Jumat, 03 April 2009

Kosong (cerpen lama)


Tiba-tiba saja aku jadi malas menulis, perempuan sumber inspirasiku sekonyong-konyong raib sebulan terakhir ini. Gadis yang baru melepas masa remaja itu lenyap tak berkabar, surat, bahkan tanpa firasat. Aku kehilangan dia begitu saja. Blas. Hilang.

Kertas-kertas berserakan dan pulpen yang berguling ke sana kemari tertendang semakin membuatku suntuk. Mati ide. Baru kusadari, ternyata kemampuanku payah. Belakangan aku hanya berkutat pada tema-tema cinta dan perempuan. Fiksi dan nonfiksi, semuanya selalu tentang dua hal tadi. Redaktur koran dan majalah akan kehilangan tulisan-tulisan Sukojoyo jika terus-menerus begini. Sungguh, aku tak peduli pada komentar mereka, juga pada para penggemar yang tak pernah melihat tampang sederhanaku ini. Atau pada kegembiraan penulis-penulis kacangan yang peluang mereka lolos media lebih besar karena berkurangnya pesaing.
Tapi satu yang kupedulikan, kantongku. Saku ini akan lebih dalam melesak jika jariku tak menghasilkan apa-apa. Apa yang bisa dihasilkan sepuluh jari ini jika kepalaku kosong? Kepala kosong berarti kantong kosong. Dengan kantong kosong, bersiaplah perutku pun akan kosong.

Ibu tak kalah senewennya denganku, gaji Bapak yang tinggal separuh menjadi pemicu. Bukan karena turun pangkat atau kurang proyek, tapi ada rumah lain yang dibiayainya, begitu tebak Ibu.

"Bapakmu mulai main api, Yo!" Ibu datang lagi, mengadu pada anaknya yang juga sedang uring-uringan.

"Kenapa..."

Belum lagi usai pertanyaanku, Ibu menyodorkan handphone-nya. "Lihat!"

Mlm ini ada jnji dg rkn krja. Sy tlat...

Tak sempat kubaca semua pesan di layar handphone Ibu, karena tangannya dengan cepat menarik kembali benda itu.

"Bapakmu pulang telat lagi. Ada mitra ingin ketemu, katanya."

"Barangkali memang begitu," belaku mengimbangi panas Ibu.

"Ibu ini perempuan, Yo. Firasat Ibu sebagai istri dan ibu sangat tajam. Ibu tau ada perempuan lain di kepala Bapakmu."

"Kenapa tidak Ibu tanyakan langsung?"

Ibu termenung sejenak, kemudian matanya sesekali melirikku. Aku pura-pura tak memperhatikannya. Kertas, wajah Ibu, dan komputer yang terlalu sering hang membuat otakku buntu.

"Sepertinya ide bagus. Ibu akan tanya langsung ke Bapak!"

Ibu bergegas pergi. Tinggal aku yang kebingungan, itu bukan ide, hanya kalimat penutup agar Ibu cepat pergi dari sini. Aku butuh sendiri.

Sepeninggal Ibu, kucoba rapikan rumah, ruang sederhana pemberian Bapak sebagai modalku menyepi. Jauh dari rumah orang tua yang selalu riuh oleh suara tetangga yang beradu jendela, juga dari bisingnya salak anjing dan kucing yang adu lari di pagi dan sore hari.

Hingga sepekan lamanya, aktivitasku tak jauh dari beres-beres. Kubiarkan ilham menguap begitu saja tanpa sempat menjadikannya sebuah tulisan utuh, apalagi sebentuk buku. Aku tak ingin dipengaruhi mood, aku ingin bisa menulis kapan aku mau, dan meninggalkannya jika itu yang kuinginkan. Tapi pada saatnya nanti, jika lapar perutku sudah tak tertahankan, mau tak mau aku harus menulis, agar rekeningku berisi, dan perutku pulih kembali. Itu pun jika tulisanku berhasil terjual. Jika tidak, tentu pulang ke rumah orang tua. Menemui kebisingan, suara gunjing dan maki tetangga yang serupa umpatan anjing dan kucing adu lari.

Hari ini Ibu datang lagi, tidak mengaum seperti hari-hari sebelumnya, tapi menangis. Mata Ibu bengkak, hidungnya memerah dengan bibir bergetar.
"Bapakmu punya pacar!" adunya.
Aku seperti terhimpit, Ibu dikhianati suaminya, aku ditinggal pujaanku. Kurasa berbagi takkan membuat masalahku terbagi. Kami sama egoisnya jika sedang bermasalah. Ibu ingin aku mendengarkannya, tapi aku merasa tak perlu melakukan itu karena aku pun tak butuh orang lain untuk mendengar keluh kesahku. Biar kutelan sendiri.
"Yo, kamu dengar Ibu, kan? Kenapa laki-laki tak pernah cukup dengan satu perempuan?"
Aku justru ingin bertanya pada Ibu, kenapa perempuan merasa tak aman dengan laki-laki tanpa pekerjaan tetap? Padahal aku tetap bekerja––kurasa itu lebih penting. Tidakkah mereka tahu, ada banyak penulis yang kaya di dunia ini?
"Hm," aku hanya sanggup menggumam.
"Sekarang bagaimana, apa yang harus Ibu lakukan?"
"Bagaimana dengan anak Ibu yang lain, apa usul mereka?"
"Ibu belum ke mana-mana, Ibu pikir seorang penulis lebih bijak. Buktinya, kalian bisa menceritakan hal-hal dan tempat jauh yang kalian sendiri belum pernah merasakan atau menjejakkan kaki di sana."
Perempuan memang pandai memuji.
"Saranku, suruh saja Bapak menikahi perempuan itu, Bu," jawabku apa adanya. Kali ini yang kulontarkan benar-benar sebuah usul.
"Apa?" Ibu membelalak.
"Ya, daripada Ibu dibohongi. Biar jelas siapa perempuan kedua Bapak itu."
"Kamu gila, Yo! Dasar penulis sinting!"
Serta merta Ibu pergi dari rumahku. Ocehan berisi maki dan umpat berceceran di sepanjang jalan menuju mobil yang diparkir di pinggir jalan raya. Berani bertaruh, penulis sinting ini besok akan Ibu datangi lagi.
Aku kembali beres-beres. Atap, dinding, tiang, sampai lantai kamar mandi kubereskan. Membuatku lapar, bahkan sangat lapar. Dan dengan itu, aku terpaksa menulis. Tulisan tentang orang-orang kelaparan di Palestina, Darfur, Aceh, Sidoarjo, di sebelah kantor walikota, 5 meter di belakang rumah Pak Lurah, dan di sekitar rumahku. Semua itu membuatku kekenyangan.
Sesaat aku lupa pada masalah klasik seorang bujangan, juga seorang istri yang merasa terancam pada perubahan perilaku suaminya. Keasyikanku mengalahkan segala penat dan beban. Barangkali jangkrik-jangkrik dan kodok di luar keki, karena koar mereka tak berarti apa-apa di telingaku.
Gelap hitam malam melorot ke barat, matahari penanda pagi menyembul malu-malu di belakang kiblat. Bukuku hampir selesai. Tulangku berderak-derak minta diluruskan. Aku yakin isi rekening sebentar lagi akan mampu mengganjal perut dan sedikit memeriahkan rumah yang terlampau sederhana ini. Aku yakin, yakin sekali. Apa lagi yang dipunya penulis belum kaya seperti aku, kalau bukan keyakinan.
Ibu menelepon ke handphone, kudengar suaranya riang. "Yo, ternyata kamu benar. Setelah konsultasi dengan ustadzah di pengajian, Ibu berkeputusan untuk meminta Bapakmu menikahi perempuan itu. Daripada dia jajan, terus Ibu ditulari penyakit macam-macam. Daripada dia punya simpanan di sana sini bagi-bagi gaji, daripada...."
Aku tersenyum menang. Kantukku memaksa untuk meninggalkan handphone yang mengoceh itu di meja. Aku terlelap, mengakhiri perjuangan melawan lapar dan kantuk untuk sebuah buku.
***
Setelah dua bulan Bapak menikah, aku pindah rumah. Sisa-sisa royalti kusikat habis untuk ongkos dan sewa rumah. Tak ingin tanggung-tanggung, aku berpisah pulau dari orang tua dan saudara-saudaraku.
Sekarang aku harus mati-matian menulis. Lupakan cinta, lupakan perempuan. Bukan cuma ide, badanku pun bisa mati jika masih berkutat pada dua tema itu. Tidak ada artikel, cerpen, apalagi buku jika aku masih mengingat-ingat hari di mana perempuan pujaanku bersanding dengan suami Ibu, bapak kandungku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....