Minggu, 06 Mei 2012

Pangeran dengan Dua Bekas Sujud (Pd2BS)


Antologi Cerpen Pilihan (diseleksi oleh media lokal dan nasional)

“Tari menuliskan kembali drama kehidupan 
menjadi cerita yang menarik. 
Kita bukan hanya akan terhibur, 
tetapi juga merenung dan mengambil hikmah 
yang tersirat di dalam cerita.”
(Koko Nata, Pengajar Menulis Kreatif Anak 
& Pengurus Rumah Cahaya, Depok)

pesan segera 0852 6646 4774 hanya Rp 35.000

Jumat, 20 April 2012

Pangeran dengan Dua Bekas Sujud

K
ulihat lagi siluet wajah itu. Rambutnya, rahangnya, dagunya..., dia tampan! Tertunduk malu-malu ia mendekatiku. Dua bekas sujud di dahinya membuatku merasa nyaman.
Aku terbangun, dan kembali gelap kudapat. Bayangan pangeran itu lenyap ditelan serba hitam.
***
“Kau yakin dengan pilihanmu, Sekar?”
“Yakin, Mas,” jawabku memenuhi pertanyaan Mas Sukri.
Sejenak hening. Kudengar helaan napas yang berat. Sepertinya Mas Sukri gundah.
“Kenapa, Mas?” tanyaku.
Mas Sukri tak menjawab. Kurasakan tangannya membelai kepalaku.
“Mas tidak menyukainya?” aku bertanya lagi.
“Bukan, bukan itu.”
Kembali tangan Mas Sukri berada di kepalaku. “Kau cantik, tapi apa pun yang membahagiakanmu akan membuatku merasakan hal yang sama.”
Nalarku tak mampu mencerna ucapan Mas Sukri, kubiarkan ia berlalu setelah perbincangan singkat itu. Sahid, pemuda yang kulihat hampir di setiap malam adalah pilihan paling tepat menurutku. Ia saleh dan tampan.
***
Sahid duduk menyejajariku, dari tadi tatapannya tak berpindah dari tanah yang ia pijak. Aku dan Sahid salah tingkah, kami seperti remaja! Remaja kadaluarsa.
Aku terbangun lagi, dan Sahid hilang lagi. Pangeranku terbenam dalam gelap yang kudapat setelah terjaga.
“Sahid...,” bisikku.
“Ini aku, masmu.”
Kudengar suara berat Mas Sukri, ia pasti hendak membangunkanku untuk salat Subuh, kebiasaan yang ia lakukan sejak orangtua kami meninggal. Pintu kamarku yang tak berdaun memudahkan Mas Sukri masuk. 
“Sudah pagi, Mas?”
“Ini sepertiga malam terakhir. Salatlah, Sekar. Minta yang terbaik pada Tuhan!”
Aku bergerak perlahan, coba beranjak dari tempat tidur. Sungguh, aku menyongsong gembira Sang Penggenggam Jiwa. Ada saat-saat haru ketika kuminta pada-Nya untuk memperlihatkan keadaan orang-orang yang diajukan Mas Sukri padaku. Dan kudapati saat-saat indah ketika pintaku dikabulkan-Nya pada hampir setiap malam. Siluet wajah Sahid, hanya ia yang diperlihatkan Tuhan untukku.
Dalam sujud, kupercayakan mata batinku untuk melihat lebih jauh, merasakan lebih dalam, dan meraba-raba hati Sahid melalui kuasa-Nya. Aku merasa tertuntun, terjaga, dan mantap untuk memilih Sahid daripada Anton, Ilham, atau Ferhat yang Mas Sukri jagokan.
Empat laki-laki itu, kata Mas Sukri bersedia menikahiku, meski tahu keadaan dan kekurangan gadis lewat usia ini. Secara fisik Mas Sukri tak pernah menceritakan keadaan mereka padaku. Ia hanya bilang, Anton, Ilham, Ferhat, dan Sahid adalah orang-orang baik. Itu saja.
“Mas, aku sudah siap. Tolong kabarkan keputusanku ini pada Sahid.”
Entah bagaimana reaksi Mas Sukri, tapi kurasakan embusan keras napasnya tepat di depan mukaku. 
***
Keluarga besarku ramai terkumpul. Uwak, Bibi, dan seluruh kerabat almarhum kedua orangtuaku telah memenuhi undangan Mas Sukri.
Ini seperti sebuah reuni, mereka berbincang tentang apa saja. Tentang warisan Bapak untukku, garis wajah Ibu yang tersalin persis di wajahku, tentang sepupu, keponakan..., juga mengenai keengganan Mas Sukri beristri sebelum aku, adiknya, menikah. Tapi mereka sama sekali tak menyinggung soal pernikahanku, apalagi tentang Sahid.
Kudengar suara adik bungsu Ibu bercerita penuh semangat, ia tengah membeberkan rahasia keberhasilan suaminya memecahkan sebuah misteri pembunuhan seorang artis. Pamanku anggota Polisi Intelejen. Belum sempat bibiku menutup ceritanya, Uwak menyambung dengan cerita haru tentang kegagalannya memanen padi akibat banjir yang menenggelamkan segala tanaman di sawah.
Aku hanya menjadi pendengar setia, terkantuk-kantuk menikmati derai tawa bercampur haru dalam nada-nada tak beraturan yang meluncur dari beberapa lisan. Hingga kemudian, kusaksikan Sahid datang tanpa suara. Ia membawa sebuah novel dengan huruf braile, sebagai mahar pinangannya. Tapi, bukankah waktunya masih satu bulan lagi?
Sahid duduk tepat di depanku, wajahnya terlihat jelas, membuat dadaku bergemuruh. Ada apa dengan wajah itu? Matanya putih polos, hidungnya cacat, bibirnya tak sempurna, bahkan banyak lubang di kedua pipinya.
“Rabb...,” aku mendesah gundah.
“Sst!” kudengar desis seseorang. Membuatku berpikir untuk tetap diam.
“Dia bangun?” bisik Bibi entah pada siapa.
Tidak ada suara.
“Kenapa kautawarkan Sahid padanya?” suara Uwak dengan tekanan nada yang kuat.
“Aku sama sekali belum menceritakan keadaan mereka, apalagi menawarkan. Aku hanya bilang ada empat laki-laki yang bersedia menikahinya. Anton, Sahid, Ferhat, dan Ilham,” Mas Sukri terdengar berbisik.
“Lalu bagaimana bisa Sekar memilih Sahid?” kali ini suara sepupuku.
“Entahlah, Sekar bilang ia berkali-kali melihat Sahid dalam mimpinya.”
“Mimpi, hari gini percaya mimpi?”
“Tingkat spiritualnya berada di atas kita. Ia berdiri untuk salat saat kau terlelap, ia berpuasa ketika kau berebut makanan. Bagaimana aku meragukan firasatnya?
“Sudahlah. Apa pun sebabnya Sekar menentukan pilihan itu, semua di luar kehendak kita. Sekarang, bagaimana cara kita membatalkan pernikahan mereka?” ungkapan Uwak yang kukira bijaksana menohok hatiku.
“Tidak perlu dibatalkan, kita tanyakan dulu pada Sekar!” Mas Sukri menolak.
“Bagaimana ini Sukri, bukannya berkali-kali kau menanyakan kesungguhannya?”
Hening.
“Baik. Tega tak tega, segera kaujelaskan keadaan Sahid pada Sekar. Tentang matanya yang juga buta seperti Sekar, bibirnya yang sumbing sehingga bicaranya sulit dimengerti, hidungnya yang patah, bekas cacar di kedua pipinya....”

LANJUTANNYA... DI SINI atau DI SINI

WAJIB HADIR!!


SYARIFAH LESTARI NERBITIN BUKU! HWAAA, KEREN. AKU NGEPENS BANGET SAMA DIA. HADIR YOK, AJAK KAWAN SEBANYAK2NYA!. 
OIA, SELEB JUGA KADANG2 GDA YANG KENAL. KALO BELUM NGEH SIAPA ITU SYARIFAH LESTARI, CEKIDOT DEH DI SINI

Rabu, 14 Maret 2012

naskah lomba, entah apa kabarnya


Koran dan Tears of Gaza
Syarifah Lestari

Perdebatan yang sangat alot di pagi hari. Seperti hari-hari sebelumnya, lobiku gagal. 

Seorang kawan kuminta bantuannya untuk mengunduh film Tears of Gaza dari warnet. Maklum, di rumah, kami menggunakan modem portabel, bisa nangis jika dipakai mengunduh video. Nah, karena kesulitan mendapatkan film itu, kawanku jadi mendadak agak perhitungan. Ia wanti-wanti agar video tidak beredar ke mana-mana.

File video di-burn ke keping CD. Untuk ditonton, file tidak perlu disalin ke disk laptop atau komputer lain, biar akses langsung dari CD tersebut. Jika ingin meng-copy, harus ganti biaya unduh. Hff! Apa bedanya dengan membajak.

Sedianya film itu akan diputar pada acara nonton bareng di sebuah rohis salah satu SMA di kotaku, Jambi. Aku pun berpikir keras, menyusun kalimat yang pantas untuk menolak adik-adik rohis yang bisa dipastikan ingin menyalin file video itu ke laptop atau flash disk mereka, untuk ditonton kembali di rumah atau di tempat lain bersama keluarga atau kenalannya di luar rohis. Bukankah itu peluang pahala yang luar biasa, pikirku.

Maka kuusulkan pada kawanku yang mengaku ‘seharian’ mengunduh video itu, bagaimana jika untuk menyalin video Tears of Gaza dari hasil unduhannya, mereka harus infak ke Mer-C  (Medical Emergency Rescue Committee) atau Kispa (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina). Ia setuju usul infaknya, tapi tetap tak mengizinkan menyalin file. Persetujuan model apa itu?!

Lalu kuingatkan kembali ia pada janji Allah akan pahala yang berlipat ganda, lalu tentang ‘ikhlas’nya orang-orang batil yang menyebarluaskan video porno, dan membandingkan perjuangan mengunduhnya yang satu hari dengan tim pembuat film yang mungkin berbulan-bulan menyelesaikan film tersebut di bawah ancaman roket zionis. Aku berharap pada Allah yang berkuasa membolak-balikkan hati.

Tapi hidayah adalah hak-Nya. Kandas.

Ya sudah, kukembalikan saja padanya keping CD yang terlalu disayang itu. Bismillah, kuluruskan niat membagi ilmu karena Allah. Pasti ada jalan keluar, tekadku tanpa membatalkan acara nobar bersama adik-adik rohis.

Badmood mau tidak mau terbawa dalam perjalanan. Tapi di sebuah simpang empat, seorang albino penjual koran menerbitkan ideku. Bukankah sedekah dapat melepaskan kesulitan, maka kutepikan sepeda motor. Terjadi jual-beli singkat, kemudian kudapati wajah gembira penjual koran yang kegirangan karena aku tak mengambil uang kembalian. Ya Allah, aku tidak bernazar, tapi amal yang tak seberapa ini kuawalkan untuk janji kemudahan dariMu, kataku dalam hati.

Nonton bareng film Tears of Gaza dijadwalkan pada Jumat, 17 Februari 2012 jam 11:30. Jumat pagi hari itu, dari kantor aku berjalan kaki mencari warnet. Tanpa makan waktu lama, kutemukan satu di depan sebuah SMP Negeri.

Warnet Ayu. Sepi karena masih pagi, jam 9, anak-anak sekolah sedang dalam jam belajar. Aku duduk di depan salah satu monitor, lalu membuka halaman 4shared. Setelah mengetik ‘tears of gaza’ pada kolom search, browser mozilla mengantarku pada alamat yang diminta. Unduhan berjalan, tapi sebagaimana anak-anak sekolah yang tidak memenuhi warnet karena sedang belajar, aku pun tengah terikat jam kantor.

Ini kali pertama aku memasuki warnet itu, dan tak kenal sama sekali pada operatornya. Tapi berprasangka baik sajalah. Kutitipkan flash disk pada operator, dan berpesan padanya untuk menyimpan hasil unduhanku setelah selesai nanti. Satu  jam ke depan file tersebut akan kujemput, pesanku pada operator, karena kulihat perkiraan waktu unduh sekitar 59 menit lagi dari aku meninggalkan komputer.

Kembali ke kantor, semua berjalan seperti biasa. Tugas mengetik surat, desain spanduk, dll kuselesaikan. Alhamdulillah HP-ku ketinggalan, jadi lebih konsentrasi bekerja, efisiensi waktu pun lebih terjaga.

Jam 10 lewat, aku kembali ke warnet untuk mengambil file unduhan. Sama sekali tidak ada masalah. Operator menyelesaikan tugasnya dengan baik, hasil unduh sempurna, dan aku hanya mengeluarkan biaya 4000 rupiah!

Setiap hari Jumat, pukul 10:30 jam kantor selesai. Aku keluar pada jam 11 lewat dengan pertimbangan, adik-adik rohis tentu masih menyiapkan tempat dan peralatan nobar.  Benar saja, tiba di sana mereka masih asik mengutak-atik laptop dan merapikan duduk penonton.

Maka tak lama setelah aku datang, film pun diputar.

Serba keterlaluan di Palestina memang tidak tergambarkan dengan kata-kata. Kengeriannya tidak bisa diwakilkan dengan kalimat pada paragraf mana pun. Hanya isak tangis dan teriakan penonton yang bisa kutuliskan. Bukan karena kesadisan film, tapi kesadisan fakta yang didokumentasikan oleh orang-orang hebat, semoga Allah memberi hidayah pada mereka.

Usai film diputar, seorang adik bertanya, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Gaza dan Palestina? Inilah pertanyaan yang memang sangat kuharap keluar dari mulut mereka.

Satu, beritahu fakta ini pada banyak orang, kataku. Penjajahan oleh Israel telah berlangsung sejak 1948, tapi entah tidak banyak yang tahu, atau tidak banyak yang peduli. Maka salinlah file itu, ia memang dibuat untuk promosi (tertera di tayangan video), bagikan pada orang-orang.

Kedua, donasi. Jika tidak mampu transfer sejumlah uang, gerakan sms saja. MERC PEDULI ke 7505, sedikit memang, tapi bayangkan jika ada sejuta orang yang melakukan hal yang sama. Bukankah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta. Ketiga, boikot produk-produk pendukung Israel. Keempat, doakan saudara kita agar dikuatkan dan diistiqomahkan.

Setelah closing, haru menyeruak di dadaku. Tapi hanya Allah dan aku yang tahu. Berbagi memang tidak harus selalu berupa materi, tapi ilmu sejatinya jauh lebih berharga dari harta benda. Di saat orang lain dengan segala kelapangan hati mau berbagi ilmu yang mendekatkan pada neraka, kenapa harus bakhil membagi jalan ke surga. Semoga adik-adik peserta nobar tak lupa pada pesanku yang terilham begitu saja. Bukan kebetulan, tapi ada yang menitipkannya di dadaku, yang semoga aku sendiri mampu melaksanakan tuturku.




Selasa, 28 Februari 2012

waktu aku muda (tulisan marah2)


JAMAAH PENGKHIANAT

AUF… (ana uhibbuki fillah, pen) di ujung sms. Mungkin gombal, tapi aku menyukainya, dan berdoa semoga kata penutup itu bukan sekadar di lisan saja. I love you dalam bahasa Arab itu sering kudapat dari pesan-pesan yang dikirimkan para akhwat, teman-teman luar rumah yang mengaku saudara. Meski tak begitu sering mengumbar kata cinta, tapi kuakui, aku pun sangat mencintai mereka.

Barangkali cinta yang terjalin di antara kami belum sepenuhnya dilandasi keikhlasan karena Allah. Terbukti, waktu mampu memilin dan kemudian mematahkannya. Tumpukan-tumpukan khilaf ternyata tak cukup hanya diusap dengan kata ‘afwan’.

Siang yang terik. Usai transfer ilmu pada para siswa di sebuah lembaga pendidikan, aku meluncur ke sekretariat salah satu organisasi. Menurut rencana, akan diadakan rapat agenda terdekat yang sebelumnya sempat ditunda hingga dua pekan karena jadwal pengurus tak kunjung klop. Tak beda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku datang lebih dulu dan mendapati sekretariat masih kosong. Padahal aku datang lewat setengah jam dari waktu yang ditentukan. Karena lapar dan mengantuk, tak ada daya rasanya untuk sekadar berdecak kecewa. Lalu setelah mengunyah cemilan yang kubawa, lelap pun menenggelamkan hingga beberapa menit lamanya.

Adzan Jumat dari masjid-masjid bersahutan terbawa angin hingga ke sekretariat. Aku terbangun. Kulirik jam di tangan, pukul 12.30. Masih sepi. Allah, ini sudah kesekian puluh-kalinya terjadi. Siapa pun tak mungkin menyukainya. Tapi bisa apa, mereka yang mengaku saudara itu ternyata tak merasa bersalah membuatku menunggu selama ini. Dua panggilan telepon yang kemudian masuk ke hand phone-ku bukannya mengobati kekesalan, justru sebaliknya. Keduanya malah bertanya, Sudah ada yang datang? Seolah aku yang mereka minta memimpin organisasi ini adalah umpan. Jika yang datang ramai, mereka ikut hadir. Jika tidak, dia tak perlu datang dan aku dipersilakan pulang.

Puluhan kali terjadi, aku menunggu hingga lebih dari satu jam! Rabb, aku mohon ampun jika kali ini tak mampu mendustai, bahwa aku benci mereka. Semoga untuk hari itu saja.

Lalu aku pulang. Sebentar lagi jam istirahat yang kukorup lebih awal akan habis. Bersama lapar, kutinggalkan sekretariat yang menjadi saksi: aku kehilangan keikhlasan.
***
Keikhlasan dapat hilang karena pujian yang berlebihan, ketiadaan penghargaan, dan respon yang buruk dari sekitar. Ini memang hanya analisa pribadi, tapi pengalaman dan pengamatan paling tidak bisa menjadi modal sebuah kesimpulan. Mudah-mudahan tidak keliru dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kadang tanpa sengaja, terhitung butiran peluh yang terkuras untuk sebuah amanah. Atas nama dakwah, segala keperluan pribadi terpinggirkan. Ketika mengerjakannya, sama sekali tak terpikirkan masalah upah. Hanya berdoa, semoga Allah ridha. Tapi apa lacur, tonggak-tonggak yang seharusnya bisa menjadi tempat bersandar, berbagi ide dan cerita, justru merebahkan diri dan pergi tak peduli. Bosan, kecewa, benci serta muak memenuhi dada dan kepala. Tak cukup satu dua hari untuk menyembuhkannya. Rasanya ingin lari. Pergi saja tinggalkan amanah itu! Toh tak ada yang peduli. Lagipula, tanpanya aku tak rugi, dan dengannya tak pula aku untung. Lalu aku futur….

Karena pengkhianatan mereka, aku pun berkhianat. Padahal ada banyak keputusan yang kami ambil bersama. Yang artinya, kami siap melaksanakan dan mempertanggungjawabkannya. Tidak hanya di sini, di hadapan anggota dan pengurus pusat, tapi juga di hadapan Allah kelak. Terserah bagaimana dengan mereka. Aku hanya berpikir, hujjah mana yang mampu kujadikan tameng atas kepemimpinanku akan diri dan amanah?

Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata dusta, bila berjanji ingkar, bila dipercaya khianat (HR. Bukhari & Muslim).

Muslim mana tak familiar dengan hadits di atas? Mengingat ucapan beliau (saw) itu, aku beristighfar berkali-kali agar tak memvonis siapa pun sebagai munafik. Bukankah orang-orang munafik adalah penghuni dasar neraka yang kekal di dalamnya. Na’dzubillah tsumma na’udzubillah.

Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji (HR. Ahmad).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS. Al-Anfal [8]: 27).

Ya, aku mengetahuinya ya Allah. Itulah sebab, kenapa aku kerap menangis karena takut berkhianat atas amanah yang Kau-pikulkan. Sementara Kau telah memberi segala fasilitas berupa kesehatan, kesempurnaan fisik, dan ketidakkurangan materi. Dan Kau pun memastikan kemampuanku berada di atas ujian yang Kauberikan. Tapi aku manusia yang berkumpul dalam jamaah manusia. Hamba-hamba yang lalai meski telah Kau-karuniakan kesehatan akal.

Tulisan ini adalah salah satu karya yang kubuat dalam keadaan marah. Aku menyukai tiap nada ketikannya yang deras meski tak beraturan. Ini bukan masalah karakter, marah pun berguna untuk mempertahankan izzah. Aku tak hendak memaki siapa pun, tak pula mencela diri yang kurang mampu memperbaiki keadaan sekitar. Semua sudah tercatat. Aku telah berupaya semampuku, sebagaimana dengan kesanggupan maksimal itulah manusia bertakwa. Soal hasil, biar Dia yang tentukan.

Semua kuserahkan pada-Nya. Aku mundur. Aku memilih berdiam, entah untuk sementara atau selamanya. Jika orang-orang sepertiku digolongkan sebagai dai yang gugur di jalan dakwah, maka pihak yang menjadi penyebab tentunya tak lepas dari bagian itu, karena mereka punya andil menggugurkan para dai dari jalannya.

Semua harus instrospeksi.

Memang tak selamanya semua berjalan lancar. Mungkin ini aral tempaan, proses pendewasaan bagi seseorang yang mengaku cinta Tuhannya, dan bersedia berkorban apa saja untuk-Nya. Maka, apalah arti sekadar berkorban perasaan.

Minggu, 26 Februari 2012

curhat online


Adalah sepasang suami istri. Ah, gosip… jangan cerita ke siapa-siapa ya. Ambil pelajaran saja, semampunya.
Mereka pasangan yang aneh bin ghoib! Si suami, paling hobi cerita harta mak-bapaknya. Ini kebunku, penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yg merah… halah! Pokoe perkebunan ortunya ada sekian hektar. Jadi keinget kata guru smp-ku dulu, Innal fata mayyaqulu haa anadza, wa laysa huwa mayyaqulu kaana abiy. Orang jentel itu bilang “ini aku”, bukan “ini bapakku”.
Kalo kumpul2, dia akan nginfoin jumlah penghasilannya tanpa diminta. Padahal suamiku gajinya 10 juta seminggu aja gak heboh2 tu. Kelak. Kekekek..
Aku pernah tersinggung berat pas ada yg bilang, “kita berkarya untuk Allah, populer itu belakangan.” Itu pas tulisanku mulai banyak dimuat. Astaghfirullah, ini ummahat kesayangan kenapa bilang begitu? Pake intonasi gak biasanya lagi. Emang kapan aku keranjingan pengen tenar. Ah sudahlah, buka koreng aja.
Tapi coba si ummahat nyemprot tu ikhwan ya, kan asik. Ngapain coba bangga2in titipan Allah. Apa susahnya Allah puter balik keadaan dia dg dhuafa paling dhaif. Astaghfirullah, istighfar lagi deh!
Sekarang istrinya. Kuasa Allah yg mempertemukan kami paling gak sepekan sekali. Uniknya, setiap aku dan kawan2 punya cerita, dia pasti selalu punya cerita yg sama. Tapi lebuay! Gak masuk akal sama sekali. Dibilang bohong, masak sih!
Satu lagi, kalau tausiah puanjang buanget (sekarang aku yg lebay). Kalo ada yg gak konsen, trus ngobrol2, langsung deh ditembaknya. Padahal mbok yo mikir, kita kan bosen.
Aku inget sebuah hadits, tapi gak tau level sanadnya. Perpendek tausiah, begitu bunyi haditsnya. Pengen sih nyampein itu ke dia, tapi khawatir dikira gak bisa dinasihatin. Pasrah!
Sekali lagi, jangan dibahas ya. Untuk koreksi aja, aku juga banyak cacatnya. Tulis aja di blogmu, trus suruh aku mampir ke sanaJ

 

Selasa, 21 Februari 2012

ketikan lama pas heboh2nya FPI di monas


KASUS FPI MENGUNTUNGKAN BANYAK PIHAK
Syarifah Lestari
(Aktivis Muslim)

Buntut dari penyerangan oleh Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas, lebih dari 50 orang anggota FPI diciduk Polda Metro Jaya. Berbeda dengan apa yang disampaikan pembawa berita Metro TV pada Rabu pagi, bahwa “Seribu lima ratus polisi menyerbu, dan laskar FPI menyerah tanpa daya”, nyatanya secara langsung stasiun-stasiun TV menayangkan bahwa Habib Riziq Shihab sebagai Ketua umum justru menyerahkan anggotanya secara baik-baik, dengan negosiasi yang sangat mudah. Sama sekali tanpa penyerbuan, apalagi perlawanan—sehingga tak perlu kiranya ditambah embel-embel ‘tanpa daya’. 

Lagi-lagi media yang berperan penting terhadap opini masyarakat melakukan ‘kekhilafan’ (saya beri kutip karena tak yakin ini sebuah ketidaksengajaan). Setiap hari ba’da tragedi itu, media massa, terutama Metro TV selalu bernada sinis dalam menyampaikan beritanya. Ia mendadak tak profesional dengan ketimpangannya menyampaikan informasi.

Sebenarnya tak hanya masyarakat awam yang menyayangkan tindakan FPI terhadap AKKBB, saya yakin para ulama dan aktivis Muslim pun berpendapat sama. Karena dengan demikian, Ahmadiyah justru mendapat angin segar. Bisa jadi masyarakat kemudian malah menaruh simpati pada mereka, seperti apa yang diupayakan Israel dengan dongeng Holocoustnya.

FPI mungkin lupa bagaimana Ali k.w menahan tangannya karena tak ingin melukai karena marah—seharusnya karena Allah. Apalagi pemerintah tak mau mengerti mengapa FPI marah pada AKKBB yang mendukung Ahmadiyah dan dimotori JIL (Jaringan Islam Liberal—sering dipelesetkan menjadi Jaringan Iblis Laknatullah—karena penyimpangannya tak kurang parah dari Ahmadiyah, dengan tidak mengakui keaslian al-Quran dan kerap mendukung aliran-aliran sesat berkedok Islam). Hal ini diperparah dengan ketidakimbangan informasi yang didapat masyarakat umum.

Media massa umumnya lebih suka menampilkan berita pengrusakan oleh FPI, tapi tak sekalipun mereka sudi meliput kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang pernah FPI gelar. Salah satu contoh, saat Tsunami menerjang Nangroe Aceh Darussalam. Belum lagi aparat dan bantuan pusat menempelkan ujung kakinya di tanah Serambi Makkah itu, laskar FPI dan kader PKS telah menggendong mayat dan mendirikan posko bantuan. Dijamin, berita ini tidak akan Anda temui di media-media besar. Stasiun-stasiun TV lebih suka mengabadikan adegan lempar kardus mi instan dari helikopter oleh bule-bule Amerika daripada men-shoot ketua MPR-nya yang mengangkat bangkai manusia dari puing-puing bangunan. Tak berbeda dengan media elektronik, media cetak pun lebih gandrung menjepret tentara-tentara kulit putih yang melemparkan bantuan dari udara daripada Habib Riziq dan pemuda-pemuda FPI yang bergumul dengan lumpur sementara lisannya penuh dengan dzikir.

Pun kalau memang lebih banyak sikap keras yang diperlihatkan FPI, coba perhatikan baik-baik benda dan tempat apa yang mereka jadikan target. Pernahkah FPI menyerbu gereja? Atau memorakporandakan fasilitas pendidikan dan kesehatan? Yang dihancurkan FPI adalah bar, warung remang-remang, tempat biliard, dan sarang maksiat lainnya.

Wajar jika alam menyerang Indonesia dari darat, laut, dan udara, karena kita benci pada kebenaran. Dan akan lebih besar lagi kebencian Pemilik Alam, jika dengan kasus FPI, pemerintah dan media kemudian sengaja menenggelamkan kasus foto syur anggota DPR dan kenaikan BBM yang terpaksa dilakukan demi menyelamatkan pengusaha.