Minggu, 25 September 2011

Seri Pengalaman 3


Suatu saat saya akan menulis lebih banyak kisah di sekolah ini, barangkali novel. Ini janji besar saya pada diri sendiri.

SMP Rumah Kasih Sayang, saya terjemahkan namanya. Di sana terkumpullah anak-anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Bisa jadi, latar pendidikan orangtua yang sangat rendah, atau tidak berpendidikan sama sekali, menjadi pupuk yang membuat budaya kekerasan di sekolah ini lestari. 

Saya siswa baru yang ditempatkan di kelas 2B. Bisa dibilang, kelas terbelakang. Bersama saya ada anak-anak dengan kadar ‘nakal’ yang menakjubkan. Kelas kami berada di dataran paling rendah, jauh di bawah. Bila Guru Bahasa Arab mendengar keganduhan di kelas 2B, ia tinggal melemparkan sesuatu ke atap kelas kami. Duarr! Dan kami serentak diam.
Ketika sekolah direnovasi, kami naik pangkat. Dari paling bawah pindah ke puncak bangunan. Di ruang kelas teratas, yang diapit kantor SMP dan kantor yayasan. Tentu saja kami diwanti-wanti, jaga sikap!

Adalah Bu Dasma (nama samaran saja), salah seorang guru yang masuk kategori baik. Tapi barangkali ke-baik-an beliau lebih disebabkan ketidak lebih baiknya guru lain. Hari itu sama persis seperti hari lainnya saat guru tidak berada di kelas; suasana gaduh. Kelas yang dipenuhi remaja awal baligh bercanda satu sama lain, berlarian, obral tawa. Semua, tanpa kecuali. Bu Dasma sedang dengan teori ekonominya di kelas sebelah, 2A. Dengan anak-anak yang lebih santun dari kami, kelas ampas.

Seorang dari kelas 2A melintas di depan kelas saya, ia menoleh, sedikit melongok ke ruang kelas tapi berupaya tidak ketara. Mulyani nama anak itu, juara kelas. Tampilannya standar anak baik, tubuh kecil, rambut panjang, kulit putih, dan tentu saja, pendiam.

Ketika Mulyani melintas, saya berada di kelompok teramai. Di bawah jendela bagian depan. Kami membincangkan apa saja, suara laki-laki dan perempuan yang baru saja melepas predikat anak-anak, baur memenuhi ruangan. Kelompok-kelompok lain yang lebih kecil juga berbincang dengan suara kalah ramai, karena lebih sedikit jumlahnya. Sebagian lain berlari-lari keluar-masuk kelas, naik ke meja, menginjak kursi, menarik alas meja guru, dan pastinya sambil tertawa.   

Mulyani biasanya diberdayakan guru sebagai mata-mata, saya hapal betul hal itu. Dan memang, lewatnya ia di depan kelas kami dalam rangka melaksanakan tugas dari Bu Dasma. Sampai ujung, di depan kantor yayasan, Mulyani berbalik. Tidak turun tangga, membuang sampah atau sekadar meludah. Kelihatan betul bahwa ia tidak punya kepentingan apa-apa selain melihat kondisi kelas kami, tepatnya, di bagian mana yang paling riuh. Bagaimanapun, si juara kelas itu tetaplah remaja biasa. Belum lama ia lepas dari Sekolah Dasar, dan ia bukan aktris profesional. Saya membaca gelagatnya, dengan akting yang lebih baik, saya pura-pura tidak tahu.

Pelan tapi pasti, saya meninggalkan kelompok terbesar. Duduk sendiri menghindari keramaian, sambil menunggu yang akan terjadi, buah dari laporan Mulyani kepada Bu Dasma.

Tak sampai 10 menit dari kembalinya Mulyani ke kelas 2A, Bu Dasma datang dengan ember kecil di tangannya. Ember hijau yang dimiliki semua kelas, setiap piket kelas mengisinya dengan air untuk cuci tangan guru atau petugas pencatat papan tulis. Air di ember itu telah keruh, mungkin sudah sekian tangan berkecipak di dalamnya. 

Wajah Bu Dasma datar saja. Kesan judes memang beliau punya, tapi bukan itu yang kali ini ditampilkannya. Air keruh melayang dari luar jendela bersama embernya. Kelompok teramai kuyup, ember hijau terhempas di atas meja.

Saat itu saya memang kurang ajar, tidak memberitahu kawan-kawan perihal Mulyani. Tapi jika saya beritahu mereka, tentu kejadian seru berikutnya batal terjadi.

Jangan kira kelas 2B akan dipenuhi sedu sedan anak-anak yang kebasahan, atau nyanyian murka para preman kelas yang harga dirinya terhempas seperti ember hijau. Sebaliknya, kegaduhan makin menjadi dengan gelak tawa. Entah di mana letak lucunya, tapi seisi kelas terpingkal-pingkal.

Tidak sampai di situ, ide Bu Dasma menyiram kami dengan air cuci tangan malah menginspirasi kawan-kawan saya untuk melakukan hal yang sama terhadap siswa lain.
Ember hijau milik kelas 2A diisi kembali dengan air. Lalu beberapa orang berjajar di sepanjang tembok depan kelas yang memagar. Saya tidak termasuk di antara mereka, tak senekat itu.

Bel istirahat berbunyi, segera saja para siswa menghambur ke luar kelas. Dari teras kelas kami yang posisinya paling atas, lantai batako dan tangga penuh oleh kepala. Hampir semua siswa menuju kantin, melewati lapangan upacara yang berada tepat di depan bawah kelas kami. Lalu, byuuurrr…. Mereka yang belum mencapai tangga kebasahan. Terdengarlah gelak tawa dari atas, dari depan kelas kami. 

Tidak ada siswa yang mengadu ke kantor guru, hal seperti itu biasa bagi seisi sekolah. Mengadu pun, kawan-kawan saya sudah menyiapkan jawaban. Mereka diajarkan oleh salah seorang guru yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....