Senin, 02 Mei 2011

Masalah O, Masalah

“Di mana Ukh? Bisa jemput ana di DPW?”
Karena aku berada tak jauh dari tempat yang dimaksud, sebentar saja akhwat itu sudah kutemui. Keluar dari ruang kewanitaan, langkahnya gontai, ada sisa genangan di matanya.

“Nangisin apo?” tanyaku.

Genangan itu meluber. “Anti bayanginlah, sudah berapo kali ana kayak gini. Janjian liqo’ di DPW, MR-nyo nian dak datang!”

Tak kuikuti maunya kali ini, aku malas membayangkan liqo’ di DPW/DPD yang kotor.

“Emang janjiannya jam berapo?” sambil menuju motor.

“Jam tigo.”

Kukeluarkan ponsel di saku jaket, “Astaghfirullahal’azhim.” 17:05.

“Anti husnuzhannya hebat, sampe dak bawa motor karena yakin biso nebeng kawan liqo’, padahal ini bukan yang pertama. Untung ado ojek akhwat,” kucandai saja, walau garing!

Deretan paragraf di atas bukan potongan cerpen, apalagi puisi. Tapi adegan nyata sekitar 2 tahun lalu (dengan dramatisasi yang tidak mengurangi kesadisan fakta saat itu dan saat ini).

Di tempat lain semisal bank, perusahaan sawmil, dan lainnya kutemui akhwat-akhwat dengan permasalahan yang sama. Sedang musimkah?

Lalu seseorang bercerita padaku. Di sebuah kampus nan jauh dari pusat kota, seorang peserta mentoring yang cerdas bertanya pada mentornya, “Kak, untuk apa kami ikut mentoring?”

Si kakak menjawab antusias, “Ya supaya bisa masuk PKS.”
“Pabrik Kelapa Sawit?”

Dan setelah dijelaskan oleh seniornya, hari itu menjadi hari terakhir si mentee berada di halaqoh.

Di mana letak masalahnya? Apakah keliru jika seseorang masuk pada “proses penyeleksian” sebelum ia mendapat sematan “kader” di dadanya?

Da’wah ada 2, ilallah dan ilaththoghut. MR si senior barang kali lebih tahu.

Ibarat pohon, “kita” telah besar dan tinggi. Tidak lagi seperti rumput yang diuji lalu-lalang kaki, tapi sudah berhadap dengan angin dan petir. Sayang, tidak banyak yang menyadari bahwa pucuk pohon tidak bisa merunduk untuk mengelak dari tamparan petir, atau tiarap saat angin datang. Kekuatan pohon besar itu justru dari akarnya, dari awal ia bermula.

Tak usah heran dengan kasus-kasus besar yang mendera, mungkin memang ujian, tapi tak seorang pun bisa memastikan bahwa itu bukan teguran. Akar pohon sedang membusuk, halaqoh liqo’ tidak diisi para pencari ilmu atau pecinta da’wah, tapi da’i karbitan yang wajib liqo’ kalau mau jadi caleg. Liqo’ boleh libur—tanpa berpikir mencari mr sementara sebagai pengganti—jika panggilan rapat telah datang. Kita memandulkan akar yang potensial, demi pucuk yang sekali tebas bisa putus.
Ada sebuah cerita lagi.

Ketika itu seorang ummahat asyik dengan fbnya.

“Enak ya, utak-atik punya Yahudi, Zionis pula,” kataku.

“Dak apa-apa, ustadz-ustadz aja pada punya.”

“O, ustadz tak pernah salah. Kabarnya Fahri Hamzah ngucapin ‘selamat natal’.”

“Fatwa Yusuf Qardhawy, boleh kok.”

“Dulu Yusuf Qardhawy memfatwa haram produk Zionis, contohnya ya facebook.”

“Dulu kan fb belum ada.”

“Waktu turun ayat soal hijab, Rabbani juga belum buka.”

“Sudahlah, ustadz-ustadz itu ilmunya jauh di atas kita.”
Kusudahi saja, penutup yang tak intelek.

Konon, dulu ada budaya bayan yang dianggap bisa meluruskan masalah dan menyamakan persepsi atas perilaku asatidz tuntunan ummat di pusat sana. Sekarang, ikuti saja, mereka ustadz, para doktor, jadi tak mungkin salah.

Setelah ada yang berulah, tinggal ralat, kita kan jama’ah manusia, bukan malaikat.

Dikira setannya para doktor cuma tamatan SD.

Balik ke masalah fb, kusarankan seorang ummahat yang ngotot fb itu positif untuk lebih mempositifkan fbnya.

“Coba kakak liat fb yunior kakak. Tapi banyak istighfar, jangan syok ketemu akhwat pasang foto close-up, manggil abi-ummi dengan ikhwan, salam-salam dak penting sambil teriak-teriak da’wah.”

“Itu sudah bukan masalah lagi dek,” seorang ummahat lain nimbrung. “Urusan kita sudah jauh, yang kecil-kecil kayak gitu nanti hilang sendiri.”

Maka akar makin membusuk. Ada akhwat pacaran, ikhwan nge-take, dan naas, mereka adalah ummahat & ustadz masa depan. Semua karena ‘urusan kita sudah jauh’.

Halah, siapa sih Syarifah Lestari, tau apa dia soal tarbiyah!

1 komentar:

  1. dan akan selalu ada masalah, dimanapun? kapanpun? semoga Allah mendengar gelisah2 hati ini, dan selalu dikuatkan langkah2 kaki kita.

    BalasHapus

sila ngoceh di sini....