yang membuat Desi lebih mampu menahan diri. Jika setelah marah anak lain akan berlari ke kantin untuk mengganti energi dengan jajan, Desi justru menangis seperti menyesal.

Saya bukannya tidak kenal shalat, tapi karena ritual Ngaji Quran hanya dilakukan maghrib setelah shalat, maka saya menyimpulkan dengan sederhana, bahwa shalat hanya dilakukan sekali sehari, yaitu beberapa saat setelah tape recorder masjid dinyalakan; waktu maghrib. Buku hijau keluaran Depag yang saya baca saat kelas 1 SMP yang akhirnya mengajarkan, bahwa shalat dilakukan paling sedikit lima kali dalam sehari, dan harus dilakukan seorang Muslim yang sudah baligh. Ketika membaca buku tersebut, saya belum baligh, tapi Allah mengajak saya untuk melakukannya lebih awal.