Jumat, 17 April 2009

Sayembara Berhadiah

ini cerpen yg lamaaa banget gak kelar2. ada yg punya ide untuk sekadar ngasih konflik? mo sekalian ending juga boleh. upahnya, ente boleh download novel ini. nyastra abis, keren luar biasa! tapi beneran kasih konflik ya...


Ketika nyalain PC, aku cuma berpikir, aku harus nulis! Walaupun kemudian Word nunggu dengan kertas kosong, dan monitor nonton orang bengong di mukanya. Ujung-ujungnya Muse atau ar-Royyan berkoar-koar dari Winamp. Suaranya agak fals, karena ada yang ikut-ikutan nyanyi. Siapa lagi kalau bukan yang di muka monitor!
Untuk apa aku nulis? Jujur, untuk kaya.

99% orang sejagat gak akan percaya. Tapi aku percaya, meski mungkin 1% sisanya itu ya cuma aku. U know, keyakinan adalah kekuatan besar yang dengannya separuh pekerjaan luluh. Jadi, aku hanya tinggal mengerjakan separuhnya lagi.
Aku yakin.

Itulah empat paragraf penyemangatku dulu, hingga aku bisa seperti sekarang: masih semangat menulis. Kaya? Jangan ditanya. Aku punya komputer pentium 3 yang sekarang susah dicari pembelinya; ponsel polyphonic yang cuma bisa nelpon dan terima telpon, tanpa kamera, gigi biru, bahkan radio; motor bebek yang suka molor, untuk banguninnya betis kanan wajib pegel total. Engkol, Bang..!

Tapi di situlah letak kekayaanku, yakni dengan tidak mengeluh. Ya lah, mengeluh bagiku sama dengan mengkuadratkan penderitaan. Lagipula, di mana letak penderitaanku? Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk menopang hidupku sampai hari ini.
...
tubi kontinyu

4 komentar:

  1. ane baru nyadar,ada yg ganjil dr pembuka cerpen ini. ada yg tau??

    BalasHapus
  2. yupz, 4 paragraf. padahal kan cuma 2! maklumlah, penulisnya emang gitu. gak teliti, buru2, ambrukadul. tp dia baek loh, brani sumpah deh! hihi

    BalasHapus

sila ngoceh di sini....