Sabtu, 13 Agustus 2011

esai biasa

Istilah ‘ngota’ (bahasa Jambi dan Sumatra Selatan) yang sering kita dengar, memiliki dua makna; ngobrol, dan yang berkonotasi negatif; berbohong. Sebenarnya, ngota pada versi konotatif merupakan kemampuan seseorang mengemas imajinasinya menjadi bahasa lisan yang menarik untuk disampaikan. Keberhasilan seorang pengota menciptakan ‘karya’ yang menarik, dapat dilihat dari berapa banyak jumlah audiens yang berhasil ia kumpulkan.

Makin banyak seorang pengota memiliki pendengar, makin lekatlah label negatif padanya. Akan jadi berbeda ketika ia mengemas imajinasi tadi dalam bahasa tulisan, maka si pengota akan naik pangkat menjadi pengarang, yang semakin banyak pembacanya, maka makin positif pelabelan masyarakat terhadapnya.

Tapi di dunia sastra, pengarang, atau penulis cerita, masih memiliki peluang untuk menyemat stigma negatif. Di sini yang bicara adalah karya. Bukan sekadar indah-tidaknya, tapi juga nilai kemanfaatan dan estetika.

Di bangku sekolah, pada materi mengarang, kita mengenal 7 unsur cerpen. Pada masa penulis dulu—dan sepertinya hingga hari ini, unsur amanah diletakkan di posisi akhir, atau paling tinggi nomor tiga dari belakang. Posisi satu biasanya dijuarai oleh ide atau tema. Fatalnya, banyak guru Bahasa Indonesia yang terlalu manut pada urutan yang ‘ditetapkan’ buku pegangannya. Maka, siswa dititah menulis cerpen dengan lebih dulu menentukan ide, tokoh, latar, alur, dst.

Sastra adalah kepiawaian mengolah kata, yang mana hal tersebut berkaitan dengan kreativitas. Menjadi kreatif perlu keberanian melangkahi aturan-aturan teoritis yang tak mengandung kebenaran mutlak. Tanpa maksud mentahbiskan diri kreatif, penulis lebih suka memulai tulisan dari unsur terakhir; amanah. Tujuannya adalah menghindari terciptanya karya sampah, yang dibaca sebagai hiburan, lalu dilupakan.
Memulai cerita dengan amanah berarti menulis pesan dengan cara yang indah. Kita tidak menulis dengan ide angin, tidak sekadar memamerkan kemampuan menyusun kalimat, tapi juga menyampaikan pendapat lewat seni. Halus menelusup. Tinggal bagaimana memoles agar amanah tersebut tidak terkesan menggurui pembaca.

Belajar dari para pendongeng anak yang umumnya menyisipkan pesan pada cerita, atau pada legenda yang beredar di masyarakat, yang meski tak masuk akal tetap mengirim pesan moral pada para pendengar/pembacanya. Amanah, meski selalu diakhirkan dalam teori sastra, sejatinya adalah bagian terpenting dari sebuah karya sastra.

Pengarang bijak pasti mengiringi karangannya dengan pesan kebaikan. Tidak kopong, apalagi menyesatkan. Bukan hiburan kosong, tapi nasihat berguna yang bisa saja tersirat atau tersurat jelas.

Memulai dari amanah juga membuktikan bahwa proses menulis dimulai dari membaca. Membaca buku atau lingkungan, dan berangkat dari rasa yang lahir melalui proses baca itu. Entah rasa itu berupa kekhawatiran, kekaguman, atau lainnya.

Ketika tak sependapat dengan opini umum di masyarakat, kita bisa sampaikan pendapat lain dengan sebuah karya sastra; semisal cerpen, novel, dan sejenisnya. Terluka hati pada pemimpin durhaka, sila tampar mereka dengan karya. Prihatin pada nasib ratusan juta orang miskin di negeri ini, juga bisa salinkan isi hati melalui tinta. Itulah gunanya karya, dinikmati sekaligus dihayati pembaca. Maka, karya sastra yang kaya rasa dan kaya warna, hendaknya juga kaya manfaat.
Berceritalah dengan makna, jangan sekadar ngota!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....