Sabtu, 20 Maret 2010

PACARAN ISLAMI


PACARAN ISLAMI
Syarifah Lestari

Bahwa dalam Islam pacaran sebelum menikah adalah haram, mayoritas kita mengetahuinya. Sebagian dari kita menyadarinya, tapi sedikit yang mengindahkannya. Lain kalangan, lain pula ‘model’ pacarannya, bukan tergantung pada tingkat pemahaman, tapi kepandaian bersiasat masing-masing pribadi.
Pacaran Awam
masyarakat awam yang belum paham terhadap aturan Islam menilai pacaran sebagai ajang seleksi. Adab dengan lawan jenis lebih mengacu pada susila umum yang didapat semata-mata dari pengamatan secukupnya. Tentu saja, aturan yang dibuat oleh manusia hanya berlaku selama ada manusia yang mengawasi. Jika tidak, nafsu dan setanlah yang bicara. Hasil dari perbuatan yang tidak sesuai tata moral di masyarakat adalah aib, yang hanya mengakibatkan sanksi sosial. Sementara, sanksi sosial sudah lama tumpul sejak para selebritis memamerkan aibnya dengan tersenyum bangga di layar kaca seluruh dunia.
Pacaran (Sok) ‘Islami’
Maraknya jilbab di lingkungan sekolah, kampus, dan kantor, sebenarnya lebih kepada indikasi tren berpakaian daripada meningkatnya pemahaman agama. Hal tersebut dapat dilihat dari busana rumah atau lingkungan pemukiman yang pada umumnya tak tersentuh jilbab. Artinya, jilbab hanya dikenakan untuk menjaga aurat selama di sekolah, kampus, atau kantor. Bukan di luar rumah secara keseluruhan.
Tapi tren ini kemudian didukung oleh pelaku bisnis televisi, macam hiburan dikemas paksa menjadi lebih ‘islami’, bahkan sampai ke soal pacaran. Maka bertaburanlah contoh-contoh sesat pacaran ala orang saleh; berjalan berdua ke masjid, saling pandang sambil saling menasihati, atau berpegangan tangan tapi malu-malu. Modal islaminya cukup pakaian koko dan jilbab mini yang disponsori merek jilbab dengan berbagai model aneh bin ajaib (baca: ngejreng dan membentuk tubuh).
Yang di atas jelas punya andil besar terhadap melencengnya pemahaman awam tentang Islam, terutama adab pergaulan dan berpakaiannya. Dan makin memperkuat stigma, bahwa Islam kaaffah adalah kolot, sempit, serta fanatik yang terjerumus pada terorisme.
Pacaran Aktivis
Siapa bilang aktivis Muslim tak terjangkit pacaran? Meski efeknya tak separah pacaran sok islami, tapi kadar tragisnya tetap parah. Entah salah zaman atau pribadinya. Mungkin aktivis terdahulu tak menyisakan masalah yang urgen untuk diselesaikan, sehingga aktivis masa kini cenderung mendramatisir masalah kecil untuk dapat berinteraksi lebih jauh dengan lawan jenis di luar waktu rapat organisasinya.
Bisa jadi berawal dari sms undangan rapat, lalu dibalas dengan izin tidak hadir karena sakit, kemudian dibalas lagi semoga cepat sembuh, lalu ucapan terima kasih. Kemudian kalimat merendah bahwa kita bersaudara, jadi doa itu biasa saja. kemudian keluh kesah bahwa yang lain tidak memperhatikannya seperti saudara, kemudian dan kemudian. Sejoli ini lalu enteng mengisi materi Mahabbatullah di hadapan para mad’u-nya.
Tentu saja hal demikian tidak akan tabu di hadapan awam, jauh lebih sopan dibanding orang saleh ala televisi. Tapi cukup membuat iblis terbahak-bahak.
Kecenderungan pada lawan jenis adalah hal yang wajar, bahkan bukti bahwa kita normal. Islam tidak melarang, karena Allah yang mengaruniakan rasa tersebut. Segalanya datang bersamaan dengan hikmah, agar Allah melihat siapa yang lebih baik amalnya. Yang mampu menata hatinya, yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan yang sesuai ucapan dan lakunya.
Jika syariat tak lagi mampu membendung syahwat, maka kelak akan banyak para bapak yang tidak berhak menjadi walinikah anak perempuannya sebab zina berlabel pacaran. Itu baru sanksi dunia, bagaimana dengan akhirat? Allahua’lam.

3 komentar:

  1. Wah, kayaknya harus banyak menimba ilmu sama yang sudah pengalaman nih....
    maksudnya pengalaman yang positif)

    BalasHapus
  2. baru tawu..ternyata pacaran memiliki tipe dan klasifikasinya...atau bole jadi taksonomi pacaran..hahahahahaha

    BalasHapus
  3. ya yu.. hati2 be ikhwan tengik beredar di sekitar kita... hahaha

    BalasHapus

sila ngoceh di sini....