Senin, 22 Maret 2010

KALIAN MENYUARAKAN SUARA SIAPA?


Terinspirasi dari kamar mandi seorang ukhti yang bisa membuatku—na’udzubillah—menjadi ‘ujub.
Hari itu kajian rutin dilangsungkan di rumah salah seorang dari peserta kajian, rumah ummahat yang sejak lajang insyaallah telah kukenal baik. Beliau periang, humoris dan rada hiperaktif. Lebih kuranglah denganku.
Aku, adalah orang biasa yang sering kehabisan kanvas rem jika bicara. Divonis hipertensi karena temperamen tiada tara saat bicara zionisme. Dan di kajian rutin itu, ukhti yang kusebut di atas, dulu sehari-hari menggunakan hp nokia. Aku kenal dia, aku yakin dengan pemahamannya, dan ia tahu kekerasanku (ini pilihan kata milik orang lain). Maka kulabrak saja, “Aktivis Muslim model apa yang teriak-teriak save Palestine tapi berkhianat dengan menyumbang pada zionis??”
Jawabannya klasik bin standar: “inilah yang murah, tar!”
Lalu kubuat kiasan selevel logika kelas bawah, “kalo anti ditampar orang kafir, kemudian sebagai sodara ana berikan dia sepatu untuk menampar lagi, kira-kira anti marah dak ke ana?”
Beliau diam, tidak seperti orang lain yang suka debat panjang lebar demi sebuah pembenaran atas kalimat hidden ‘aku senior, aku ustadz,’ atau apalah yang berarti serbabenar serbapintar.
Setelah itu, aku tak mau peduli. Yang penting aku sudah menyampaikan, dengan tetap berharap akan ada perubahan. Alhamdulillah, Allah mengabulkan. Hp nokia rusak, beliau kemudian menggantinya dengan soner. Lalu soner hilang, ganti nexian.
Tak hanya soal nokia. facebook, nestle, danone, parker dan lainnya pun kusebut di mana bisa. Aku tak peduli pada hasil, karena Allah lebih menilai proses. Maka tanpa kusadari, BERKAT HIDAYAH ALLAH hp nokia mulai berkurang peredarannya di kalangan akhwat sekitarku.
Ya, di kalangan akhwat. Entahlah ikhwan. Tapi, di kalangan asatidz? Allahu akbar, bahkan dpd partai dakwah menyediakan sarana bagi pengurusnya dengan hp yang kabarnya lebih familiar, gampang digunakan, dan murah itu! Betul, semurah harga nyawa saudara Palestinamu.
Bahkan di sebuah majlis besar seorang ustadz ringan bicara, “ana aja pake nokia.” Sebuah fatwa.
Lalu seorang ustadz lain mematikan energi dengan mengatakan, “kita tidak akan bisa lepas dari yahudi.” Motivator hanya bisa bicara menjadi kaya, cerdas, tapi tidak soal idealisme.
Kembali ke kamar mandi. Dulu aku sempat kecewa dengan seorang ummahat yang di kamar mandinya bertabur produk Unilever. Entah kenapa lalu aku menjadi maklum, mungkin karena sangat terlalu terbiasa. Tapi tidak dengan hari itu, semangatku terpompa saat menyaksikan kamar mandi saudaraku ini bersih dari barang-barang zionis. Tidak satu pun! Ciptadent, daia, zinc.... kau hebat kawan, meski belakangan jarang ikut aksi. Karena sebenarnya itu bukan aksi, tapi sekadar orasi basi.
Nanti cerita aksi dan orasi. Aku terperangah lagi ketika salah seorang sahabat yang dulu ikut mengecam zionisme. Ia tidak berfacebook-ria, hp dan simcardnya aman. Tapi ketika jauh dariku, ia buat akun facebook lain, setelah yang sebelumnya ditutup. Lalu sengaja memperlihatkan nomor indosatnya melalui sms ketika marah padaku.
Demi Allah, aku tidak ingin pujian kalian saat menyerukan boikot zionis. Aku tidak ingin jadi ilah yang kalian takuti dan patuhi. Pandanganku terbatas, jika kalian menjulurkan lidah bergambar bendera israel (seperti logo rolling stone) pun di belakangku, aku tidak akan tahu. Tapi Allah maha melihat, sobat!
Oya, ada lagi alasan tak masuk logika tarbiyah yang dilayangkan seorang bapak. “kalau kita nggak pakai produk zionis, gimana nasib orang-orang Islam yang bekerja di pabrik produk itu?”
Aha, syahadat! Tidak mungkin kuulang materi tauhidullah di depan para senior. Jangankan nasib orang sepabrik, atau bahkan seribu pabrik. Manusia se-planet ini pun dijamin Allah rezekinya! Tinggal pilih, mau jemput rezeki atau ongkang-ongkang nunggu keajaiban di rumah.
Lagipula, kenapa tidak berpikir sebaliknya. Jika pabrik zionis roboh, bukankah seharusnya ada pabrik Muslim yang lahir, tumbuh, dan berkembang. Tidak pede kan?!
Suatu hari, sebuah imbauan berbau keharusan menyebar di hp kami, ‘para pengusung risalah Nabi’ (perhatikan kutipnya). Aksi solidaritas Palestina. Gagah bukan main kedengarannya.
Tapi aku kehilangan trombosit jihad a la jalanan itu. Aku malu bergabung, berbaris, berteriak ‘khaibar khaibar ya yahud’, menangis ‘Allahummanshur mujahidina fi filisthin’ tapi tak mampu menahan diri dari facebook, dari cocacola, kfc, mc d, adidas, motorola... dengan alasan: ustadz juga pake.
Aku tak sanggup memasuki barisan itu, yang dikawal malaikat tapi dikentuti iblis (bahasaku saja, sama sekali tidak ada riwayat shahih yang menyebutkannya). Menyumbang 10 ribu untuk palestina, tapi 500 ribu untuk israel raya lewat produk zionis. Menolak boikot atas nama dompet dan perut, lalu sekarang berteriak kebebasan untuk Palestina. Atas nama apa? Partai, ihtiram pada murobbi, atau hobi kumpul-kumpul?
Biarlah aku begini, bicara tanpa kekuatan. Mestinya, jika sebuah lembaga mampu memanggil kadernya untuk berbondong-bondong turun ke jalan, ia juga mampu merantaikan titah boikot dari satu hp ke lainnya. Ini bukan perkara bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Malu, atau tak punya malu.

(kupinjam pedang umar, tapi katanya, pakai keyboardmu saja)

7 komentar:

  1. bismillah...
    syukron utk tausyiahnya, tanpa sadar kita salah, tapi kita sadar kita berbuat salah...
    astaghfirullah...

    (wanna be istiqomah)

    BalasHapus
  2. mmm.. (saling mendoakan)

    BalasHapus
  3. lebih mual kalo kk ikut aksi kemaren. para barisan akhwat berfoto ria memegang bendera palestina dgn hp nokia/motorola..mengupdate status fb-nya smbil teriak save palestine..prett.

    BalasHapus
  4. prihatin sekali, banyak yang teriak "boikot produk yahudi dan amerika", tapi mereka telan produk pemikiran yahudi dan amerika, mereka pakai produk itu dan dijadikan millah.. maka george w bush ketawa senang ketika didemo saat berkunjung ke Indonesia, karena ajarannya yang dibawa (demokrasi, demo dll) telah menyebar bahkan dipake untuk menyambutnya...
    bahkan tidak pernah kita dapati para sahabat memboikot produk kafir, bahkan sebaliknya sumur milik Utsman radhiallohu 'anhu yang diboikot orang kafir...

    BalasHapus
  5. zaman dulu qt lebih unggul, produk yahudi yg mana mo diboikot. org kafir eropa lebih care drpd muslim asia. yg di sini marah dg kemampuan sodaranya krn dia dak mau berbuat apa2, dak kuat ngelawan syahwat konsumtifnya

    BalasHapus
  6. For: Berita Muslim
    begitulah ummat islam yang hanya modal mendengar, tanpa terus menggali khazanah keilmuan Islam. fiqh itu penting, tapi islam tidak melulu bicara fiqh. ada banyak siroh sahabat dan sejarah islam yang harus kita baca.

    Jgn hanya duduk, mendengar dan merekam saja. Islam ini samudera ilmu. banyaklah membaca, karena bila hanya modal mendengar, dan mengikuti, itu berarti kita telah melakukan taklid buta.

    BalasHapus
  7. Dukung ajha yang baiknya saja,,,selama itu masih bernilai ibadah.

    BalasHapus

sila ngoceh di sini....