Minggu, 11 September 2011

Seri Pengalaman 2


Mungkin saat itu saya belum masuk SD (saya tidak TK). Tidak ingat kapan tepatnya, yang jelas kala itu saya berada pada usia keranjingan jajan.

“Mak, jajan.” Saya tadahkan tangan ke hadapan Mamak (Ibu) yang hendak pergi memasak di rumah tetangga. Kalau diingat-ingat, agenda memasak itu sepertinya proyek catering seseorang, bukan sekadar gotong-royong. Mamak dan ibu-ibu di lingkungan rumah biasa dapat tambahan belanja dari pesanan musiman seperti itu.

“Jajan terus,” jawab Mamak. Beliau kemudian mengangsurkan uang logam 100 rupiah ukuran besar, sambil berpesan, “Jangan makan nasi ya, jajan be.”

Saya mengangguk.

Sepergi Mamak, dua ayuk (kakak perempuan) saya memasak sambal terong. Kelihatan nikmat sekali, saya bahkan hapal gerakan keduanya saat memindah sambal itu dari kuali ke piring. Yuk Eni dan Yuk Yuli, dua kakak yang memasak itu, mengajak saya makan. Tapi saya tolak.

“Makanlah, Dek, gek kami yang keno marah Mamak,” bujuk salah satu.

Dak ah, Mamak kok yang bilang jangan makan nasi,” kata saya menahan liur.

“Mamak tu icek-icek bae.” (Mamak itu pura-pura saja).

Saya tetap bergeming.

Dari awal siang hingga sore hari itu, saya benar-benar tidak menyentuh nasi. Siapa pun yang mengajak makan, saya tolak. Saya memegang teguh perjanjian, bahwa disebabkan uang jajan yang 100 rupiah itu, saya tidak akan makan nasi. Titik.

Maka pulanglah Mamak di ujung sore. Yang dicari pertama tentulah bungsunya, saya. Dan pertanyaan pertama seorang ibu pada anaknya yang masih kecil tentu saja, “Sudah makan?”
Saya pun menjawab, “Kan tadi Mamak bilang jangan makan.”

Mamak kaget, “Jadi Tari belum makan dari tadi pagi?”

“Belum.” Saya menggeleng bingung, kenapa beliau yang melarang, lalu sekarang beliau yang terkejut.

Betul dugaan kakak saya, Mamak marah pada mereka. Yuk Eni yang saat itu berada di rumah, membela diri bahwa ia dan kakak yang lain sudah berulang kali mengajak saya makan, tapi saya yang menolak.

Terburu-buru Mamak mengambilkan nasi, beliau angsurkan kepada saya dengan mata berkaca-kaca. “Lain kali makan yo, biar siapo pun bilang jangan makan.”

Sambil menerima suapan demi suapan dari Mamak, saya masih bingung. Kenapa Mamak melarang makan, lalu memarahi Ayuk yang tidak berhasil membujuk saya untuk makan. Dan sekarang malah menyuapkan nasi ke mulut saya.

Semuanya baru terjawab belasan tahun kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....