Sabtu, 10 September 2011

Seri Pengalaman

Saya tidak tahu nama lengkapnya, yang jelas kami semua memanggilnya Sonok. Tanpa Kak, Abang, atau sapaan yang lebih sopan, meski oleh yang muda sekalipun. Di kampung, semua sebaya. Berbeda dengan lingkungan akademis yang cenderung menuakan para senior—walaupun kadang hanya terpaut beberapa bulan.

Sonok anak yatim yang tinggal bersama nenek, paman, serta para bibinya. Sampai hari ini saya masih ingat betul wajahnya, hitam manis, ceria, padahal beban hidupnya luar biasa.

Setiap hari Sonok mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yang paling saya ingat adalah rutinitasnya membuang sampah dari rumah neneknya ke semak belukar yang berjarak sekitar 300 meter. Di sela perjalanan pulang, biasanya Sonok mampir ke lapangan, bermain sebentar sebelum sebuah teriakan terdengar dari rumah sang nenek. Lalu ia pulang, karena pekerjaan berikutnya telah menanti.

Sekadar pekerjaan rumah tangga yang tidak memberi peluang anak-anak untuk bermain, bagi saya adalah sebuah kejahatan. Tapi yang Sonok dapat, lebih dari itu. Satu di antara ribuan hari buruknya, saya melihat Sonok dari jendela samping rumah.

Hanya sepersekian menit, saya langsung berpaling. Tak sanggup melihat kesadisan, apalagi dialami kawan sendiri. Hari itu, Sonok diikat—entah oleh paman atau bibinya—di pohon mangga dengan kabel berdiameter sedang, berwarna merah (masih terekam di otak saya). Ia ditelanjangi, dimaki, disiram air comberan, sambil dijepret dengan karet gelang yang sudah putus, juga berwarna merah (saya benar-benar ingat).

“Tengoklah, Tar, ini na budak bengak!” (lihatlah, Tar, ini dia anak bodoh!) teriak salah satu bibinya. Bukannya terpanggil untuk melihat lagi, saya malah menangis di samping jendela.

Penyiksaan itu berulang-ulang terjadi, hingga Sonok melarikan diri entah ke mana.

Beberapa tahun Sonok menjadi legenda, banyak yang meyakini bahwa ia telah wafat dan menjadi hantu. Hal tersebut karena tidak sedikit anak yang mengaku melihatnya di malam hari. Yang paling mungkin, itu hanya halusinasi mereka akibat kerinduan kepada kawan bermain. Sebab sekian tahun kemudian, ketika kami sudah beranjak remaja, Sonok kembali ke rumah neneknya!

Parasnya masih seperti dulu, hitam manis dan penuh senyum. Tapi tubuhnya lebih tinggi dan suaranya agak berat. Seorang kawan yang rumahnya tepat di depan rumah nenek Sonok menceritakan bahwa Sonok membawakan nenek, paman, dan bibinya biskuit, susu kaleng dll. Ia meminta maaf atas kesalahannya selama tinggal bersama mereka. Begitupun dengan para tetangga, ia bersilaturahim ke beberapa rumah.

Sonok tak berlama-lama di kampung kami, ia segera kembali ke tempat barunya di kota Palembang. Ternyata dalam pelarian dulu, Sonok ikut mobil antarprovinsi yang membawanya ke kota itu. Kemudian di sana Sonok berprofesi sebagai kenek bus mahasiswa, hingga saat ia kembali.

Maka legenda Sonok pun berganti. Kepulangannya yang hanya sebentar menjadi kisah nyata dengan hikmah luar biasa. Seorang anak yatim yang disiksa hampir setiap hari, justru datang untuk meminta maaf!

Kisah nyata itu semakin dalam maknanya saat warga kampung mendengar sebuah berita, Sonok jatuh dari bus mahasiswa saat ia bekerja. Akibat kejadian tersebut, ia wafat.

Setiap kawan yang mendengar, meneteskan airmata. Pun saya. Semoga Allah merahmatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....