Selasa, 31 Maret 2009

Ayo Baca, Mari Nulis!


Harusnya pagi ini aku siap-siap menghadiri acara pembukaan peringatan Hari Ibu yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) ar-Rahman, Rohis Universitas Jambi. Tapi dari kemarin nggak ada kabar lagi, ya sudah. Yang bikin sedih bukan masalah undangannya, tapi lomba.
Tiap tahun, entah itu April atau Desember, biasanya beberapa organisasi memintaku jadi juri lomba menulis. Kadang puisi, cerpen, atau esai. Desember ini, sama dengan April atau Desember lalu, atau mungkin lebih buruk. Sampai detik ini, belum ada naskah yang masuk!
Ada apa dengan Jambi? Atau, ada apa dengan Indonesia? Kenapa kita kesulitan merangkai kata-kata dalam bentuk tulisan? Kenapa orang bisa ngobrol hingga berbusa-busa, bisa debat ngotot sampe keluar urat leher, tapi kesulitan untuk menulis satu halaman saja? Hhh, bayangkan sodara-sodara, tiap lomba dibuka, naskah yang masuk nyaris nggak pernah lebih dari sepuluh! Itu pun beberapa lewat dari tanggal deadline. Sangat tidak disiplin.
Tahun lalu, ketika diadakan Silaturahim Sastra oleh FLP Jambi yang dihadiri utusan FLP Sumsel dan beberapa penulis lokal, sempat dibahas mengenai rendahnya minat baca masyarakat. Tapi belakangan, didapatkan fakta baru, bahwa—menurut Kak Widodo, FLPer Sumsel—yang rendah bukan minat bacanya, tapi daya beli. Terbukti ketika diadakan bazaar yang menjual buku seharga di bawah 5000 rupiah, yang beli luar biasa banyak.
Pernyataan Kak Widodo mungkin selaras dengan yang disampaikan Qaris Tajudin pada Ruang Baca Koran Tempo edisi 55/Nopember 2008. Inti dari masalah merem sastra ini adalah ketidakpedulian pemerintah pada minat baca warganya. Udah tau orang-orang gak doyan baca, eh harga kertas mahal pula! Masalahnya masih di pajak, ini itu, dan yang paling menyebalkan: birokrasi!! Coba deh, kalo ngurus apa-apa, pasti serbabayar dan serbalama. Inilah kenapa di Indonesia banyak orang susah, karena satu sama lain suka saling menyusahkan. Kata Allah, siapa yang memudahkan urusan sodaranya, Allah akan memudahkan urusannya. Sebaliknya pun gitu!
Di Mesir, kata Mas Qaris (mudah-mudahan emang bener laki!), tiap tahun Ibu Negara sana menyebarkan sejuta buku. Gratis? Gak semua, malah banyak yang bayar. Tapi harganya murah, dengan tampilan yang bisa dimaklumilah. Siapa peduli tampilan? Di sana sih, anak SD bertampang tengil pun baca novel kelas dunia. Sebodo masalah kualitas kertas, yang penting isi. Tapi di sini, di Indonesia tercinta? Kata guru ngaji pertamaku dulu, orang Melayu punya lebih banyak koleksi pakean daripada buku. Tapi semua usaha tetep harus dicoba, kan. Gimana Bu Yudhoyono, berani? Atau malah udah, dan aku nggak tau. Ampun deh!
Rendah daya (atau minat?) beli, belum tentu rendah minat baca. Kan bisa minjem. Atau ngoleksi dari internet. Sejam di warnet, 3500, bisa dapet 100 cerpen kelas Kompas! Ngopi dari sriti.com kek, atau cybersastra, atau tanya aja sama Paman Gugel. Masalahnya, kalo sudah minat baca yang rendah, ya minat nulis jangan ditanya. Mungkin dia minat, tapi jelas gak bisa. Masak mo nulis gak mo baca. Mimpi kali!
Bukti rendahnya minat nulis ini keliatan dari Sekolah Menulis yang diadakan… siapa ya, aku lupa. Pokoknya bertempat di Fakultas Adab IAIN Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. Salah satu pematerinya M.H Abid, biasa kupanggil Bang Abid. Beliau minta aku ngisi tanggal 27 Desember. Dasar curang, pas aku datang Sabtu kemarin sebagai peserta, malah langsung dia todong ngomong.
Bayanganku sebelumnya, Sekolah Menulis mirip kayak Klub Tulisnya FLP Jambi. Peserta duduk lesehan, tutor mengawali dengan motivasi, trus nyampein materi. Peserta dipaksa nulis di tempat. Sebelum ditutup, tulisan dibedah sama-sama. Ternyata nggak.
Kalo di FLP bayar (ya lah, tutornya rata-rata mahasiswa. Kasian Mak Bapaknya ikutan nanggung biaya di luar urusan kuliah). Tapi Insyaallah gak lebay, karena tu duit untuk ganti ongkos dan bahan-bahan materi. Itu pun kayaknya bendahara lupa ngasih ke mereka, dan para tutor nggak ada yang nagih!
Karena bayar, kupikir wajar yang daftar dikit. Ada 28 orang untuk angkatan VII. Tapi anehnya, Sekolah Menulis diadakan gratis, tapi yang datang gak lebih dari 15 orang! Entah kurang publikasi atau gimana, yang jelas Sabtu kemarin total peserta cuma 9 orang, itu pun dari IAIN semua.
Tapi ada hal lain yang terbersit di pikiranku (manis banget diksinya). Dulu, waktu FLP open recruitment tanpa biaya alias gratis, yang daftar dikiiit banget. Kadang satu angkatan cuma terjaring 3 orang dan akhirnya gugur semua. Pas Bang Ian datang, (beliau FLPer Solo yang pindah domisili ke Jambi) dan bilang harus bayar untuk menaikkan ‘harga jual’ FLP, ternyata yang daftar malah lebih banyak. Ini karena memang FLP Jambi sudah lebih dikenal, atau karena masyarakat gak percaya dengan sesuatu yang gratis? Berarti secara jamaah mereka (atau kita) meragukan hal-hal yang sifatnya tulus, seolah-olah yang gratis—atau bayar, tapi murah—kualitasnya patut dipertanyakan.
Sekolah Menulis Insyaallah cukup bagus. Sabtu kemarin memang nggak ada pelatihan, tapi sekadar motivasi. Menurut Bang Abid, semua orang bisa menulis, hanya kemauan yang jadi masalah. Maka, gak perlu ngajarin mereka nulis, cukup motivasi aja. Terserah metode masing-masing, nggak ada yang lebih baik. Menurutku semua sama. Motivasi atau pelatihan, semua balik ke yang punya kepala, dia serius gak?! Motivasi pada dasarnya cuma bantu ngetuk, yang punya ‘pintu’ mo buka kepalanyakah??
Sebenarnya sejak lama aku pengen memotivasi orang untuk nulis, karena nulis itu menyenangkan! Tapi kalo cuma modal, ‘Nulis itu asik, loh!’, kayaknya gak ngejual banget. Coba kalo dibilang, ‘Dengan nulis sehari 3 kali 10 menit, ente bisa kaya!’ Dijamin rame deh pada mo nulis. Masalahnya, bokis abis! Orang akunya aja gak kaya! Tepatnya belum. Hehe. That’s why, semua kutuang di sini. Percaya gak percaya, aku gak ngelamar kerja karena lebih milih konsentrasi nulis. Tapi mungkin kalo ngelamar juga ditolak!
Salah satu hal yang bisa kubuat adalah bertahan di FLP. Di sini, aku bisa banyak berperan sesuai dengan kapasitasku sebagai ketua. Bisa ngisi materi nulis di workshop atau klub tulis (padahal sumpah, aku bukan orang yang ngerti sastra. Model latihan yang kukasih cuma ngarang, dan pengalaman ngomong di depan umum baru kudapat di ngaji dan di FLP ini! terima kasih nekat…).
Di FLP aku bisa berusaha mengapresiasi karya anggota, seperti aku yang juga pengen orang-orang menghargai karyaku. Caranya, karya mereka yang belum layak muat (aku lebih suka bilang gitu, daripada gak layak muat) kuminta Divisi Kekaryaan nampilinnya di blog, atau kunaikkan aja ke buletin Pena. Gak usah mikirin untung rugi, materi cuma side effect, yang penting tujuan ngelakuin itu sendiri untuk apa. Kalo kita tulus, Insyaallah semua mulus. Kebahagiaan mereka pas liat karyanya dimuat akan kelihatan di ‘mata’ Allah, dan Raqib pun gak segan-segan mencatatnya. Insyaallah.
Ngomong-ngomong soal buletin, ternyata banyak orang yang gak bisa bikinnya. Aneh kan??

--catatan lama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sila ngoceh di sini....