Jumat, 08 Mei 2009

gak fokus

“Semangat kalian itu…” beliau cukup gembira, tapi agak keberatan. “Dak ado yg mewadahi. Jadi…”

“Tenang be lah uni,” setengah mati aku berusaha tetap sopan. Plis, tar, jangan motong omongan orang. Itu namanya kurang kerjaan, eh kurang ajar.

Kusampein keberatan sang uni ke kawan2 di dp-bpm. Kita melangkahi (teet! Sensor…). Mereka terbelalak (biasa aja kale!)

“Tapi kalo kita nunggu organisasi itu…” mereka panas.

“Antunna tenang be lah.” (2x, kata ayu, ‘tenang be lah’ adalah kalimat favoritku!)

“Kalo anti diundang, kita datang semua ya!” Re berapi2.

“Iyalah, diundang satu berarti diundang semua!!” Ria apinya lebih tinggi.

Ratih gak kebagian ngomong.

Bla..bla..bla…. kita bahas abis. Hasilnya, ‘semua akan baik2 saja!’

Trus re curhat ttg kondisi kantornya yg msh disesaki sisa2 orba, isinya para spesies feodal. Ingin kubilang: menangislah, karena airmata diciptakan untuk menghanyutkan duka. Walah, bisa dijitakin rame2. Sodara2ku ini gayanya aja ngeraton, aslinya gokil juga.

Gak nyangka, dari jogja, padang, jkt, semua tersatukan di jambi. Entah gimana qt bisa jd tim. 4 akhwat yg tiap rekrutmen balik2nya ber-4 lg. skrg re sdg dijatuhkan mentalnya oleh para senior, ria kmrn2 bingung milih stay here or stay there, ratih masih kyk dulu, jd apoteker manut. Kayaknya yg py jiwa pemberontak cuma aq. Hihi. Kalo zaman belanda mungkin aq udah mati ditembak. kalo di palestin udah koyak2 badan. Di jambi paling disinisin. Egp!

2 komentar:

sila ngoceh di sini....