Selasa, 31 Maret 2009

LOMBA PENULISAN CERPEN Sosial, Human Interest

--boleh ngopi dr tetangga--

Start: Mar 31, '09 07:00a
End: Jun 30, '09
Location: Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912
Memperingati 97 Tahun Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), kami mengundang masyarakat umum, terutama para pecinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).”

Sebagai asuransi tertua dan terbesar di Indonesia, Bumiputera dikenal peduli terhadap pengembangan kreativitas masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba penulisan setiap tahunnya, termasuk menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Sedangkan PaSar MaLam dikenal dengan kegiatannya seperti Sastra Reboan yang digulirkan secara rutin setiap hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan.

Topik : “Sosial, Human Interest”

Persyaratan Peserta :

1. Masyarakat umum, warga negara Indonesia.
2. Peserta boleh menggunakan nama samaran (namun nama asli tetap dicantumkan di daftar riwayat hidup).
3. Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).
4. Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.

Ketentuan Lomba :

1. Cerpen harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang asuransi;
2. Cerpen tidak mengandung SARA.
3. Bentuk tulisan dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.
4. Setiap karya wajib menyebutkan kata “asuransi” dan “AJB Bumiputera 1912” sedikitnya satu kali.
5. Panjang cerpen maksimum 15.000 karakter, disajikan dalam teks Times New Romans, 1,5 spasi, dengan font 12.
6. Cerpen harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
7. Cerpen belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
8. Cerpen ditunggu paling lambat tanggal 30 Juni 2009 pukul 24:00 (untuk email) dan berdasarkan cap pos untuk pengiriman melalui pos.
9. Cerpen yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);
10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
11. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di http://www.bumiputera.com/, website panitia di http://www.bumiputeramenulis.com/ dan http://www.reboan.com/ .
12. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.


Tata Cara Pengiriman Cerpen :

1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu cerpen;
2. Cerpen dikirim melalui email ke komunikasi@bumiputera.com atau bila dalam bentuk hardcopy melalui pos ke alamat: Departemen Komunikasi Perusahaan, AJB Bumiputera 1912, Wisma Bumiputera Lantai 19, Jl. Jend. Sudirman Kav 75, Jakarta 12910



Untuk informasi lebih lanjut hubungi Bumiputera :
Telp. 021-5224565;
Faks. 021-5224566
Email : komunikasi@bumiputera.com


Hadiah :

1. Juara I : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.
2. Juara II : Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan.
3. Juara III : Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.
4. Juara Harapan sebanyak 5 orang masing-masing sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu juta rupiah).
5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.

Gimana Bikin Buletin?


Waktu Bang Abid liat buletin Pena yang cuma delapan halaman (dari dua A4 yang di-landscape), dia bilang itu jauh lebih bagus daripada bikinan pers sebuah kampus di Jambi. Aku lumayan heran dong, padahal kan bikinnya pake Publisher, trus yang di kampus pake apa lagi bisa jauh lebih parah dari Pena?
Sebelumnya aku emang biasa pake PageMaker, tapi kelemahan produk Adobe, kalo dia udah nyala, yang laen harus minggir (Majalah CHIP juga ngakuin!). Berat banget. Sekarang aja untuk desain aku masih pake Photoshop 7, ngimbangi PC ku yang pentium 3.
Sebagai alternatif layout, aku pake Publisher. Kelemahan Microsoft, terlalu banyak makan margin, jadi boros kertas. Tapi dengan Publisher, kalo aku nggak sempat, kawan-kawan yang lain bisa gantiin. Kalo masih di tengah jalan, mereka juga bisa nerusin. Sementara kalo pake PageMaker, cuma dua orang yang bisa bantu: Kak Meli, yang sekarang udah nikah jadi gak bisa diandelin lagi, dan Wahyu ganteng (tapi cewek, hihi!) yang penyabar banget. Artinya, kalo aku repot, cuma bisa ngandelin Wahyu. Nah, kalo kita berdua sibuk, siapa yang gantiin?
Dengan Publisher, ada Nia, Wiwid, Puput, dan tenaga laen yang bisa dipaksa ngerjain. Kalopun belum bisa, ngajarinnya relatif lebih gampang daripada PageMaker.
Layout di Publisher gampang banget. Kita tinggal masukkan teks yang sebelumnya sudah diketik di Word. Gak bisa dijelasin di sini, beli buku petunjuknya ajalah. atau download ebook tutorialnya di internet. Untuk ngeprint, ini yang sering bikin bingung user baru. Kalo aku, ngeprintnya satu eksemplar dulu (untuk Pena berarti 4 lembar—2 halaman per sheet), trus nanti urutan kertas yang keluar dari printer kuatur sesuai urutan tulisan bagian belakangnya. Misalnya, kalo ada 8 halaman, berarti halaman 1 akan ketemu halaman 8, 2 dengan 7, 3 dengan 6, dan 4 ketemu 5.
Hasil print Publisher 2003 (anak Jawa sudah pake 2007) dengan printer Epson C90, urutan keluar halamannya: 8-2-6-4. Setelah kertas kubalik, urutan kuubah jadi 2-8-4-6. Jadi, halaman yang keluar akan pas dengan halaman sebaliknya yang tadi sudah dicetak. Dan dapatlah dua eksemplar dari empat lembar kertas itu.
Supaya hasilnya rapi, dua kertas yang merupakan satu eksemplar buletin distaples ngebentuk buku. Oya, pastikan page setup buletinnya booklet ya, bukan full page. Setelah distaples, biasanya pinggiran kertas gak sama rata. Kertas dengan halaman 3 – 6 selalu lebih maju karena letaknya di depan. Untuk ngeratainnya, potong pake cutter dengan alas kaca. Kayak di fotocopy-an gitu.
Proses nyetaples (kata baru ni!), bakal rumit karena peluru staplesnya jadi belok-beloklah, yang nggak nembuslah. Solusinya, pake alas steoroform bekas alat-alat elektronik. Jadi pas distaples, peluru akan nembus ke steoroform, dan gampang kita cabut. Trus tinggal dilipat aja pake kuku jempol. Insyaallah gak bikin lecet, asal hati-hati.

Ayo Baca, Mari Nulis!


Harusnya pagi ini aku siap-siap menghadiri acara pembukaan peringatan Hari Ibu yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) ar-Rahman, Rohis Universitas Jambi. Tapi dari kemarin nggak ada kabar lagi, ya sudah. Yang bikin sedih bukan masalah undangannya, tapi lomba.
Tiap tahun, entah itu April atau Desember, biasanya beberapa organisasi memintaku jadi juri lomba menulis. Kadang puisi, cerpen, atau esai. Desember ini, sama dengan April atau Desember lalu, atau mungkin lebih buruk. Sampai detik ini, belum ada naskah yang masuk!
Ada apa dengan Jambi? Atau, ada apa dengan Indonesia? Kenapa kita kesulitan merangkai kata-kata dalam bentuk tulisan? Kenapa orang bisa ngobrol hingga berbusa-busa, bisa debat ngotot sampe keluar urat leher, tapi kesulitan untuk menulis satu halaman saja? Hhh, bayangkan sodara-sodara, tiap lomba dibuka, naskah yang masuk nyaris nggak pernah lebih dari sepuluh! Itu pun beberapa lewat dari tanggal deadline. Sangat tidak disiplin.
Tahun lalu, ketika diadakan Silaturahim Sastra oleh FLP Jambi yang dihadiri utusan FLP Sumsel dan beberapa penulis lokal, sempat dibahas mengenai rendahnya minat baca masyarakat. Tapi belakangan, didapatkan fakta baru, bahwa—menurut Kak Widodo, FLPer Sumsel—yang rendah bukan minat bacanya, tapi daya beli. Terbukti ketika diadakan bazaar yang menjual buku seharga di bawah 5000 rupiah, yang beli luar biasa banyak.
Pernyataan Kak Widodo mungkin selaras dengan yang disampaikan Qaris Tajudin pada Ruang Baca Koran Tempo edisi 55/Nopember 2008. Inti dari masalah merem sastra ini adalah ketidakpedulian pemerintah pada minat baca warganya. Udah tau orang-orang gak doyan baca, eh harga kertas mahal pula! Masalahnya masih di pajak, ini itu, dan yang paling menyebalkan: birokrasi!! Coba deh, kalo ngurus apa-apa, pasti serbabayar dan serbalama. Inilah kenapa di Indonesia banyak orang susah, karena satu sama lain suka saling menyusahkan. Kata Allah, siapa yang memudahkan urusan sodaranya, Allah akan memudahkan urusannya. Sebaliknya pun gitu!
Di Mesir, kata Mas Qaris (mudah-mudahan emang bener laki!), tiap tahun Ibu Negara sana menyebarkan sejuta buku. Gratis? Gak semua, malah banyak yang bayar. Tapi harganya murah, dengan tampilan yang bisa dimaklumilah. Siapa peduli tampilan? Di sana sih, anak SD bertampang tengil pun baca novel kelas dunia. Sebodo masalah kualitas kertas, yang penting isi. Tapi di sini, di Indonesia tercinta? Kata guru ngaji pertamaku dulu, orang Melayu punya lebih banyak koleksi pakean daripada buku. Tapi semua usaha tetep harus dicoba, kan. Gimana Bu Yudhoyono, berani? Atau malah udah, dan aku nggak tau. Ampun deh!
Rendah daya (atau minat?) beli, belum tentu rendah minat baca. Kan bisa minjem. Atau ngoleksi dari internet. Sejam di warnet, 3500, bisa dapet 100 cerpen kelas Kompas! Ngopi dari sriti.com kek, atau cybersastra, atau tanya aja sama Paman Gugel. Masalahnya, kalo sudah minat baca yang rendah, ya minat nulis jangan ditanya. Mungkin dia minat, tapi jelas gak bisa. Masak mo nulis gak mo baca. Mimpi kali!
Bukti rendahnya minat nulis ini keliatan dari Sekolah Menulis yang diadakan… siapa ya, aku lupa. Pokoknya bertempat di Fakultas Adab IAIN Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. Salah satu pematerinya M.H Abid, biasa kupanggil Bang Abid. Beliau minta aku ngisi tanggal 27 Desember. Dasar curang, pas aku datang Sabtu kemarin sebagai peserta, malah langsung dia todong ngomong.
Bayanganku sebelumnya, Sekolah Menulis mirip kayak Klub Tulisnya FLP Jambi. Peserta duduk lesehan, tutor mengawali dengan motivasi, trus nyampein materi. Peserta dipaksa nulis di tempat. Sebelum ditutup, tulisan dibedah sama-sama. Ternyata nggak.
Kalo di FLP bayar (ya lah, tutornya rata-rata mahasiswa. Kasian Mak Bapaknya ikutan nanggung biaya di luar urusan kuliah). Tapi Insyaallah gak lebay, karena tu duit untuk ganti ongkos dan bahan-bahan materi. Itu pun kayaknya bendahara lupa ngasih ke mereka, dan para tutor nggak ada yang nagih!
Karena bayar, kupikir wajar yang daftar dikit. Ada 28 orang untuk angkatan VII. Tapi anehnya, Sekolah Menulis diadakan gratis, tapi yang datang gak lebih dari 15 orang! Entah kurang publikasi atau gimana, yang jelas Sabtu kemarin total peserta cuma 9 orang, itu pun dari IAIN semua.
Tapi ada hal lain yang terbersit di pikiranku (manis banget diksinya). Dulu, waktu FLP open recruitment tanpa biaya alias gratis, yang daftar dikiiit banget. Kadang satu angkatan cuma terjaring 3 orang dan akhirnya gugur semua. Pas Bang Ian datang, (beliau FLPer Solo yang pindah domisili ke Jambi) dan bilang harus bayar untuk menaikkan ‘harga jual’ FLP, ternyata yang daftar malah lebih banyak. Ini karena memang FLP Jambi sudah lebih dikenal, atau karena masyarakat gak percaya dengan sesuatu yang gratis? Berarti secara jamaah mereka (atau kita) meragukan hal-hal yang sifatnya tulus, seolah-olah yang gratis—atau bayar, tapi murah—kualitasnya patut dipertanyakan.
Sekolah Menulis Insyaallah cukup bagus. Sabtu kemarin memang nggak ada pelatihan, tapi sekadar motivasi. Menurut Bang Abid, semua orang bisa menulis, hanya kemauan yang jadi masalah. Maka, gak perlu ngajarin mereka nulis, cukup motivasi aja. Terserah metode masing-masing, nggak ada yang lebih baik. Menurutku semua sama. Motivasi atau pelatihan, semua balik ke yang punya kepala, dia serius gak?! Motivasi pada dasarnya cuma bantu ngetuk, yang punya ‘pintu’ mo buka kepalanyakah??
Sebenarnya sejak lama aku pengen memotivasi orang untuk nulis, karena nulis itu menyenangkan! Tapi kalo cuma modal, ‘Nulis itu asik, loh!’, kayaknya gak ngejual banget. Coba kalo dibilang, ‘Dengan nulis sehari 3 kali 10 menit, ente bisa kaya!’ Dijamin rame deh pada mo nulis. Masalahnya, bokis abis! Orang akunya aja gak kaya! Tepatnya belum. Hehe. That’s why, semua kutuang di sini. Percaya gak percaya, aku gak ngelamar kerja karena lebih milih konsentrasi nulis. Tapi mungkin kalo ngelamar juga ditolak!
Salah satu hal yang bisa kubuat adalah bertahan di FLP. Di sini, aku bisa banyak berperan sesuai dengan kapasitasku sebagai ketua. Bisa ngisi materi nulis di workshop atau klub tulis (padahal sumpah, aku bukan orang yang ngerti sastra. Model latihan yang kukasih cuma ngarang, dan pengalaman ngomong di depan umum baru kudapat di ngaji dan di FLP ini! terima kasih nekat…).
Di FLP aku bisa berusaha mengapresiasi karya anggota, seperti aku yang juga pengen orang-orang menghargai karyaku. Caranya, karya mereka yang belum layak muat (aku lebih suka bilang gitu, daripada gak layak muat) kuminta Divisi Kekaryaan nampilinnya di blog, atau kunaikkan aja ke buletin Pena. Gak usah mikirin untung rugi, materi cuma side effect, yang penting tujuan ngelakuin itu sendiri untuk apa. Kalo kita tulus, Insyaallah semua mulus. Kebahagiaan mereka pas liat karyanya dimuat akan kelihatan di ‘mata’ Allah, dan Raqib pun gak segan-segan mencatatnya. Insyaallah.
Ngomong-ngomong soal buletin, ternyata banyak orang yang gak bisa bikinnya. Aneh kan??

--catatan lama

Minggu, 29 Maret 2009

LiQo'

Kata liqo’ mungkin dah gak asing lagi di kuping orang Indonesia. Ya lah, kalo diganti meeting baru banyak yang gak tau. Miting itu, kata emak2, udah masak. Halah!
Aku, yang udah … (sensor) taun tarbiyah, punya kelompok ngaji lumayan asik. Asli, kalo ketemuan langsung gak bakal mau nyeritain isi ‘kerajaan’ kayak gini. Mumpung di dunia maya, apa sih yang disembunyiin? Eit, ati2 ya, kata Chip, perusahaan2 besar biasanya suka ngecek track record user yang mo jadi karyawannya. Yeah, ini sih peringatan buat yang mo nguli.
Iih, kapan mulainya ne!
Di halaqahku, ada kakak2 yang baek hati. Kakak2? Yupz, akyu bungsu bro! mungkin bungsu paling nyebelin sejagat. Begitukah, uni? (MR-ku orang minang!)
Di liqo’ yang dulu2 banget, Mrku suka bilang, “akhwat kok banyak gerak ya, kakak bingung.” Terjemahannya, kalian berisik amat sih! Tapi Subhanallah, beliau emang gak pernah marah tuh!
Mr yang agak dulu juga sering banget negur, “dewasa ya!” bener2 matanya ngeliat ke aku, en ngomongnya langsung. Gak pake nyindir, ato sok2 filosofis. Pokoknya to the point! Aku cuma bisa senyum, speechless….
Halaqah yang sekarang, dibanjiri para ibu hamil. Yang gadis mukanya pada gurat2 kalo emak2 udah cerita bayi. Mupeng!
Tadinya ada selusin binaan, tapi yang satu nikah trus cabut ke jawa, satu lagi didepak (departemen akama, hihi). Tinggal cemilan tambah atu, paling tua lahir 76, yang bontot 84. Tua semua ya!
Mr-ku (MR bukan singkatan mister ya, tapi murabbi—pembina kajian) orangnya penggugup. Rajin lupa, gak suka debat, sabarnya bikin salut. Beliau jauh dari pelit (aneh ya, kan orang … sst!) mungkin karena beliau pns, suaminya aleg, jadi jor2an aja keluar duit. Tapi yang lebih mungkin lagi, karena soal dakwah, beliau gak mo tanggung2 berkorban.
Kakak pertama. Dulu dewasa, suka heran kalo liat aku cekikikan di majlis (kak widi tuh, yang suka mancing2 dengan celetukannya yang gak penting tapi unik!). sekarang tetua ini udah terkontaminasi sedemikian rupa, sampe2 dia sendiri sering ngelawak.
Kakak kedua. Yang mana ya? Jangan bilang ente lupa, tar! Mm, kayaknya yang ini. Seorang terapis yang pendiem banget, tapi punya stok diksi ngasal bukan main. Kalo diceritain di sini kurang lucu kali, tapi kalo denger langsung pas adegan, dijamin bibir pada ngangkat!
Kakak ketiga. Sepupu kakak kedua. Sama2 terapis,pendiem sangat, en sama2 nikah dengan ikhwan dari harakah lain. So what? We were on, we are one!
Kakak keempat. Entah aceh ato jawa. Dulu kakak kesembilan ngebet sama adeknya kakak ini. Pas kutanya, emang kelahiran berapa adeknya kak? Dia jawab, 85. Gubrak! Brondong…
Kakak kelima. Raja nyeletuk, suka ngikik gak karuan. Paling awet kebiasaan telatnya. Yang aneh, tukang ketawa tapi juara nangis. Kalo ngambek hidungnya merah.
Kakak keenam. Gak tenar karena jarang datang. Aku aja gak tau, ni sodara tinggal di mana, kerjanya apa. Wajar sih, dia anak baru (maksudnya baru gabung halaqahku setelah tempat lamanya bermasalah). Masuk dalam keadaan hamil, trus cuti melahirkan keluar kota. Mana bisa kenal lebih jauh!
Kakak ketujuh. Si jawa bantet (ups!). tapi manis, kalem, lembut, santun, penyayang… pokoe yang baek2 beliau punyalah! Tapi lagi, dia jenggotan. Hihi, saking suburnya kali.
Kakak kedelapan. Pengusaha. Urusan jahit menjahit, nikah2an, ukup, londri, lempar ke dia deh. Biangnya! Yang pengen dapet akhwat mandiri, bolehlah ajukan proposal ke sini. Hehe.
Kakak kesembilan. Paling ancur! Tapi mungkin yang kedua, setelah aku. Hikz! Hebatnya, dengan segala keporakporandaan tingkahnya, dia malah dapet ikhwan kalemmm bener! Menularlah padaku, menularlah…. Wataw!!

Kepada Semprul


Ingin kupintal surga untukmu
Saat kau bawa aku berhujan, dan kutulis puisi pada angin
Tanpa kau bisa merekam cacimakiku
Tapi cemberut kulihat memahat di wajahmu
Sejalan kita menggelinding impian di aspal
Meski senja kita sama
Kau akan berada pada kesunyian gudang, dan aku pada lingkar sunyiku sendiri
Tapi, kita akan tetap memintal surga

langit merah marun


Dan akhirnya, yang kutakutkan benar-benar terjadi. Dian hamil. Ke mana ia mengadu? Tentu padaku. Aku yang selama tiga tahun bersamanya. Yang sejak kelas tiga—yang pada masa itu teman-teman lain mati-matian belajar agar lulus SMA—aku dan Dian mati-matian menutupi gejolak hati kami. Lalu, bahkan tanpa kami duga sebelumnya, kami mengakui di depan aktivis rohis lain, bahwa kami memang pacaran.
Tapi sungguh, selama tiga tahun itu, baik dalam kondisi senang karena bisa melangkahi kungkungan rohis, atau pada kondisi paling buruk ketika tak satu universitas negeri pun yang menerima kami, aku dan Dian tidak pernah menyalurkan keduanya pada hal keterlaluan seperti yang sekarang Dian buat. Aku tidak pernah memasuki kamarnya, tidak pernah meminta bagian tubuhnya. Menyentuh tangannya adalah hal paling menyedihkan (baru kusadari sepenuhnya sekarang) yang pernah kulakukan.
Tapi Dian meruntuhkan dindingnya sendiri. Bahkan hanya enam bulan setelah kutinggalkan. Jika saja ia tahu, laki-laki inilah yang menangisinya. Bukan teman enam bulannya itu. Tahukah kau, bagaimana sakitnya menekan perasaan? Kutinggalkan ia untuk cinta yang sebenarnya. Seperti laki-laki lain, aku tidak bisa bicara. Aku kesulitan mencari kata-kata yang tepat, untuk mengatakan bahwa aku ingin kembali menjadi hamba Tuhan yang patuh pada-Nya.
Dan akhirnya, yang kutakutkan benar-benar terjadi. Dian hamil, mirisnya, dengan orang yang katanya tak ia cinta bahkan seujung kelingking pun. Lalu ia menyalahkan aku. Aku yang membuatnya mencari pelarian, aku yang membuatnya gila, dan pada akhir curahan ceritanya, ia mengaku telah mengandung anakku pada orang tuanya.
***
“Ini keputusan paling berat yang pernah saya buat. Menikahkan anak perempuan satu-satunya dalam usia sangat muda, pada orang yang belum bekerja. Tapi ini mungkin tidak lebih buruk risikonya dibanding aborsi, yang harus mempertaruhkan nyawa. Saya ingin kamu betul-betul bertanggungjawab, tidak sekadar menikahi, tapi juga menafkahinya.”
Aku mengangguk. Dalam sekian kali pertemuan, tak sekalipun aku berani bersuara untuk membersihkan nama baikku.
“Heran, ternyata tanda hitam di dahimu itu cuma tipuan. Saya kira kamu memelihara jenggot karena alasan agama.” Calon Bapak mertuaku menggeleng berulang-ulang, ia kecewa pada orang yang salah.
“Pak,” aku angkat bicara. Orang tua berbahasa tajam ini selalu saja memancing emosiku dengan pilihan katanya yang mengandung justifikasi.
Dian lebih dulu menolehku, masih dengan mata dan pipi yang memerah seperti hari-hari sebelumnya.
“Apa?”
Aku menggeleng sekali, tanpa suara. Aku tak tega.
“Biaya pernikahan biar saya yang tanggung. Kamu segera cari pekerjaan, kantor saya sedang tidak butuh karyawan. Lagipula saya ingin kalian menanggung risiko yang kalian buat. Kalau saja kalian tidak menikah sekarang, tanpa kasus memalukan ini, saya akan hadiahkan rumah beserta isinya.” Ia mendengus kesal, pada orang yang salah.
Kuhirup napas, masih dengan tunduk yang dalam. Untuk siapa pengorbanan ini, karena masih mencintainya, atau mengharapkan ridha-Nya karena telah menutupi aib saudaraku.
Kulirik Dian yang duduk berjarak satu sofa dariku. Ia sedang menatap laki-laki pujaannya yang kini tunduk sebagai pesakitan. Inilah adzab dari dosaku, tiga tahun lebih enam bulan lalu.
***
Kemudian kami menikah. Dian tinggal di kontrakan, aku tetap di kamar kosku. Bagaimana pun aku menutup peristiwa itu, seorang bangsawan tentunya tidak ingin melewatkan unsur kemewahan dari pesta putri kesayangannya, yang justru dengan demikian, orang-orang yang iseng menghitung tanggal pernikahan akan mengernyitkan dahi karena ‘anakku’ membentuk perut ibunya lebih cepat dari yang seharusnya.
“Itu akibat kalian tidak tinggal serumah, jadi mereka curiga kita sengaja menunggu anak itu lahir,” teriak Bapak.
Dian terlonjak kaget. Secara refleks ia hendak berpegang pada lenganku, tapi segera kutepis.
“Bapak tahu orang hamil tidak boleh dinikahi. Jadi sampai saat ini belum ada ikatan di antara kami, itulah kenapa saya dan Dian tidak tinggal satu atap,” kujawab tegas.
“Lalu pesta kemarin kamu anggap apa? Kamu pikir saya tidak tahu agama, rahimnya harus bersih sebelum dinikahi itu jika ia hamil dengan orang lain.”
“Itu pendapat yang lain. Saya berpihak pada kebanyakan ulama yang melarang menikahi perempuan hamil, baik itu perbuatan saya atau bukan. Pernikahan kemarin sekadar menutupi aib. Tapi nyatanya, Bapak sendiri yang membuka aib itu.”
Tokoh otoriter itu membelalakkan matanya. Ia tak tahu betapa aku lebih terpukul dengan gemparnya jama’ah pengajianku, mengetahui aib yang tak kubuat ini.
“Kalau kamu tahu aturan, kenapa sebelum kalian melakukan hal buruk itu tidak berpikir demikian?”
Belum sempat kujawab, Dian langsung sesegukan. Ibunya segera melerai kami, lalu memangku kepala anak perempuan satu-satunya yang telah mencoreng wajah keluarga mereka dengan arang paling hitam itu.
Demi sandiwara terkutuk ini, aku duduk di sebelah Dian, seperti seorang suami yang hendak menenangkan istrinya. Ibu ‘mertuaku’ berlalu, menyusul suaminya yang repot mendesah dan menahan emosi.
“Tolong, Ri, biarkan mereka menganggap benar ceritaku dulu. Paling tidak sampai anak ini lahir, atau ia mati dalam kandungan.”
Nada seperti inilah yang mengkhawatirkanku. Perempuan ini sangat pandai meluluhkan baja yang kubangun berhari-hari hanya untuk mengeluarkan satu kata saja.
“Jaga ia baik-baik, jangan disakiti. Aku akan tetap bersamamu.” Kusimpan dalam-dalam, bahwa ucapan ini di hari lain harus kutebus kaffaratnya.
Dian mengangkat kepala, hendak pindah sandar ke bahuku.
“Maaf, aku menjaga ceritamu. Maka, jaga pula perasaanku.”
Dian mengurungkan niatnya.
Sejak hari itu, kami tinggal bersama orang tua Dian, di dua kamar yang terpisah. Entah kapan aku bisa tahu benartidaknya keputusanku melakukan pernikahan dusta ini. Kututupi aib seseorang, tapi justru aku yang kemudian menanggungnya. Orang tua dan saudara-saudara kandungku tak begitu peduli, karena menurut mereka, ini hal biasa. Sama seperti yang mereka tonton sehari-hari di sinetron dan infotainmen.
Tapi tidak demikian dengan ‘keluargaku’ yang lain. Separuh dari saudaraku menjatuhkan vonis, yang seolah-olah mereka belum akan menerimaku hingga aku dihukum cambuk di depan umum. Pembina kajianku mulai dingin, meski kutahu ia telah berusaha sekuat tenaga untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sebisa mungkin kuhindari segala bentuk persidangan, aku tak punya nyali untuk berterus terang. Aku khawatir mereka tak sebijak yang kubayangkan. Bukankah yang sudah terjadi membuktikan demikian.
***
Dian memasuki bulan kesembilan masa kehamilannya. Semua makin tak terhindarkan. Aku terpaksa menemaninya ke dokter, olahraga pagi, dan hal-hal lain yang selayaknya dilakukan seorang suami. Aku mulai berpikir bahwa keputusanku kali ini benar-benar meleset dari kebenaran. Tapi jika sekilas kulihat ia kelelahan, aku merasa ikut letih membayangkan bila ia harus sendiri menghadapinya. Jika ia tersenyum gembira, aku ingin tertawa riang mendampinginya. Sungguh menyesakkan.
Di sisi lain, penguasa rumah terus mengasah lidahnya dengan umpatan khas seorang raja yang terpaksa memelihara kasim. Dan orang-orang baik yang tiap pekan berkumpul dalam majlis-majlis dzikir dan ilmu seolah lupa bahwa aku adalah bagian dari mereka. Prinsipnya, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, perempuan yang keji hanya untuk laki-laki keji. Itulah aku.
Hiburan satu-satunya adalah menghitung hari, hendak menyambut manusia baru yang kelak memanggilku Ayah. Ingin kusentuh perut di mana anak itu kini bersemayam. Meski ia bukan darah dagingku, tapi aku telah menyiapkan dua nama untuknya. Aku tersenyum bahagia jika membayangkan hal itu. Dan kulihat di cermin, senyum itu tulus sekali.
***
“Maaf, tapi aku memang tidak pernah menikahimu. Semua hanya untuk aib itu, aku mempertanggungjawabkan pilihanku meninggalkanmu dulu.”
Dian menangis sambil mendekap bayi di pangkuannya.
“Katakan saja kita bercerai,” ucapku datar sambil berlalu.
……
Lalu aku tersentak. Pada hari-hari menjelang kelahiran makhluk yang kutunggu-tunggu, aku justru didera mimpi ini berulang-ulang.
Ini seperti sebuah ilham, mimpi yang ingin aku menjadikannya sebagai ide untuk masa yang akan datang. Yakni hari di mana Dian tak lagi menanggung titipan Tuhan di dalam rahimnya. Basah menguasaiku. Resah, panik, dan kemudian firasatku mengatakan Dian sedang dalam kesulitan.
Aku berlari menuju kamarnya.
Benar saja, perempuan itu mengerang kesakitan. Maka secepat yang kubisa, kulakukan segala hal. Mengeluarkan mobil ‘mertua’, mengangkut semua pakaian yang telah disiapkan sejak beberapa hari lalu, dan menggendong perempuan yang pada malam ini betul-betul kukasihi.
“Seharusnya dari kemarin ia sudah menginap di rumah sakit. Jadi suami tidak becus, sudah detik-detiknya begini baru sibuk mengantarkan. Kalau mertuanya tidak punya mobil bagaimana? Untung dapat anak orang kaya.” Singa itu masih mengaum dalam keadaan genting. Aku tak peduli.
Di dalam mobil, kubiarkan Dian menggenggam erat tanganku. Aku tak bisa berpikir, kecuali konsentrasi pada jalan raya yang kami lalui.
***
Anak itu lahir. Meski wajahnya menyerupaiku, namaku tidak akan terpampang di belakang binti-nya. Pekerjaan Dian bertambah, kelak saat anak perempuan ini hendak menikah, ia akan minta penjelasan kenapa ia diwalikan oleh hakim.
Inilah akhir dari sandiwara panjang yang terpaksa kulakoni. Aku akan melakukan apa yang diajarkan mimpiku, segera setelah kondisi Dian normal kembali. Kutata ulang reruntuhan baja yang berserak di dadaku. Kuuntai setiap kata paling tak menyakitkan untuknya. Bagaimana pun, aku ingin kembali pada seluruh keluargaku dengan nama yang bersih kembali. Itu jika mereka percaya.
Aku berlatih, kutatap lekat mataku di cermin. Kukatakan pada bayangan di dalamnya, bahwa aku adalah laki-laki yang masih sendiri. Aku akan pergi, aku harus pergi.
***
“Maaf, tapi aku memang tidak pernah menikahimu. Semua hanya untuk aib itu, aku mempertanggungjawabkan pilihanku meninggalkanmu dulu.”
Dian menangis sambil mendekap bayi di pangkuannya.
“Katakan saja kita bercerai,” ucapku datar sambil berlalu.
Hari itu, hampir semua yang terjadi persis dengan mimpiku. Aku berjalan tanpa menoleh, membunuh segala penghalang rasa tega.
Aku berjalan dan terus berjalan, tapi sepertinya jarak telah berbohong. Rasanya bayangan tawa dan tangis perempuan itu mendekapku. Ia tak pernah merelakanku, sebagaimana aku tidak pernah benar-benar rela kehilangannya.
Dan perempuan ini, memang telah mengikatku hingga ke sum-sum. Barangkali rusuk kiriku telah disisipkan Tuhan ke jasadnya, sejak empat bulan kami dalam kandungan. Maka aku kembali dikalahkannya.