Jumat, 27 Mei 2011

pancasila

“Susah bener bikin soal PKN ni!” kak fenti ngedumel.

“Pancasila, satu…” mendadak aku bernostalgia masa muda, bayangin berbaris menantang panas pagi (yg sekarang sudah tidak sehat lg) di hadapan kibaran dua helai kain yg dibuat menjadi satu, merah dan putih. “kemanusiaan… apa kak?” tanyaku pd kak fenti. Ternyata hapalanku hilang, duh!
Terlalu banyak maksiatkah??

Beliau tertawa. “itu sila kedua.”

Aku mikir. “Oia, ketuhanan yg adil dan beradab.” Kayaknya keliru.

Trus dateng kak neni, beliau meluruskan. “Tari dak belajar P4 ya?” tanya beliau kemudian.

“dak.” Aku menggeleng.

“Wus, keren!”

Kak fenti ikut kaget, “Hebat!” kata beliau.

“Butir2 pancasila ya?” tanyaku lagi. “wong pancasilanya yg cuma lima biji aja tari dak hapal. pancasila kan bukan mukjizat, dipraktekin susah, dihapalin lenyap. Coba quran, tebel, tapi siapa pun bisa menghapal en mempraktikkan isinya.”

“Iya,” kata 2 seniorku itu.

“Yg keempat apa kak?”

Kak neni yg jawab, lancar banget. Trus kak fenti nyela, “entah apa maksudnya tu, kita dak ngerti.”

Sip! Ada yg bisa menafsirkan sila keempat pancasila? Aku malah lupa apa kalimatnya, permusyawaratan… perwakilan… au’ ah!

Jumat, 20 Mei 2011

'Aifah Tama Huwaida

Tadinya mo nulis buletin anak, tp batal gara2 abis ngelilingi gugel.

Siang tadi, pulang kerja pas lagi capek2nya, aifah ngasih hiburan dg bertepuk tangan. Subhanallah, aku langsung teriak kaget campur girang. “anak ummi hebat bener!” kataku.

“udah dari kemaren2 kale! Emang dak liat waktu di rumah eyang?” abinya yg jawab (ya lah, kalau aifahnya mungkin aku malah pingsan).

Abis nyuci, iseng2 sambil makan aku browsing, cari di gugel dg kiwot “anak bisa bertepuk tangan pada usia”. Taraaa, ternyata lek gugel bilang bayi bisa bertepuk tangan pd usia 9-10 bulan. Lah, hari ini aja aifah belum 8 bulan! Malah di salah satu blog, penulisnya bilang, ‘jgn berharap pd usia 8 bulan anak bs bertepuk tangan, krn kemampuannya blm sampai ke sana.’ Tape deh.

Aifah anak baik (ini panggilanku untuknya, selain aifah shalihah, aifah cantik, aifah baik budi, aifah baik akhlak, aifah cerdas, aifah hebat. Itulah doa orangtua) jg lebih cepat menggerak2an jari, bermain mata, dll di bawah usia yg disebutkan lek gugel.

Lucunya, ke mana2 aifah seneng bener bawa spidol atau pena. Kalau diambil pasti ngamuk, tapi boleh2 aja kalo izin baik2 sm dia. Dikasih, tp diliatin trus ke mana perginya tu spidol/pena. Selain itu, bocahku nan indah jg bertanggungjawab. Dia lempar spidol ke bawah spring bed, trus diambilnya sendiri dg cara membungkuk ke bawah. Aku ngawasin aja, krn masa bayi emang bukan umurnya banyak aturan.

Ngomong soal aturan, gak nyangka hari gini masih banyak ortu yg ngelarang2 bayinya. Gak boleh kelayapan, padahal mengeksplor ruangan adalah belajar yg mengasyikkan baginya. Gak boleh main kotor, padahal kan yg kotor bajunya, bukan otaknya. Baju kotor bisa dicuci, kalo susah pake aja pemutih. Rusak, beli lagi. Gak usah mahal2 kalo takut miskin gara2 beli baju anak.

Selain banyak aturan, ada juga kebiasaan buruk di masyarakat yg suka melabeli anak dg sebutan yg sebenarnya bisa membentuk karakter si anak sesuai sebutan itu. Seperti nakal, malas, cengeng, pemalu… dr ortu gak SD sampe yg bergelar doktor, masih banyak yg kolot kayak gini.

Ada bawaan jadul yg menimpa aifah, yakni soal berat badan. Krn anakku cuma beda sebulan sm kk sepupunya yg gendut minta ampun, aifah di keluarga dianggap kurus. Dikira kurang gizi (mentang2 emaknya kurang duit), padahal dr kms dan berbagai informasi yg berhasil kukumpulkan, berat aifah normal. Emang gak gemuk, tapi apa hebatnya gemuk? Kecil aja lucu, dah gede gakda lucu2nya! Aku dah buktiin pas liat kaca, bener2 gak lucu posturku hari ini… percayalah, gemuk bukan prestasi!

aifah jauh lebih aktif dr sepupunya (karena kakakku yg anaknya ndud gak mungkin sampe ke blog ini), dia juga lebih responsif, cepat meniru, dan tidak penakut. Aifah biasa berkelana saat umminya kajian, memanjati satu per satu penghuni majlis, ikut tertawa saat orang2 tertawa (bukan sekadar nyengir, tapi bersuara ha ha ha), dll prestasi sbg bayi. Sekarang, pr ortunya adalah, bagaimana mempertahankan modal kecerdasan ini, mengetahui potensinya sejak dini, dan paling penting; menjaga lingkungan agar akhlaknya terjamin islami.

ya Rabb, anakku jelas bukan nabi, tp jagalah ia sebagaimana Kau menjaga para pewaris nabi. Aamiin.

Senin, 02 Mei 2011

Masalah O, Masalah

“Di mana Ukh? Bisa jemput ana di DPW?”
Karena aku berada tak jauh dari tempat yang dimaksud, sebentar saja akhwat itu sudah kutemui. Keluar dari ruang kewanitaan, langkahnya gontai, ada sisa genangan di matanya.

“Nangisin apo?” tanyaku.

Genangan itu meluber. “Anti bayanginlah, sudah berapo kali ana kayak gini. Janjian liqo’ di DPW, MR-nyo nian dak datang!”

Tak kuikuti maunya kali ini, aku malas membayangkan liqo’ di DPW/DPD yang kotor.

“Emang janjiannya jam berapo?” sambil menuju motor.

“Jam tigo.”

Kukeluarkan ponsel di saku jaket, “Astaghfirullahal’azhim.” 17:05.

“Anti husnuzhannya hebat, sampe dak bawa motor karena yakin biso nebeng kawan liqo’, padahal ini bukan yang pertama. Untung ado ojek akhwat,” kucandai saja, walau garing!

Deretan paragraf di atas bukan potongan cerpen, apalagi puisi. Tapi adegan nyata sekitar 2 tahun lalu (dengan dramatisasi yang tidak mengurangi kesadisan fakta saat itu dan saat ini).

Di tempat lain semisal bank, perusahaan sawmil, dan lainnya kutemui akhwat-akhwat dengan permasalahan yang sama. Sedang musimkah?

Lalu seseorang bercerita padaku. Di sebuah kampus nan jauh dari pusat kota, seorang peserta mentoring yang cerdas bertanya pada mentornya, “Kak, untuk apa kami ikut mentoring?”

Si kakak menjawab antusias, “Ya supaya bisa masuk PKS.”
“Pabrik Kelapa Sawit?”

Dan setelah dijelaskan oleh seniornya, hari itu menjadi hari terakhir si mentee berada di halaqoh.

Di mana letak masalahnya? Apakah keliru jika seseorang masuk pada “proses penyeleksian” sebelum ia mendapat sematan “kader” di dadanya?

Da’wah ada 2, ilallah dan ilaththoghut. MR si senior barang kali lebih tahu.

Ibarat pohon, “kita” telah besar dan tinggi. Tidak lagi seperti rumput yang diuji lalu-lalang kaki, tapi sudah berhadap dengan angin dan petir. Sayang, tidak banyak yang menyadari bahwa pucuk pohon tidak bisa merunduk untuk mengelak dari tamparan petir, atau tiarap saat angin datang. Kekuatan pohon besar itu justru dari akarnya, dari awal ia bermula.

Tak usah heran dengan kasus-kasus besar yang mendera, mungkin memang ujian, tapi tak seorang pun bisa memastikan bahwa itu bukan teguran. Akar pohon sedang membusuk, halaqoh liqo’ tidak diisi para pencari ilmu atau pecinta da’wah, tapi da’i karbitan yang wajib liqo’ kalau mau jadi caleg. Liqo’ boleh libur—tanpa berpikir mencari mr sementara sebagai pengganti—jika panggilan rapat telah datang. Kita memandulkan akar yang potensial, demi pucuk yang sekali tebas bisa putus.
Ada sebuah cerita lagi.

Ketika itu seorang ummahat asyik dengan fbnya.

“Enak ya, utak-atik punya Yahudi, Zionis pula,” kataku.

“Dak apa-apa, ustadz-ustadz aja pada punya.”

“O, ustadz tak pernah salah. Kabarnya Fahri Hamzah ngucapin ‘selamat natal’.”

“Fatwa Yusuf Qardhawy, boleh kok.”

“Dulu Yusuf Qardhawy memfatwa haram produk Zionis, contohnya ya facebook.”

“Dulu kan fb belum ada.”

“Waktu turun ayat soal hijab, Rabbani juga belum buka.”

“Sudahlah, ustadz-ustadz itu ilmunya jauh di atas kita.”
Kusudahi saja, penutup yang tak intelek.

Konon, dulu ada budaya bayan yang dianggap bisa meluruskan masalah dan menyamakan persepsi atas perilaku asatidz tuntunan ummat di pusat sana. Sekarang, ikuti saja, mereka ustadz, para doktor, jadi tak mungkin salah.

Setelah ada yang berulah, tinggal ralat, kita kan jama’ah manusia, bukan malaikat.

Dikira setannya para doktor cuma tamatan SD.

Balik ke masalah fb, kusarankan seorang ummahat yang ngotot fb itu positif untuk lebih mempositifkan fbnya.

“Coba kakak liat fb yunior kakak. Tapi banyak istighfar, jangan syok ketemu akhwat pasang foto close-up, manggil abi-ummi dengan ikhwan, salam-salam dak penting sambil teriak-teriak da’wah.”

“Itu sudah bukan masalah lagi dek,” seorang ummahat lain nimbrung. “Urusan kita sudah jauh, yang kecil-kecil kayak gitu nanti hilang sendiri.”

Maka akar makin membusuk. Ada akhwat pacaran, ikhwan nge-take, dan naas, mereka adalah ummahat & ustadz masa depan. Semua karena ‘urusan kita sudah jauh’.

Halah, siapa sih Syarifah Lestari, tau apa dia soal tarbiyah!